Tragedi Senioritas

Sejarah pendidikan di Indonesia pernah menorehkan lembaran kelam, kisah kematian Cliff Muntu, seorang praja IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) asal Sulawesi Utara. Dia tewas di tangan seniornya. Tercatat 26 orang terlibat, di antaranya 5 Nindya Praja IPDN telah ditetapkan sebagai tersangka. Kisah memilukan ini bukan satu-satunya yang terjadi di dunia pendidikan, masih banyak yang lain dan bisa jadi lebih tragis, hanya tidak terungkap. Bagaimana di Balai Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor? Adakah jatuh korban juga atas kesewenangan-wenangan santri seniornya yang terkenal “malikul ma’had“?

Pondok Gontor, berdiri pada 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1345. Dimulai dengan Tarbiyatul Athfal (TA), kemudian berdiri Sullamul Muta’alamin (1932) sebagai lanjutan TA, dan KMI (Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah) dibuka pada tahun 1936. Bertepatan dengan peresmian Sekolah Guru Islam inilah, saat “Kesyukuran 10 Tahun Pondok Gontor”, nama Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) mulai digunakan.

Dalam ceramah-ceramah pembukaan awal tahun ajaran baru, Kyai, sebagai Pimpinan PMDG, menyampaikan pidato-pidato berkenaan dengan sistem pendidikan di Gontor. Kuliah umum yang berlangsung beberapa babak, diisi dengan ceramah tentang segala hal yang ada di PMDG. Karena pentingnya acara ini, tidak ada satu orangpun yang diperkenankan mangkir, baik santri maupun guru, yunior maupun senior.

Di antara metode pendidikan di Gontor adalah keteladanan, penciptaan miliu, pengarahan, pembiasaan, dan penugasan. Mulai dari metode yang pertama hingga terakhir dilakukan oleh dan untuk santri. Di sinilah senioritas mempunyai andil yang cukup besar agar metode ini teraplikasi di lapangan. Dibentuklah organisasi-organisasi agar semua program berjalan baik dan teroganisir. Santri senior yang duduk di kelas VI KMI menjadi panglima tertinggi penggerak roda organisasi santri ini.

Meskipun seorang santri senior di tingkat akhir KMI, usianya masih cukup muda, sementara tugasnya seperti Bagian Keamanan, Pengajaran, Penerangan, dan sebagainya, merupakan amanah yang tidak mudah. Seakan-akan mereka dituntut dan dipaksakan menjadi dewasa; menjadi teladan santri yunior, mengarahkan, menghukum, hingga penegak jalannya roda kehidupan pondok. Semuanya dimaknai sebagai pendidikan. Dan memang tidak sia-sia, hasil dari penggemblengan metode tersebut, terbukti telah melahirkan orang-orang yang diakui kecakapannya di pelbagai bidang kehidupan; sebagai guru, mubaligh, pemimpin umat, penulis, pemikir, hingga pengusaha.

Meskipun demikian, tak ada gading yang tak retak. Sebagai bentuk kesempurnaan manusia, ada kekurangan berupa salah dan dosa. Ini juga tercermin dari bentuk karakter kepemimpinan para santri senior. Di antaranya, karena tidak kuat menerima amanah, bertindak sewenang-wenang dalam menghukum, berprilaku arogan, atau bahkan melanggar aturan yang dibuatnya sendiri. Sikap negatif setelah menjadi orang yang paling dituakan dan dipercaya, menjadi bumerang baginya. Akhir kata, yang semula disegani dan dihormati, berbalik menjadi dilecehkan dan direndahkan.

Karena peraturan disiplin di Gontor tidak pandang bulu, supremasi hukum benar-benar ditegakkan, maka tidak jarang memakan korban orang-orang senior yang tadinya berkedudukan penting dan strategis. Seakan-akan tidak kuatir instabilitas, Kyai sebagai pimpinan pondok bertindak tegas; memecat dan mengusir siapa santri yang berbuat kesalahan besar, meski seorang berkedudukan penting. Disiplin semacam inilah yang menyelamatkan Gontor dari kesewenang-wenangan para senior santri dalam proses pendidikan di pondok. Hatta, tidak terjadi yang serius seperti kasus IPDN di awal tulisan ini. Pemerintah semestinya dapat meniru cara Gontor, daripada melaksanakan perintah Wapres memasang ratusan kamera CCTV di beberapa sudut kompleks IPDN hanya untuk mengamankan yunior dari seniornya. (Berita IPDN di http://hariansib.com/?p=406).

Adapun santri Gontor setelah menyandang gelar alumni, sifat senior yang tidak berwibawa seperti di atas, ada yang dibawa-bawa hingga hidup di tengah masyarakat. Tentunya, tidak ada yang bisa “mengusirnya” dari kehidupan masyarakat ketika bersikap negatif karena kepongahan senioritasnya. Hanya, sedikit berbeda saat di dalam dan di luar pondok, sikap senior yang semena-mena kepada yunior di bawahnya, bukan dengan penghukuman atau sejenisnya, tapi dalam bentuk yang lebih abstrak. Seperti dalam sebuah diskusi keilmuan, sikap senior yang negatif ditunjukkan dengan selalu merasa dirinya paling benar, tidak mau disalahkan dan enggan mengakui kebenaran hanya karena yang menyampaikan yuniornya. Dalam hal berargumen, jika dipatahkan pendapat sang senior atau ada yang tidak disepakati, maka sikap angkuh senior muncul. Karena sikap “tidak mau didahului” tersebut, sehingga dicari jalan agar yunior tidak tampil, dibuat semacam “physic war”. Tentunya hal-hal seperti ini sangat disayangkan, karena Gontor dengan pendidikannya yang komprehensif tidak pernah mendidik santri-santrinya menjadi seperti ini.

Inilah tragedi senioritas yang sesungguhnya. Jika kematian Cliff Muntu dapat dituntaskan dengan jalur hukum dan ada kepastian ending-nya. Tapi pembunuhan karakter, pengkibirian kreativitas, mempersempit jalan orang untuk maju dan berkembang, adalah suatu bahaya laten yang berdampak luas dan panjang. Tidak hanya berdampak kepada satu-dua orang dan kasusnya dapat dituntaskan, tetapi memungkinkan generasi umat mendatang menjadi jumud alias stagnan. Jika demikian, kepada siapa peran taujihat wa irsyadat harus diperankan? Padahal, guru kencing berdiri, murid dapat kencing sambil berlari. Mawaslah diri kita jika telah dianggap senior, hargai yang muda dan hormati yang tua. Sesungguhnya agama Islam telah banyak memberi tuntutan hidup yang sempunra, hablun min an-naas dan hablun min Allah. Wallahu’alam bi ash-shawwab. (Hayy Madinatul Ummal, Dammam City, KSA, 16 R. Tsani 1431)

2 thoughts on “Tragedi Senioritas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s