‘Asya Bersama Dubes

Senin malam, 23 R. Tsani 1432 bertepatan dengan 27 Maret 2011, Duta Besar Republik Indonesia untuk Arab Saudi berkunjung ke kota Dammam. Kunjungan beliau beserta rombongan sejatinya untuk menghadiri undangan Amir Muhammad bin Abdul Aziz, gubernur untuk Wilayah Timur Arab Saudi, untuk sebuah acara di Departemen Ketenagakerjaan. Karena rombongan tiba sehari sebelumnya, maka bos saya berinisiatif mengundang makan malam sekaligus membicarakan kebijakan terbaru pemerintah RI terkait Tenaga Kerja Indonesia (TKI). O iya, saya bekerja di sebuah kantor rekrutmen tenaga kerja. Nah, saya diajak bos untuk ikut serta dalam acara ‘asya (makan malam) tersebut.

Dubes RI utk Arab Saudi sedang berbincang dengan para Mudir Kantor Istiqdam Dammam

Setelah berkoordinasi dengan beberapa kantor rekruiting di Dammam, kami menyewa sebuah “istirohah” (semacam vila di tengah kota) sebagai tempat acara makan malam. Tidak lupa, memesan menu makan malam dari restoran sebelah kantor kami (Mande Salamah).

Singkat cerita, setelah menunggu satu jam, rombongan dubes RI tiba di Istirohah Jami’in. Dari informasi yang saya dengar dari salah satu rombongan (yang kebetulan kakak kelas semasa di Gontor), dubes ditemani petinggi-petinggi pejabat KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Riyadh dari hampir setiap departemen yang ada. Sebelum menyantap hidangan, kami berdiskusi terkait isu-isu aturan baru yang diterapkan dalam Perjanjian Kerja (PK) TKI.

Dari pihak kantor rekrutmen tenaga kerja di Dammam, mereka banyak menanyakan tentang aturan baru yang diminta KBRI seperti penyertaan foto seluruh anggota keluarga dan surat kelakuan baik dari kepolisian untuk setiap calon majikan yang akan mempekerjakan TKI di rumahnya. Bagi orang Arab, hal tersebut bukanlah hal yang wajar alias aib. Masalah foto, terutama perempuan, bagi orang Arab tidak mudah untuk menampilkannya semudah yang kita bayangkan. Meskipun, media massa di Arab Saudi mulai mengarah ke keterbukaan layaknya di negeri kita. Dan surat keterangan berkelakuan baik juga seperti membuka aib. Beberapa masalah juga dibicarakan, termasuk permintaan kepada pemerintah Indonesia untuk memilih dan mengirim TKI yang benar-benar siap bekerja sesuai permintaan.

Dubes RI, Pak Gatot, yang berbicara dengan bahasa Arab dan Inggris meski terbatas dan dibumbuhi logat sundanya yang kental (asli orang Indihiang Tasikmalaya), menjelaskan bahwa maksud peraturan baru yang akan diterapkan tersebut untuk melindungi TKI sekaligus majikannya juga. Dan yang menjadi alasan utama, selama ini belum ada pernjanjian kerja sama (memorandum of understanding, MoU) antara pemerintah Indonesia dan Arab Saudi dalam perlindungan tenaga kerja domestik (non formal).

Perjanjian yang dimaksud di antaranya yang meliputi masa jam kerja, definisi pekerjaan, dan bersifat teknis lainnya, sehingga menghindari terjadinya penyimpangan kerja dari yang semestinya menjadi tugas TKI. Apalagi, dari data statistik yang ada, jumlah laporan kasus TKI bermasalah mencapai angka 3 ribu lebih pertahun. Meskipun, tidak dipungkiri, bahwa kasus yang terjadi tidak semua berasal dari pihak majikan, tidak sedikit pula trouble maker-nya adalah TKI.

Di sisi lain, saya dibisiki oleh sekretaris Dubes, bahwa sejatinya, pemerintah Indonesia berniat akan menutup pengiriman tenaga kerja non-skill, terutama wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Banyak hal yang melatarbelakangi niat pemerintah tersebut, dan umumnya kita sudah maklum resiko mengekspor babu tak terdidik ke negeri orang.

Dalam kesempatan tersebut, Dubes RI juga menginformasikan bahwa pemerintah RI dan Arab Saudi dalam waktu dekat ini akan mengadakan pertemuan guna tercapainya MoU ketenagakerjaan khususnya di sektor non-formal, seperti sopir dan pembantu. Sekaligus sedang dalam studi tentang asuransi bagi majikan dan TKI jika terjadi masalah.

Kabsah dengan daging kambing muda ala Yamani

Setelah lama berbincang, akhirnya kami masuk ke ruang makan untuk menyantap “kabsah” yang telah disiapkan; tiga nampan dengan masing-masing satu ekor kambing muda khas masakan Arab. Dan subhanallah, bagi perut orang Indonesia, menu tersebut benar-benar di luar kapasitas. Satu nampan mestinya dimakan bersama 15 sampai 20 orang, tetapi kami hanya makan 4-6 orang saja senampan.

Well, kita tunggu saja niat baik pemerintah untuk memperbaiki harga diri dan kesejahteraan rakyatnya. Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi negeri kita tercinta, negeri berpenduduk muslim terbesar sedunia. Wafaqallahu jami’an.[]

One thought on “‘Asya Bersama Dubes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s