Di Atas dan Untuk Semua Golongan

Salah satu amanat Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) kepada alumninya adalah agar menjadi orang yang mampu berdiri “di atas dan untuk semua golongan.” Asas ini kemudian diartikan berbeda-beda oleh masing-masing alumni pasca keluar dari almamater Gontor. Hatta, sebagian alumni PMDG berpendapat bahwa ini merupakan bentuk pendidikan Gontor yang mendidik santrinya untuk merangkul semua golongan, meskipun sesat dan menyesatkan. Benarkah ini pendidikan untuk pluralisme?

Selain terma pluralisme, isme dari Barat yang dipaksakkan masuk ke ranah pemikiran Islam adalah sekularisme, liberalisme dan inklusivisme. Sebagian tokoh menyebutnya dengan singkatan sepilis (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme), mirip nama penyakit kelamin. Munculnya pluralisme di Indonesia, ditandai dengan munculnya buku-buku yang mengusung paham bahwa semua agama adalah sama benar, sama-sama benar semuanya, ini dikarenakan semua agama mengajarkan kebajikan. Selain buku-buku, artikel lepas di media massa, seminar dan riset, hingga kurikurulum di lembaga pendidikan Islam digalakkan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri, melalui komisi fatwanya telah mengharamkan paham ini. Salah satu dampak dari paham ini adalah skeptimisme teologis yang berujung kepada runtuhnya syari’at agama.

Sementara pesan Gontor agar alumninya menjadi perekat umat atau berdiri di atas dan untuk semua golongan tidaklah “muthlak” (tanpa prasyarat) umat ataupun golongan apapun. Dalam beberapa ceramah yang disampaikan Pimpinan Pondok Modern Gontor terkait dengan motto-motto yang sejenis di atas, bahwa umat atau golongan yang hendak direkatkan dan dinaungi adalah yang benar berjalan di atas rel agama Islam. KH. Imam Badri (alm), Pimpinan Pondok Gontor, dalam beberapa kesempatan mengatakan bahwa golongan pencuri dan penjahat bukan termasuk di dalamnya. Ini mengiyaskan, bahwa kelompok Islam di luar akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah golongan di luar semangat motto Gontor tersebut. Untuk golongan atau ummat semacam ini yang diberlakukan adalah sebagai objek dakwah agar kembali ke jalan yang lurus.

Terkait dengan motto di atas, adalah Panca Jiwa Pondok Modern yang terakhir “berpikiran bebas”. Berpikiran bebas di sini ternyata “muqayyad” (terikat) dengan syarat harus berpengetahuan luas lebih dahulu. Bukan tanpa sengaja Panca Jiwa ini diurut sedemikian rupa, tapi memang benar-benar disusun sebagai panduan hidup santri di masyarakat kelak. Karena dengan pengetahuan yang luas, diharapkan tidak menjadi liar dengan kebebasan berpikirnya. Misalnya, dalam Islam, kebebasan yang diperbolehkan adalah dalam memilih madzhab fikih, bukan firqah akidah. Karena bagi yang cukup pengetahuannya, tidak akan terjerumus ke dalam akidah yang salah, meski bermodal berpikiran bebas. Demikian pula gaya hidup, pola ekonomi, dan seterusnya, benarkita bebas memilih di atas sebuah ilmu (agama).

Tetapi jika kita lihat di tengah masyarakat, ternyata tidak mudah mengejewantahkan motto dan Panca Jiwa Pondok Gontor di atas. Yang lebih rumit lagi, menghadapi sesama alumni Gontor yang satu perguruan, satu ilmu, tetapi beda memahaminya. Sebagian alumni Gontor berusaha menjadi perekat umat, di atas dan untuk semua golongan, serta mempratekkan berpikiran bebas, tetapi sayang, golongan yang diayomi tergolong sesat dan menyesatkan, umat yang ingin dirangkul beda tujuan, juga berpikiran bebas yang kebablasan tanpa ilmu. Wallahu’alam bish showwab.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s