Hari-hariku Sebagai Mahasiswa

Saturday, July 30th, 2005

JIKA datang hari Kamis, selalu datang perasaan yang berbeda. Setiap hari di akhir pekan tersebut, saya berpikir keras agar majalah dinding (mading) milik Fakultas Ushuluddin (FU), Fokus ini terbit di hari Jum’atnya. Untuk itu, terkadang sudah saya mulai mempersiapkan materi tulisan yang akan diterbitkan semenjak hari Ahad atau Senin. Kadang, ada banyak ide dalam pikiran ini untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Ketika masa tersebut datang, bak air mengalir, jari-jari ini menari-nari indah di atas keyboard komputer, menulis kata demi kata. Tetapi permasalahan kadang hadir di tengah-tengah merangkai kalimat dalam satu kerangka judul. Kalau sudah macet di tengah menulis, rasanya ingin sekali lari dan mencari kesibukan lain.

Fokus, singkatan dari Forum Komunikasi Ushuluddin. Mading kebanggan mahasiswa FU yang ada di Kampus Al-Azhar ini (meski mungkin cuma saya saja yang punya perasaan ini), diadopsi dari mading mahasiswa FU di Siman dengan nama yang sama. Ketika berkunjung ke Siman, saya tertarik dengan perwajahannya dan tema-tema rubrik yang diusung. Maka, ketika itu dengan Topan, saya mengusulkan agar nama Fokus dijadikan trade mark bagi mading FU di empat kampus ISID. Topan tidak keberatan, dan beberapa waktu kemudian saya kirimkan bentuk dasar wajah (master) ke Kampus Kediri dan Mantingan dengan harapan mereka sepakat dan mendukung.
Saya tidak tahu bagaimana perkembangan mading Fokus di tiga kampus lainnya selain di Kampus Al-Azhar Gontor. Di Al-Azhar, mading FU pada awalnya terbit sebagaimana mading fakultas lain yang hanya sekedar memenuhi program kerja Dewan Mahasiswa (Dema) dalam rangka perlombaan. Ketika itu, mading FU masih bernama Ushuluddinklikdotcom, nama yang cukup “melelahkan dan boros” (panjang). Meski terbit dengan tergesa-gesa tanpa idealisme sedikit pun (semua tulisan dinukil dari internet), Zolo dan In’am, kakak kelas saya yang menangani mading tersebut dapat menyabet juara pertama.

Nama Ushuluddinklikdotcom untuk sementara waktu di tahun 2002, saya pertahankan seabagai identias mading FU. Mengurusi Ushuluddinklikdotcom tidaklah mudah sebagaimana yang sudah saya prediksikan. Bayangkan, dengan ukuran mading sebesar triplek “selonjor” tanpa dipotong, harus terbit mingguan. Tapi karena ketidakmampuan membagi waktu dengan kesibukan lain, maka Ushuluddinklikdotcom mampu terbit dwimingguan.

Memang, ketika itu mading Ushuluddinklikdotcom masih didominasi tulisan bukan karya asli mahasiswa FU ISID. Saya sangat beruntung dapat bersentuhan dengan dunia maya internet. Terutama, menjadi anggota milist gontorians. Dari milist tersebut, saya banyak mengambil artikel yang aktual.

Dan bersyukur pula, ada satu rekan satu jurusan, Franky, nama tenarnya, setia membantu danmenemani untuk “sekedar” menempelkan artikel-artikel setelah diedit dan di-lay out. Kami sering bermalam-malam, bahkan hingga menjelang shubuh untuk merampungkan pekerjaan yang tidak ada perintah atau tekanan dari siapapun.

Waktu berlalu, setelah setahun Ushuluddinklikdotcom bisa konsisten, kemudian nama secara sepihak, saya rubah dengan Fokus, sebagaimana prosesnya saya terangkan di atas. Pertama kali Fokus muncul, saya ikuti bentuk perwajahannya seperti pionirnya di Siman. Ini termasuk nama rubrik, jumlah halaman dan tete bengek lainnya. Plagiatisasi tersebut bertahan setengah tahun saja. Karena, jika terus menerbitkan (sendirian) mading Fokus dengan 16 halaman perminggu, dengan beban tulisan yang bisa Anda bayangkan, bisa-bisa setiap malam saya tidak akan berpikir bagaimana persiapan mengajar KMI di pagi hari atau apa yang semestinya saya kerjakan sebagai kewajiban di kantor IKPM. Saya harus pandai-pandai mengatur waktu antara mengajar di KMI, menjadi staf IKPM, tapi tetap mempunyai idealisme sebagai mahasiswa yang tidak bisa lepas dari dunia intelektual-ilmiah; tulis menulis, diskusi dan seterusnya.

