Ada Apa Dengan Syi’ah?

Umat Islam di seluruh dunia selalu mengharapkan persatuan dan kesatuan tidak terpecah belah. Hal ini diperintahkan Allah ta’ala dalam firmannya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103). Di ayat yang lain Allah menyeru: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). Pertanyaanya, apakah bisa kita bersatu atas nama umat Islam sementara sekelompok yang mengaku muslim menghinakan ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan melecehkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum sementara kita menempatkan mereka di posisi yang mulia? Apakah dapat kita raih persatuan dengan sekelompok orang yang mengaku muslim yang mendoktrinkan jika tidak mengakui imam-imam mereka berarti musyrik dan kufur? Tulisan ini “oleh-oleh” dari pengajian triwulanan di kota Jubail, KSA, sekira 80 km dari kota tempat tinggal saya.

Sekelompok umat yang mengaku sebagai bagian dari Islam yang disinggung di atas adalah Syi’ah. Untuk mengetahui siapa sebenarnya Syi’ah, Syaikh Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man, ulama Syi’ah yang digelari “Al-Mufiid” (wafat 413 H) menjawab “pengikut amirul mukminin Ali radhiyallahu ‘anhu dengan alasan kepemimpinan dan keyakinan khalifah setelah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa pemisah, dan menafikan kekhalifahan sebelum Ali, dan menjadikannya sebagai akidah bahwa Ali bukan sebagai pengikut satupun dari mereka (khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum) .” (Awail Al-Maqolat fil Madzhahib Al-Mukhtarat). Kelompok Syi’ah ini juga dinamai “Rafidhah” sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Syi’ah sendiri, Al-Majlisi dalam kitabnya “Al-Bihar,” ketika bercerita kisah penolakan sekelompok orang terhadap Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyalahu ‘anhumaa kepada Zayd bin Ali bin Husain. Adapun jumlah kelompok Syi’ah sangat banyak, disebutkan dalam kitab “Dairotul Ma’arif” kelompok Syi’ah terbagi menajdi 73 kelompok yang terkenal. Seorang rafhidi Miir Baqir Ad-Dammad mengatakan bawah hadits masyhur tentang terpecahnya umat menjadi 73 golongan adalah kelompok Syi’ah, dan hanya ada satu golongan yang selamat, yaitu Syi’ah Imamiah.

Kejahatan Syi’ah Terhadap Umat Islam

Telah tercatat dalam sejarah bahwa kelompok Syi’ah banyak menorehkan kejahatan yang tak terkira kepada umat Islam. Di antara yang bisa ditelusuri dalam kitab-kitab sejarah adalah kesepakatan Khilafah Fathimiyah –yang kala itu berkuasa di Mesir dan menganut akidah Syi’ah– dengan tentara Salib untuk merebut wilayah Syam. Kedua, pembuka pintu kehancuran khilafah Abbasiyah yang ditandai keruntuhan kota Baghdad tidak terlepas dari peran Ibnu ‘Alqami dan Nashiruddin At-Thusi yang berakidah Syi’ah dan menjabat sebagai gubernur waktu itu. Ketiga, saat berdirinya Daulah Shafawiyah, tidak ada yang boleh hidup kecuali penganut paham Syi’ah. Siapapun yang berakidah Sunni diganjar hukuman mati. Dan keempat, pada era kontemporer dewasa ini, peran Syi’ah di Irak dan Afghanistan telah berkongsi dengan Amerika membantai umat Islam Ahlu Sunnah.  Termasuk pemberontakan “Al-Hautsiyin” tidak lain merupakan kelompok Syi’ah yang merongrong pemerintah Yaman.

Akidah Syi’ah yang Sesat dan Menyesatkan

Perbedaan mendasar antara Syi’ah dengan Islam, di antaranya lafadz syahadat yang ditambah. Al-Baqir berkata: “Ajarkanlah orang yang menghadapi sakaratul maut dengan syahadat laa ilaaha illah wal wilayah.” (Furu’u Al-Kaafii 1/24, Tahdzibul Ahkam 1/82-287). Yang dimaksud syahadat “al-wilayah” tersebut adalah lafadz “bahwa sesungguhnya Ali radhiyallahu ‘anhu waliyullah ta’ala” (Wasailu Syi’ah 4/103). Syahadat inilah yang diajarkan dan diulang-ulangkan di telinga kaum Syi’ah dan setiap setelah shalat mereka.

Sangat banyak perbedaan mendasar dalam akidah Syi’ah dengan umat Islam Ahlu Sunnah. Di antaranya lagi mereka berkeyakinan bahwa Allah bersatu dan menyatu seluruhnya dengan hamba-Nya (al-hulul wal ittihad alkulii). Dalam satu riwayat mereka disebutkan “… dan akan tetapi Allah bersatu dengan kita dengan sendirinya…” (Ushul Al-Kafi, juz 1/435).

Syi’ah menganggap ziarah ke makam para imam mereka lebih mulia daripada melaksankan Rukun Islam kelima dari Rukum Islam. Mereka mempunyai riwayat yang berbunyi: “Sesungguhnya menziarahi Abi Abdillah ‘alaihi wa salam sama dengan tiga puluh kali haji mabrur yang diterima Allah suci tak berdosa bersama Rasulullah shalalllahu ‘alaihi wa sallam.” (Tsawabul ‘Amal hal. 52, Wasailul Syia’ah 10/350-351). Perhatikan juga riwayat “Barang siapa menziarahi kuburan Al-Husain alaihi wa salam dicatat baginya 70 kali haji, dari haji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seumur hidupnya.” (Wasailul Syi’ah 10/351-352).

