SBY dan Boediono di Arab

Hari Senin biasanya di flat saya bangun satu jam sebelum shalat Fajr (Shubuh) karena sahur terlebih dahulu untuk shaum. Tapi hari ini bangun tepat waktu shalat dan bergegas ke masjid setelah mengepak barang-barang untuk dibawa kembali ke Dammam. Ya, hari ini jadwal kembali ke Dammam, setelah 3 hari dua malam dihabiskan di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh.

Pergi ke masjid untuk shalat shubuh di Arab Saudi adalah waktu yang paling saya senangi, meski kadang ditemani dengan rasa kantuk yang berat. Ini karena pada waktu itulah satu-satunya waktu yang paling sejuk di antara waktu lain, serasa di Tanah Air. Dan masjid di sini jauh berbeda dengan masjid-masjid di Indonesia; berkarpet tebal, ada pendingin udara, buku dan Al-Qur`an disediakan untuk dibaca, yang lebih spesial lagi, imam yang memimpin shalat rata-rata hafidz Qur`an dan bacaannya indah.

Shalat shubuh terakhir saya di Riyadh dilaksanakan di masjid persis samping Sekolah Indonesia Riyadh (SIR). Sekolah ini diperuntukkan anak-anak diplomat, staf lokal kedutaan, serta para pendatang dari Indonesia di pelbagai lapangan pekerjaan. Guru-gurunya berstatus PNS dikirim oleh Diknas (Departemen Pendidikan Nasional). Tentunya, mereka ini terpilih melalui seleksi dan bermukim bersama keluarganya di Saudi. Selepas shalat shubuh itu, saya dapat mengujungi SIR, karena seorang keponakan dari senior alumni Gontor yang akan mengantar saya ke stasiun kereta api sekalian menjemput beberapa siswa SIR di beberapa titik lokasi kota Dammam.

Masuk ke dalam kampus SIR, saya temui berbagai tulisan di dinding, papan pengumuman, plus majalah dinding siswa berbahasa Indonesia. Lebih masuk ke dalam, saya melihat-lihat kantor kepala sekolah dan ruang guru. Semua ruangan serasa padat dengan berbagai peralatan kantor dan ajar. Barang-barang kelengkapan kantor umumnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di kantor-kantor sekolahan, hanya yang menarik perhatian saya adalah foto Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan wakil presiden Boediono. Saya yakin kedua foto kepala negara dan wakilnya tersebut dibawa langsung dari Indonesia bersama figuranya. Kalau mencarinya di toko buku atau pasar di Riyadh, 100% saya percaya tidak akan ditemukan. Diunduh dari internet pun rasanya akan merepotkan ya…. Yang pasti, suatu yang asing di mata melihat foto 2 pria berkopeah tersebut setelah sekian lama mata terbiasa memandang foto-foto Raja beserta keluarganya dengan gutrah-nya, hidung dan kumisnya yang khas.

Ada beberapa cerita menarik tentang SIR ini. Meskipun berada jauh ribuan kilometer dari Indonesia, sekolah ini menggunakan kurikulum Diknas murni. Jadi, di tengah-tenah masyarakat membaca dan menulis Arab, para siswa SIR mendaras buku PpKn, fisika, biologi, matematika versi Indonesia. Yang saya dengar, hanya ada 12 sekolah Indonesia model demikian di seluruh dunia. Yang lebih heboh lagi, siswa putra dan putri bercampur layaknya SMP dan SMA di Tanah Air. Untuk mengingatkan, di Arab Saudi, aturan Islam diterapkan; sekolah dikhususkan untuk pria atau perempuan saja, tidak dicampur. Tidak hanya di sekolah, hijab, pembatas antara dua lawan jenis manusia juga banyak diterapkan di ruang makan restoran, ruang tunggu di stasiun, dan di tempat umum lainnya. Nah ini, SIR bercita rasa Indonesia “ashli dengan shod“. (perjalanan kereta api Riyadh ke Dammam).