Maka, dengan segala pertimbangan, saya memutuskan untuk menerbitkan Fokus dengan perampungan rubrik dan jumlah halamannya. Untuk itu, saya belajar lagi ke Kampus Siman bagaimana membuat kerangka mading yang kuat, menarik, dan mampu menanganinya (sendiri). Akhirnya, dengan bentuk masih cukup menarik, membutuhkan “hanya” 6 halaman saja, dan bongkar pasangnya saya yakini paling praktis daripada mading milik fakultas lain.

Untuk konsisten menerbitkan yang se-sedehana itu saja, saya masih kerap menemui banyak kendala. Kendala yang utama adalah bahwa mading Fokus itu menamakan FU. Dalam hal ini, struktural yang ada dari Dekan hingga Ketua Departemen Kefakultasan dan para anggotanya (seharusnya) mempunyai sense of belonging. Rasa memiliki ini wujudnya bisa bermacam-macam. Yang mempunyai kelebihan menulis cerpen misalnya atau berpikir serius ala filosof, semestinya ikut menyumbangkan karyanya di Fokus ini. Tetapi mencari tipe mahasiswa-guru yang seperti ini sangat sulit sekali —kalau tidak mau dikatakan tidak ada. Ini bukan tanpa fakta, semenjak menjadi mahasiswa semester pertama, dengan Ust. Sya’roni, Lc., saya diajak bergabung dalam penerbitan buletin Pusaka untuk “mengompori” mahasiswa-guru untuk menggalakkan dunia tulis menulis. Satu setengah tahun menerbitkan Pusaka —semenjak butuh pengakuan sampai akhirnya kini diakui sekaligus menguntungkan secara finansial— saya mengalami kendala menemukan penulis yang mau menyumbangkan tulisannya untuk diterbitkan. Sama halnya ketika merintis terbitnya kembali majalah Himmah, mengisi halaman majalah bertebal 60 lembar itu, sulitnya luar biasa, sampai-sampai dead line itu seperti angin lalu saja. Terakhir, angket riset yang saya sebar hasilnya mendukung fakta tersebut. Hanya 6 mahasiswa-guru saja yang mengaku rajin menulis dan 42 yang lain frekuensi menulisnya lebih rendah. Jadi, inilah sebenarnya inti permasalahan terbesar dalam dunia penerbitan mading, buletin, majalah atau yang sejenis di Kampus Al-Azhar Gontor.

 

Menyinggung hal di atas, saya teringat justifikasi Ust. Sya’roni, Lc. Dia berpendapat, keberadaan mahasiswa-guru di Gontor yang multi-fungsi sehingga tidak dapat menyisikan waktunya untuk kegiatan tulis menusil. Alasan ini bisa jadi diterima secara empiris, tetapi pada tataran ideal, sungguh sangat ironis. Karena menurut saya, membaca dan menulis adalah kebutuhan yang tidak dapat dipungkiri sebagai sosok mahasiswa, terlebih seorang guru. Jika hal ini dikaitkan dengan bakat dan potensi diri, nyatanya seorang mahasiswa misalnya, tidak bisa menghindari dari tugas paper atau hingga skripsi, sebagai tugas akhir mahasiswa untuk meraih gelar sarjana. Jadi, membaca sebagai “input” dan “out put”nya dengan menulis hal yang mutlak.

Sense of Belonging terhadap mading Fokus sebenarnya dapat pula ditunjukkan dengan keikutsertaan dalam “kerja lapangan.” Yang saya maksudkan, karena Fokus berbentuk mading yang formatnya seperti koran dengan menggabungkan empat lembar kertas HVS, maka perlu tenaga untuk menggunting, menempelkan perbagian, dan memasangnya di dinding Gedung Al-Azhar. Hal seperti ini pernah dikerjakan Franky (konon dia tidak senang dengan laqab ini, mohon maaf, hanya sekedar untuk lebih akrab), kawan sejurusan yang saya ceritakan di atas tadi.