Yang lebih aneh dan tidak pernah ada dalam ajaran Islam, Syiah menganggap bahwa debu dan tanah di kubur Al-Husein dapat obat segala penyakit. Perhatikan perkataan imam mereka: “Sesunggunnya debu dan tanah kubur Al-Husein alaihi wa salam obat dari segala penyakit.” (Biharul Anwar 1/118-140). Riwayat lain di Amali Ath-Thusi (1/326): “Maka sesungguhnya didalamnya (debu dan tanah) obat segala penyakit, dan pengaman dari segala ketakutan.”

Kesyirikan Dalam Pandangan Syi’ah

Agama Islam adalah agama tauhid yang mengesakan Allah sebagai satu-satunya ilah yang patut disembah dan diibadahi. Dalam pandangan Syi’ah, syirik bukanlah menduakan Allah sebagai ilah dan Dzat satu-satunya yang disembah, tetapi siapa saja yang tidak mengimani imam Syi’ah sebagai amirul mukminin dan keuturanannnya memiliki kelebihan dari pada yang lain, maka dianggap telah musyrik (Biharul Anwar 23/390).

Dalam versi Syi’ah, firman Allah: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65), mereka menisbatkan kepada Abu Ja’far radhiyallahu ‘anhu berkataa bahwa yang dimaksud kalimat “Jika kamu mempersekutukan” adalah menyekutukan kemimpinan Ali sebagai kahlifah yang seharusnya setelah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka “niscaya akan hapuslah amalmu.” (Tafsir Furaat hal. 370). Syaikh Syi’ah, Abu Al-Hasan Al-Syarif berkata: “Sesungguhnya keterangan yang banyak terkait dengan penjelasan syirik kepada Allah dan syirik dalam ibadah kepada-Nya adalah syirik dalam al-wilayah dan al-imamah.” (Mir`atul Anwar wa Misykaatul Asyror hal. 202).

Iman kepada Allah ala Syi’ah

Beberapa kelompok Syi’ah telah meyakini bahwa Rabb pengatur alam semesta ini adalah imam-imam mereka. Kaum Syi’ah berdalil dengan perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu yang diklaim mengatakan: “Aku adalah Rabb bumi yang dengannya bumi berdiam.” (Mir`atul Anwar wa Misykaatul Asyror hal. 59). Mereka menafsirkan ayat: “Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.” (QS. Al-Kahfi: 87) dengan menyelewengkan makna “kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya,” yaitu dikembalikan kepada amirul mukminin. (Mir`atul Anwar wa Misykaatul Asyror hal. 59).

Lebih vulgar lagi, Syi’ah berani mengklaim sekaligus menyakini bahwa dunia dan akhirat semuanya adalah kepunyaan imam mereka, apapun yang terjadi atas keduanya merupakan kehedan para imam Syi’ah. Akidah ini disandarkan kepada sebuah riwayat dari Abu Bashir dari Abu Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Adapun yang telah kamu ketahui sesungguhnya dunia dan akhirat merupakan milik imam, dia menaruhnya atas kehendaknya dan memasukkannya kepada yang dia kehendaki…” (Ushul Al-Kahfi 1/409).

Para ulama Syi’ah mengatakan bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu merupakan bagian dari pada ketuhanan. Syi’ah menisbatkan kepada Ali radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “aku adalah bagian dari Rububiyah.” (Syarhu Ziyadah al-Jami’ah Al-Kubro, 1/70). Tidak keliru jika mereka kemudian juga meyakini bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu dianggap Tuhan yang dapat menghidupkan dan mematikan nyawa seseorang. Perhatikan diwayat yang Syi’ah karang: “Sesungguhnya dia (Ali radhiyallahu ‘anhu) telah menghidupkan seorang pemuda keluarga pamannya dari Bani Makhzum dengan melangkahkan kedua kakinya di atas kuburan pemuda tersebut, maka keluarlah si pemuda tersebut dari kuburnya. Dan dia (Ali radhiyallahu ‘anhu) menghidupkan orang yang mati di tanah dasar dengan mengumpulka mereka, dan dia (Ali radhiyallahu ‘anhu) memukul sebuah abut maka keluar dari seratus unta betina.” (Biharul Anwar: 41/194-198). Jadi, apakah tauhid tertinggi dalam pandangan ulama Syi’ah? Tidak lain mereka berkeyakinan bahwa Allah telah bersatu wujud dengan hamba-Nya. Bahwa keberadaan imam-imam Syi’ah adalah satu kesatuan dengan keberadaan Alalh ta’ala, dan ini merupakan puncak tauhid yang diyakini Syi’ah sebagaimana yang diajarkan dalam kitab-kita mereka. (baca: Jami’u Sa’adat hal. 132-133, kitab yang dikarang syaikh Syi’ah, Mahdi bin Abi Dzar An-Nuroqi, wafat 1209 H).

BERSAMBUNG, in syaa Allah…..

3 thoughts on “Ada Apa Dengan Syi’ah?

  1. Ping-balik: Doa Qunut Sang Imam « Membaca & Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s