Jika Datang Hari Kamis

Jika datang hari Kamis, ada suasana berbeda yang aku rasakan. Sebagaimana maklum, di negeri Islam seperti Arab Saudi ini, Kamis dan Jum’at adalah hari libur untuk pegawai negeri. Beberapa kantor swasta pun menerapkan 5 hari kerja perminggu. Tapi kantorku tetap buka hingga 3/4 hari, alias tutup waktu adzan Isya, jika di hari biasanya hingga pukul 9.00 pm.

Yang berbeda di hari Kamis, akupun tidak begitu mengerti apa nama perasaannya. Gambarannya seperti ini; hati terasa hampa, serasa ada yang aku rindukan. Tapi keduanya sangat abstrak, sulit kuterjemahkan dengan kata-kata. Tetapi juga, sering terbesit kerinduan kepada anakku, Muhammad Fakhri Al-Ilmi. Kerinduan untuk berkumpul bersama. Juga rindu kepada seseorang sebagai tempat berlabuh berbagi rasa, cinta, dan kasih…..

Di hari Kamis juga, kadang suasana Tanah Air yang jauh berbeda dengan di sini cukup kurindukan. Rindang pohon dan hijaunya daunnya, ramainya penjual kaki lima, mobil dan motor yang bising nan berasap, lalu lintas anak-anak sekolah pergi atau pulang sekolah, suara tukang bakso atau es mengetuk kentongan atau mangkoknya, hingga penjual rokok dan air kemasan di perempatan jalan raya. Semua yang tak kutemukan di sini terasa ingin melihatnya. Meskipun, aku pikir, kalau sudah melihat ruwet dan kumuhnya lingkungan di Indonesia, aku merasa tidak tega dengan kondisi rakyat kebanyakan di negara kaya raya alamnya nan indah seperti Indonesia.

Di hari Kamis akhir pekan menjelang libur satu hari mingguan di hari Jum’at, aku juga selalu ingin menyempatkan puasa sunnah meneladani Rasulullah saw. Selain shaum Senin-Kamis, shaum tiga hari di tengah bulan (Hijriyah) adalah keinginanku selalu saat tiba waktunya. Betapa nikmat dan puas dahaga rohani ini jika berhasil melakukan rutinitas ibadah tersebut. Hanya sayangnya, di musim panas, niatku itu selalu gagal terlaksana. Musim panas di sini, waktu siang jauh lebih lama dari malam hari. Bayangkan, adzan shalat Shubuh, seperti saat ini, adalah jam 3 am. Sementara bedug maghrib jatuh pada jam 6 sore lebih sedikit. Waktu siang sebenarnya bisa aku tahan perut untuk puasa dan puasa lainnya, tapi bangun untuk sahur sebelum jam 3 dini hari cukup berat bagiku mengingat runitas kantorku yang baru bisa beranjak ke ranjang tidur rat-rata tengah malam. Tapi, apabila tiba musim dingin, alhamdulillah, selain waktu siang cukup pendek, lapar dahaga pun tidak berasa kecuali sangat sedikit sekali.

Di hari Kamis juga, biasanya aku sempatkan bermain silaturrahmi ke teman orang Indonesia yang ada merantau di kota ini. Untuk itu, aku kadang rela menyisihkan riyal guna ongkos taksi atau makan-makan bersama. Dua nilai yang aku ingin dapatkan dengan acara seperti itu; ibadah silaturrahmi dan salah satu sarana refreshing dari rutinitas kantor setelah seminggu penuh. “Zur gibban tazdad hubban,” kata Rasululullah shallallahu’alaihi wa sallam, “kunjungi saudaramu jarang-jarang maka niscaya bertambah kecintaan.” Refreshing sebagai waktu istirahat pun hakikatnya tidak nihil dari satu pekerjaan sama sekali, karena hakikat istirahat dalam kamusku adalah “tabaddulul ‘amal,” pergantian pekerjaan. Jadi, saat berkunjung di tempat orang Indonesia tadi, bukan sama sekali diisi senda gurai semata, karena aku sempatkan pula untuk membagikan buletin dan diskusi berita-berita aktual, agama atau kejadian di Tanah Air.

Di hari Kamis, aku juga selalu berpikir, merenung, menghayati hidup; mengevaluasi yang telah lalu dan merancang masa yang akan datang. Libur satu hari seminggu bagiku, sebagai starting point untuk memperbaiki diri mingguan. Kualitas ibadah, penjagaan lisan, amal perbuatan dan semuanya yang akan dimintai tanggung jawabnya kelak di akhirat, harus terus aku perbaiki. Meski, iman ini kadang turun melemah terkadang naik menguat. Melemah karena maksiat dan menguat disebabkan taat kepada Allah.

Itulah hari Kamis kemudian Jum’at kembali Sabtu dan rutinitas kita berdaur ulang terus menerus hingga ajal yang pasti datang menjemput kita, entah kapan, entah saat di mana. Ya Rabbi, kumpulkan aku bersama orang2 yang kucintai di surgaMu kelak….. Ya Allah, Ya Tuhanku, aku tidak layak ke surgaMu tapi aku tidak akan tahan siksa nerakaMu. Dosaku laksana pasir, terimalah tobatku dan ampuni dosaku. Jika bukan Kau yang mengampuni, kepada siapa lagi selainMu…….

“Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semua itu akan diminta pertanggungjawabanNya.” (QS. Al-Isra: 36)

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s