****

Sebenarnya kasus yang saya alami tidak hanya terjadi pada Fokus, milik FU. FokusI hingga kini terus terbit perminggu dan mencapai edisi ke-15, di saat mading milik fakultas lain hanya bertahan beberapa kali edisi. Saat ini, setelah diangkat menjadi Sekretaris Departemen Diskusi dan Riset Dewan Mahasiswa (Depdiris Dema), saya malah asyik kerja untuk Depubkom (Departemen Publikasi dan Komunikasi) yang menangani penerbitan Dema Pos. Dema Pos sebenarnya sudah digagas di kepengurusan tahun lalu, saat saya “menyepi” di IKPM. Tetapi saat itu pula belum pernah terbit satu kalipun (No Action Talk Only). Kini, alhamdulillah, setia Senin pagi, mahasiswa-guru KMI dapat membaca olahan berita yang saya edit dari Darussalam Pos (media milik santri KMI), artikel aktual, hasil dialog interaktif Depdiris Dema, dan laporan riset Depdiris. Lagi-lagi, itu semua saya lakukan sendiri, single fighter.

Dulu saya pernah mengira bahwa terdapat kesalahan manajemen sehingga tidak dapat sharing of job dengan kawan lainnya. Tapi ternyata itu tidak terbukti, yang tepat harus diakui permasalahan seperti pada Fokus di atas tadi. Dan, betapapun bentuk struktur untuk berbagi peran atau tugas, kenyataan di lapangan selalu bertumpu pada sebagian orang. Ternyata kenyataan ini bukan hanya monopoli dalam dunia tulis menulis atau publikasi (jurnalistik). Secara empiris, saya dapat membuktikan, kepanitiaan yang banyak dibentuk dapat berjalan efektif kecuali jika ada social power, meminjam istilah Suhartono. “Aladzi ya’mal”, tidak jauh dari bagianyang vital seperti ketua, sekretaris, dan bendahara serta beberapa gelintir orang yang punya etos kerja tinggi yang biasanya dari kawan-kawan yang duduk di “kelas bawah” (saat KMI). yang saya maksudkan social power tadi adalah “kekuatan” yang mengatur dari up to down. Dalam hal ini adalah intstitusi seperti Bagian Keamanan dan Pengasuhan Santri bagi anggota dan pengurus OPPM atau KMI di bidang pendidikan dan pengajaran selama masuk kelas. Jadi, kembali ke dunia tulis menulis, butuh kesadaran individu (individual power) untuk menghidupkan penerbitan mading dan sejenisnya. Untuk mencapai tahap ini, banyak rekan-rekan yang menyadari hal ini, sepakat itu merupakan hal yang utopis, mustahil terwujud dalam kondisi mahasiswa-guru di Gontor.

Sebenarnya, jika mau menyelami makna filosofis yang menjiwai kehidupan di Gontor, sebenarnya sangat mendukung untuk kegiatan keilmiahan. Bahkan dari segi fasilitas saat ini, mahasiswa-guru tidak akan mengalami kerepotan dengan menfaatkan yang ada —tentunya dalam konteks ketergantungan, tidak mandiri seperti kantor redaksi Fokus dan buletin Ushuluddin di kantor IKPM. Lebih penting lagi, saya ingin mengutip semangat perjuangan The Founding Father, KH. Imam Zarkasyi untuk menyebarkan ilmu. Beliau berazam: “Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar, yang satu ini sama dengan seribu. kalaupun yang satu inipun tidak ada, aku aklan mengajar dunia dengan pena.” Kata “pena” tersebut jika ditafsirkan dengan perkembangan mutakhir bisa jadi tidak hanya menulis, tapi termasuk media massa; elektronik maupun cetak. Sebagaimana pesan Dr. Yusuf Qardhawi: “Dulu Eropa dibebaskan dengan pedang, kini akan dibebaskan melaui pena.” Bagaimanapun, dari menulis peradaban manusia terbentuk dan maju seperti sekarang ini. Manusia yang hidp di zaman modern ini tidak akan berhasil mencapai kemajuan seperti ini jika tidak mengutip warisan-warisan ilmuwan terdahulu. Bagi kita ummat Islam, tentunya masih ingat sejarah kelam terusirnya ummat Islam dari Cordova dan khazanah keilmuannya dicuri oleh Eropa. Di Baghdad, kota 1001 malan yang kini dijajah AS dan sekutunya, beribu-ribu buku di perpustakaan musnah diberangus tentara Mongol. Ummat Islam pada masa itu mencapai zaman keemasannya sebagai kekuatan tunggal yang menguasai dunia. Karena di saat itulah ilmu pengetahuan yang disebarkan, diajarkan dan seterusnya, tidak lain adanya budaya menulis yang tinggi.

