Majlis Rasulullah

Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, masuk ke dalam masjid di waktu dhuha. Jika beliau masuk ke masjid, maka beliau mendirikan shalat sunnah tahiyatul masjid di sebuah tiang yang dikenal sebagai tiang Muhajirin. Posisinya di tengah raudhah yang mulia, beliau selalu berusaha mencari posisi shalat di lokasi tersebut. Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di bagian timur masjid di dalam “Ar-Raudah As-Syarifah,” bersandar ke kamar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan seketika para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkumpul mengerumuni beliau. Perkumpulan di waktu tersebut telah umum diketahui bagi siapa saja yang ingin bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Kadang-kadang sahabat yang menghadiri tidak banyak, tapi di lain waktu sangat banyak, tergantung keluangan waktu dari kesibukan masing-masing mereka di waktu tersebut. Jika yang hadir sedikit, maka para sahabat cukup duduk melingkar di sekitar tempat duduk Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi jika banyak yang hadir, maka mereka duduk berjajar dari kanan hingga kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga jika ada yang bertanya harus datang mendekati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat duduk di halaqah itulah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara kepada para sahabat dengan bahasa seorang manusia yang paling fasih bicaranya, paling indah bahasanya, dan terang penjelasannya. Gaya bicara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak cepat dan tidak lambat terputus-putus, tetapi beliau memisahkan satu kata dengan kata yang lain dengan cermat dan jika beliau mengulangi apa yang diucapkan, semua pada tempatnya. Sebagaimana yang dikatakan ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbicara tergesa-gesa seperti kalian, tetapi beliau berbicara dengan bahasa yang terang-jelas dengan memperhatikan siapa yang bersamanya.”

Seringkali pembicaraan beliau di majlis ini dengan cara dialog, memulainya dengan pertanyaan: barangkali dengan melontarkan pertanyaan maka para hadirin pun akan kembali bertanya, seperti sabdanya: “Apakah mau kalian kuberitahu dosa yang paling besar?” mereka berkata: “Ya, wahai Rasulullah.” Bersabda Rasul: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan persaksian palsu.”

Terkadang pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat yang hadir di majlis dengan tujuan untuk memberikan makna lain yang telah jelas menurut mereka, seperti sabda beliau: “Apakah kalian tahu siapa orang yang ‘muflis’ (bangkrut) itu?” Para hadirin menjawab: “Orang yang bangkrut di kami adalah yang tidak memiliki dirham dan harta kekayaan.”Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang di Hari Kiamat datang dengan shalat, shaum, dan zakat tetapi dia sering mencaci maki, bebicara tanpa dasar, dan memakan harta (yang bukan haknya), melakukan pertumpahan darah, dan menabur benih perselisihan. Maka dia akan memberikan pahala dari amal kebaikannya (kepada orang yang menjadi korban kekejiannya tersebut –pent).Jika telah habis semua kebaikannya dan belum memenuhi untuk membayar apa yang telah dia kerjakan, maka kesalahan (orang yang menjadi korban kekejiannya tersebut –pent)akan dilemparkan kepadanya dan kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” Siapa sangka, dengan cara seperti ini akan lebih membekas dalam ingatan para sahabat yang hadir.

Pernah juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi beberapa perkataannya hingga tiga kali agar yang hadir berpikir dan menegaskan betapa pentingnya hal tersebut. Terkadang pula ditambahkan penekanan kalimatnya dengan gaya hiperbola agar menjadi perhatian, seperti saat beliau menyebutkan tentang dosa-dosa besar (al-kabair): “Tinggalkanlah perkataan palsu (bohong) dan persaksian palsu.” Beliau mengulangi peringatan tersebut bekali-kali hingga para hadirin berharap dalam hatinya agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyudahinya.

Kadang pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai majlis halaqahnya dengan pertanyaan yang tiba-tiba agar langsung mengena pada poin yang dimaksud, sebagaimana beliau memulai pembicaraan kepada yang hadir dengan berkata: “Siapa yang hari ini di antara kalian berpuasa?” Semua yang hadir terkejut dengan pertanyaan tersebut dan belum siap untuk menjawabnya, andai saja mereka tahu akan ditanya seperti itu, maka mereka semua akan berpuasa pada hari itu. Maka tidak ada satupun yang menjawab dan hanya terdiam, dan kemudian Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menjawab: “saya wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamkembali bertanya: “Siapa di antara kalian yang telah mengunjungi orang yang sakit pada hari ini?” Semuanya terdiam dan Abu Bakr radhiyalahu ‘anhu menjawab: “Saya wahai Rasulullah.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini menyalati jenazah?” Semuanya terdiam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Bertanya kembali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“Siapa di antara kalian telah bersedekah kepada orang miskin pada hari ini?” Semuanya terdiam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Maka bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Tidaklah empat hal tersebut terkumpul dalam diri seseorang dalam satu hari kecuali dia akan masuk surga.”

Kadang pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan alat peraga dalam menjelaskan sesuatu. Sebagaimana cerita Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di mana Rasulullah membuat satu garis lurus dan mengatakan: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau membuat garis-garis yang banyak dari arah kanan dan arah kiri dan beliau mengatakan: “Ini adalah jalan-jalan dan tidak ada satupun dari jalan tersebut melainkan syaitan menyeru di atasnya.” Kemudian beliau membacakan firman Allah: “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka tempuhlah ia dan jangan kalian menempuh jalan yang banyak tersebut yang pada akhirnya akan memecah diri-diri kalian dari jalan-Nya.”

Demikianlah, orang yang paling mulia di bumi ini telah memberikan contoh dan praktek mendidik para sahabat. Tidaklah heran mereka para sahabat radhiyallahu ‘anhum menjadi generasi terbaik sepanjang masa yang belum pernah ada sebelum dan sesudahnya. Wallahu’alam.

[edited @darul maharat, beberapa bulan dan saat yg lalu, diterjemahkan dari sebuah buku saku yg lupa judul dan penulisnya, sekaligus tidak ingat di mana buku tsb saat ini berada]  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s