Islam Agama Sempurna

Salah satu pokok ajaran Islam adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah swt. Dalam syahadat, kita mengikrarkan untuk “menolak dan menetapkan”. “La Ilaaha” adalah menolak segala sembahan selain Allah. “Illallah” adalah menetapkan bahwa ibadah (penghambaan) itu hanya untuk Allah semata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam ibadah kepadaNya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam kekuasaanNya. Setelah syahadat, ajaran Islam yang pokok lainnya adalah mendirikan shalat, zakat, puasa di bulan Ramadhan haji ke Baitullah Al-Haram. Kelimanya ini terangkum dalam Rukun Islam yang kita kenal dan pelajari semenjak pertama duduk di bangku sekolah. Di luar lima rukun yang pokok tersebut, sebagai seorang muslim, hendaknya kita lebih mengenal ajaran Islam yang mulia lainnya.

Sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Allah ta’ala telah telah menurunkan agama Yahudi yang dibawa oleh Nabi Musa alaihi salam dan Nashrani oleh nabi Isa alaihi salam. Kedua agama samawi (langit) tersebut diakui syari’atnya sebelum dihapus dan disempurnakan oleh Islam yang dibawa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penghapusan syari’at agama Yahudi maupun Nashrani oleh Islam ini karena terjadinya perubahan dan pergantiannya oleh para pemeluknya pasca nabi-nabi dan para ulama serta orang-orang shalehnya meninggal dunia. Ini karena syari’at agama sebelum Islam tersebut diwakilkan penjagaannya oleh Allah swt kepada para ulama dan orang-orang shaleh dari masing-masing umatnya, sebagaimana firman Allah swt: “Disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya.” (QS. 5: 44). Berbeda dengan Islam yang tetap eksis dan tidak terjadi perubahan hingga sekarang, karena Allah ta’ala langsung yang menjamin penjagaan syari’atnya, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. 15:9).

Bentuk perubahan agama Yahudi oleh umatnya di antaranya keyakinan tentang Isa as. yang dilahirkan hasil perzinaan ibunya, Maryam. Tuduhan yang sangat keji ini terekam dalam Al-Qur`an: “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar.” (QS. 4: 156) Sedangkan prilaku umat Nashrani setelah ditinggal nabinya, berlebihan dalam menisbatkan Nabi Isa alaihi salam sebagai tuhan mereka. Prilaku mereka diceritakan dalam Al-Qur`an dengan perkataan mereka: “Sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih putra Maryam.” (QS. 5: 17). Di ayat Al-Qur`an yang lain: “Dan orang-orang Nashrani berkata: “Al-Masih itu putra Allah.” (QS. 9:30). 

Dalam masalah akidah di atas, Islam datang sebagai agama penengah antara Yahudi dan Nashrani. Islam tidak menuduh nabi Isa ‘alaihi salam dengan keji sebagai anak hasil perzinahan tetapi tidak pula menganggapnya sebagai Allah atau anakNya. Islam menyatakan bahwa Isa ‘alaihi salam adalah hamba Allah swt dan rasulNya, yang lahir atas kehendakNya dengan kalimatNya yang dimasukkan ke dalam diri Maryam. Firman Allah swt: “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu.” (QS. 61:6). Di surat yang lain: “Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam.” (QS. 4: 71).

Demikianlah Islam dibawa oleh nabi terakhir yang tidak ada lagi nabi setelah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Firman Allah swt: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini bahwa ini (Islam) adalah nikmat terbesar Allah atas umat ini, di mana Allah telah menyempurnakan agama ini bagi mereka. maka mereka tidak lagi membutuhkan kepada agama selain Islam dan kepada nabi selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu Allah telah menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi dan mengutus beliau kepada manusia dan jin. Maka tidak ada lagi pengahalalan kecuali apa-apa yang telah beliau halalkan dan tidak ada lagi pengharaman kecuali atas apa-apa yang telah beliau haramkan dan tidak ada yang merupakan bagian dari agama kecuali dengan apa-apa yang telah beliau syariatkan. Semua yang beliau sampaikan adalah benar dan tidak ada kedustaan di dalamnya sedikit pun.

Semoga kita selalu memegang teguh keyakinan ini sampai ajal menjemput kita, dijauhkan dari su`u al-khatimah, amin.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s