Ust. Nasrullah pernah menulis demikian: “Sekitar 12 tahun yang lalu markas Tabloid Monitor dihancurkan, karena selalu menampilkan gambar-gambar wanita yang eksploitatif dan dianggap menghina agama Islam, kerena pooling pendapat yang menyesatkan. Akibatnya kemudian, tabloid itu diberedel dan Arswendo Atmowiloto, sang arsitek, dipenjarakan. Tapi, beberapa tahun kemudian, sebelum Arwsendo keluar bebas dari rumah penjara, tabloid-tabloid serupa justru timbul lebih marak, dan dengan gambar yang lebih berani. Aneh, tak ada reaksi seperti sebelumnya. Malah, ketika Arswendo kemudian keluar bebas dari rumah penjara, diciptakannya tabloid-tabloid baru yang segmen pasarnya meluas, mulai anak-anak hingga dewasa.

Beberapa tahun yang lalu juga dilakukan sweeping dan pemusnahan buku-buku beraliran “kiri” oleh para pemuda Islam Tak pelak lagi, sejumlah buku yang berbau sosialis, komunis, marxis dan lain sebagainya, menjadi sasaran sweeping itu. Lantas terlintas pertanyaan, seberapa efektifkah langkah nahi munkar seperti itu? Bukan berarti sama sekali tidak setuju, tapi langkah tersebut, tidak sistematis dan metodologis. Para da’i (yang melakukan sweeping) tidak memahami bahwa sweeping hanya bersifat lokal, sementara di tempat lain, buku-buku itu masih bisa dengan leluasa ditemukan. Belum lagi, kalaupun semua buku itu dirampas dan dibakar, penerbit dan percetakan buku itu masih sanggup kembali mencetak dan memperjualbelikan buku tersebut. Kalaupun percetakannya dibakar, masih ada percetakan yang lain. Seperti dulu pernah dilakukan secara resmi oleh pemerintah, ketika melarang buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer, bahkan dilakukan secara resmi oleh pemerintah melalui kajaksaan agung. Namun, apa yang terjadi kemudian, buku-buku Pramoedya justru diterjemahkan oleh orang lain dan dterbitkan di Negeri Belanda. Malah kemudian, ada yang mengusulkan agar Pramoedya dihadiahi Nobel dalam bidang sastra.

Almarhum KH. Imam Zarkasyi pernah bersumpah, bahwa jika muridnya berkurang satu demi satu, bahkan jika sama sekali tidak ada, beliaupun akan mengajar dunia dengan tankai pena. Namun, santrinya tidak jadi habis, bahkan sampai kini terus bertambah dan beliau juga tetap menulis. Sejumlah buku hasil karya tangkai penanya diterbitkan dan dipergunakan bukan saja di Pondok Modern Gontor pusat, melainkan di semua pondok cabang dan pondok alumninya yang berjumlah lebih dari 100 itu.

Beberapa cerita diatas seharusnya bisa menjadi bahan renungan kita bahwa betapa menulis masih belum menjadi pilihan metode para da’i maupun mubaligh kita. Padahal, menulis merupakan sarana dakwah yang sangat efektif dan efisien. Sekali menulis, bukan hanya banyak orang yang membaca melainkan juga akan bisa lebih lama dinikmati. Jika hari ini KH. Zainuddin MZ berdakwah di Ponorogo dan kita tidak hadir, jelas kita akan merugi karena tidak dapat menikmatinya, suara dan kelakar Betawinya yang khas. Namun, tidak demikian bila dakwah dilakukan melalui tulisan. Tidak perlu seseorang datang begitu jauh untuk mendengarkan ceramah, cukup diam di rumah sambil membaca buku atau media massa.

 

Banyak manfaat yang dapat dipetik dari dakwah bil qalam. Bagi da’i, pemilikan wibawa dan kemampuan berbicara dengan intonasi khas, amat sulit dilakukan jika memilih alternatif dakwah bil lisan, tak demikian bila dibandingkan dengan menulis.

Karena dapat dibaca kapan saja, menulis juga dapat memperpanjang usia penulisnya, demikian kata KH. Imam Zarkasyi selanjutnya. Meskipun antara penulis dan pembacanya tidak sedaerah atau selokasi, keduanya dapat bertemu dan berkomunikasi secara akrab lewat tulisan. Betapa kita bisa akrab dengan Prof. Hamka jika membaca buku Ghirah-nya, atau berguru tassawuf kepada al Ghazali lewat buku Ihya Ulumuddin-nya, serta mengenal lebih dekat pemikiran Ibnu Khaldun dengan membaca Mukadimmah-nya. Faktor usia, jarak tempat, dan bahkan rentang waktu tak lagi menjadi penghalang dakwah lewat tulisan. Dan yang terbesar, kita bisa intens berkomunikasi dengan Allah, ketika kita membaca surat-surat cintaNya, dalam kitab suci Al Qur`an.”

Jadi, sebenarnya saya kadang terpancing untuk bertanya, di mana teman-teman, terutama mereka yang telah berhasil secara akademik-formalitas sebagai sarjana. Apakah 24 jam telah dihabiskan untuk mengajar di KMI? Untuk kewajiban di kantornya? Atau justru terlalu larut menonton teve (siaran langsung bola atau film), ngulo, dan seterusnya?

****

Sebenarnya saya ingin meyudahi tulisan ini, tapi masih ada yang terlewat dari refleksi ini. Di atas saya menyebutkan ada buletin Ushuluddin. Buletin ini, sejarahnya cukup unik dan dramatis. Ketika saya dengan berani mengundurkan diri dari kursi Wakil Pemimpin Redaksi di majalah Himmah —padahal saya adalah orang yang paling cerewet untuk kembali menerbitkan majalah tersebut— saya menjadi bingung. Bingung, karena tekad awalnya pasca pengunduran diri tersebut ingin berhenti total dari aktivitas yang kadang menyedot larut malam-malam saya itu. Tetapi, ternyata tidak bisa, dan nasi telah menjadi bubur. Untuk meramunya menjadi “bubur ayam ala Aa Gym,” maka terbitlah buletin Ushuluddin. Nama tersebut “terpaksa” menjadi identitas buletin perdana dalam sejarah yang diterbitkan oleh fakultas di ISID karena ketika itu tidak ada ide atau nama yang tepat. Maka, buletin Ushuluddin tidak lebih dari “pelarian” (escape) saya.

Seingat saya, pada awalnya, atas kesepakatan bersama Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (SMF-U, sebelum diganti dengan Departemen Kefakultasan Ushuluddin, DKU), Irfan Wahyuni, kami ingin menerbitkan buletin yang mandiri. Mandiri terutama dalam pembiayaannya. Maka pada awalnya ada estimasi biaya dengan koswekuensi merogoh kocek mahasiswa FU. Tapi, “kemandirian” tersebut hanya berlangsung satu edisi, karena begitu dibagikan kepada seluruh mahasiswa FU, Dekan FU, Drs. Nur Hadi Ihsan, MA., dengan semangatnya mendukung total. Maka tidak lama, ada pungutan biaya permahasiswa FU, bahkan dijadikan syarat ujian sebagai bukti pentingnya media seperti buletin tersebut. Bahkan “dengan terpaksa,” buletin tersebut dibagikan ke semua kampus ISID di Mantingan, Kediri, dan Siman. Perjalanannya, lagi-lagi (dengan sangat ironis), kasusnya tidak jauh berbeda dari apa yang saya tangani di atas.

Ada juga “Selected People”, buletin yang saya gagas bersama Mahmudi, di Gontor II. Kami berniat untuk “menunjukkan gigi” keminoritasan kami di jurusan Akidah dan Pemikiran Islam (API). Dengan semangat selected people tersebut, kami berenam di jurusan API kampus Al-Azhar juga ingin independen dan mandiri dengan penerbitan tersebut. Tapi, Ketua Jurusan API, Ust. Sya’roni, Lc., membuyarkan itu semua. Dia bawa ke rapat fakultas antar dosen, dan akhirnya diminta untuk diterbitkan sebagai buletin triwulanan atas nama FU, bukan jurusan yang kami cita-citakan. Hingga dua edisi saja kami terbitkan karena persoalan “identitas-idealisme” tersebut.

Perlu juga dicatat, penerbitan buletin Ushuluddin dan Selected People, membuahkan “kecemburuan” luar biasa dari rekan-rekan di fakultas lain di Kampus Al-Azhar. Saya katakan “kecemburan” bermakna positif dan negatif. Pertama yang positif karena setelah itu muncul tenyata diikuti dengan penerbitan-penerbitan buletin lain dari Fakultas Syari’ah (FS) dan Tarbiyah (FT). Bahkan, “kekuatan” mereka seperti FS kadang menyiutkan nyali saya yang single fighter. “Kecemburuan negatif” yang datang dari rekan beda fakultas ketika menyoroti tulisan pada edisi perdana buletin Ushuluddin. Dengan mengangkat tulisan dari transkrip caramah Dr. Komaruddin Hidayat, yang bertesis minimnya minat mahasiswa mendaftar di FU; karena memang tidak diminati atau mereka yang memilih adalah selecetd people, membuat kebakaran jenggot aktivis FS dan ST. Bahkan sempat diangkat menjadi “isu nasional” saat Muker Dema Wilayah Gontor. Secara tidak ilmiah dan etika yang biasa terjadi dalam dunia jurnalistik, mereka “mengadili” ketua SMF ketika itu. Nama buletin API, Selected People juga dihujat. Ada yang menyamakan mahasiswa API seperti paham Hitler yang lebih meyakini ras Aria lebih unggul sehingga bangsa lain harus dimusnahkan. Dan berbagai kritik deskruktif lain yang menggambarkan mahasiswa API di Al-Azhar rasis, subhanallah.

****

Entah berapa lama saya akan menulis jika tidak diakhiri secepatnya. Masih terlalu banyak yang belum terungkat di sini. Saya ingat percakapan bersama dengan Hakim (kini dia FT) ketika ada pengukuran baju dan celana pasca pemanggilan untuk mengabdi di Gontor ini. Saya ingat betul, untuk menghidupkan dunia yang kini saya seperti single fighter ini. Rasanya tidak salah ketika saya tulis pengantar pada edisi perdana buletin Ushuluddin; “bermula dari keprihatinan kami, kurangnya wadah tulis-menulis dan keilmiahan di kalangan mahasiswa ISID, kami berinisiatif dengan buletin ini. Keprihatinan kami termotivasi lagi dengan kesan dewasa ini, betapa banyak “orang pintar miskin karya”. Kami sangat sadar pula, bahwa diri kami masih sangat hijau dalam mendulang ilmu, katakanlah inilah wujud penyaluran hobi dan kreativitas yang barangkali dengan ini, bisa menjadi semacam batu pijakan untuk menjadi “orang pintar kaya karya”, semoga!!!

Kepada Allah SWT saya beryukur, kepada Dekan FU, Drs. Nur Hadi Ihsan, MA., terima kasih segala semangat dan dukungannya tidak lupa Ust. Sya’roni, Lc., yang harus tidak memilih antara dua ibu; Gontor atau Ar-Risalah, dia begitu serius dan mau benar-benar terjun ke lapangan. Dan tentunya kepada banyak rekan yang tidak dapat disebutkan satu persatu di sini; Mahmudi, Ihsanuddin (Franky), Farhan, Evi, Al-Baiquni (saya lupa namanya, kini di UGM), dan seterusnya. Semoga ini dihitung sebagai amal ibadah di sisi Allah SWT, amin.[ditulis tahun 2003]

*) Alias Adi Tiar Winarto, mahasiswa semester V API-FU ISID, Pemimpin Redaksi merangkap staf redaksi inti Fokus, Dewan Redaksi di Buletin Ushuluddin dan majalah Himmah, staf PP-IKPM di bagian penerbitan dan publikasi. Beberapa pengalaman lain seperti di Pusaka, Selected People dan sebagainya yang  sengaja tidak dituliskan di sini, kuatir melelahkan mata pembaca (ha..ha…ha…..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s