Mati Ketawa di Dammam

Correct Me If I Am Wrong (CMIIAM), sekedar catatan ringan setelah tiga bulan menginjakkan kaki di kota Dammam, kota di Bagian Timur Kerajaan Arab Saudi.

Senyummu Menggoda Majikan

Penduduk di daerah Puncak Bogor Jawa Barat cukup tahu keinginan orang Arab jika datang ke daerah wisata tersebut. Bangsa Arab, selain dikenal menyukai wanita Indonesia, juga mempunyai beberapa kebiasaan yang berbeda dengan karakter orang Indonesia. Seorang TKW yang bekerja di sebuah rumah majikan di Arab Saudi berusaha ramah dengan senyuman setiap menghidangkan minuman, dianggap menggoda sang majikan laki-laki. Untuk ketiga kalinya TKW tersebut tersenyum, majikan yang sudah beristri dua tersebut langsung mengangkat tubuhnya ke dalam kamarnya saat rumah sedang kosong.

Bahlul

Seorang pedagang sukses yang berencana pergi umrah, mempunyai tetangga keturunan Arab yang dikenal tidak taat beragama. Bahkan sampai usia dewasa, anak-anaknya tidak cakap baca tulis Al-Quran dan tidak menutup aurat. Saat pergi umrah, dia memperhatikan di mana-mana, jalanan, papan toko, rumah, reklame iklan, semuanya bertuliskan huruf Al-Quran. Dia anggap orang Arab di negerinya sendiri sangat religius karena menulis doa di setiap tempat.

Kentut Orang Arab

Di kantor-kantor di kota Dammam, sebuah kota industri wilayah timur Saudi, selalu tertulis larangan merokok di dalam ruangan. Tetapi pemilik dan pekerja di kantor yang perokok, selalu menyempatkan merokok saat waktu istirahat. Ketika kantor dibuka kembali, masih tersisa bau rokok yang sangat mengganggu. Untuk menghilangkan bau tersebut, disemprotkan pewangi beraroma apel. Seorang pekerja baru datang dari Bangladesh yang belum mengerti bahasa Arab sama sekali, mengomentari wangi tersebut ke rekannya yang sudah lama bekerja di Arab. Seorang Arab yang mendengar percakapan keduanya, menyela dengan bahasa Arab, “kasih tahu dia, itu kentutnya orang Arab.” Keduanya tertawa terbahak-bahak, tapi tidak bagi pekerja yang awam tadi.

Gereja di Arab Saudi

Di Kerajaan Arab Saudi, harga air empat kali lipat lebih mahal dari harga BBM. Karena itu, banyak pekerja asing memanfatkan fasilitas air minum gratis yang disediakan di setiap masjid kemudian ditampung ke galon untuk dibawa ke tempat tinggal masing-masing. Beberapa pekerja dari Filipina yang beragama Kristen bertanya kepada rekannya, kenapa hanya di masjid saja tersedia air minum gratis? Rekannya seorang muslim Indonesia menjawab, karena di sini tidak ada gereja! (note: beberapa rumah dan di tempat umum lainya juga ada yang menyediakan air minum gratis)

Kampanye ala Raja Saudi

Di Tanah Air kita, jika musim kampanye tiba, caleg atau capres berlomba membuat iklan atau media kampanye dengan poster, baliho, dan tayangan di televisi. Ada baiknya para calon wakil rakyat di Indonesia meniru Raja Saudi yang berkampanye setiap hari dengan mencetak fotonya di uang kertas riyal. Bisa pasti semua orang tak akan luput melihatnya. Kampanyenya dijamin sukses, apalagi lembaran tersebut dibagikan gratis seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai) zaman SBY-JK.

Pemanas Alami

Tidak diragukan lagi bahwa suhu udara pada bulan-bulan menjelang dan saat Ramadhan di Saudi sangat panas. Hatta air untuk mandipun didak perlu dipanaskan lagi jika Anda ingin mandi dengan air hangat. Pertanyaannya apakah segar mandi dengan air hangat di suhu yang panas? Jangan-jangan keluar dari kamar mandi justru bermandikan keringat bukan air.

Perempuan di Sangkar Emas

Perempuan di Saudi sangat diperlakukan sangat berbeda dengan perempuan umumnya di negara lain. Mereka dilarang beraktivitas di luar rumah, apabila keluar rumah harus berpakaian menutup aurat serba hitam dengan cadar menutup wajah dan didampingi suami atau saudaranya. Materi melimpah di keluarga kaya, bagi mereka tercukupkan dan tidak kekurangan apapun kecuali kebebasan beraktivitas di luar rumah. Koran harian al-Hayat yang tersebar di negara teluk dan beberapa negara Eropa, pernah memuat karikatur suami “bersenjata kunci mobil” dan perempuan “mengokang alat penggorengan”. Begitulah kira-kira gambaran kehidupan sosial perempuan dan laki-laki di Saudi.

Banjir Pasir

Di kota-kota Indonesia, masalah genangan air dan sistem drainase di jalan sering kali menjadi sumber kemacetan karena banjir. Jika ada saluran air atau got di sepanjang jalan, sering kali juga menjadi jebakan pejalan kaki terporosok ke dalamnya. Di Saudi Arabia, anda tak perlu mengkawatirkan itu, karena tidak ada got atau saluran air sepanjang jalan. Jika dibangun got dipinggir jalan, mungkin akan dipenuhi pasir bukan air. Karena sangat jarang hujan air di Arab, sehingga tidak diperlukan saluran air, mungkin sangat perlu ada saluran pasir? (note: awal bulan Dzulhijjah yang lalu, hujan besar turun di Jeddah menyebabkan banjir besar dan menewaskan lebih dari 100 orang, inna lilahi wa inna ilaihi raji’un)

Empat Musim Sehari

Orang mengenal cuaca di negeri Arab sangat panas dengan padang pasirnya. Tapi siapa yang tahu bahwa dalam sehari bisa berubah 4 musim sekaligus? Pagi hingga siang angin kencang membawa debu, menjelang sore angin mulai pelan, di malam hari Anda bisa merasakan udara seperti dinginnya kota Bandung. Keesokan harinya jangan kaget jika panas menyengat hampa angin dan udara basah panas.

Arab Karena Uang

Orang bilang uang bisa membeli apa saja. Ini juga terjadi di negeri Saudi. Dengan kekayaan negerinya, Kerajaan Saudi dapat membeli apa saja yang mereka inginkan. Jika negeri Arab tersebut dikenal tandus dengan padang pasirnya, tapi tidak banyak orang yang tahu, di kota-kotanya telah banyak penghijauan. Hingga manusia pun dapat diberlakukan seperti barang karena uang dapat membeli para pekerja asing yang harus mau diberlakukan semena-mena dengan poisisi di mata hukum yang sangat lemah.

Barang Impor

Rata-rata orang Arab di Saudi serba berkecukupan. Karunia Allah dengan kekayaan sumber migas dan devisa negara dari kunjungan haji serta umrah sangat melimpah ruah. Masyarakatnya dapat mengimpor kendaraan CBU (Complete Built Up), meubel, makanan, pekerja, dan berbagai macam peralatan dan kebutuhan hidup sehari-hari. Karena impor, harga barang menjadi mahal. Karena faktor sumber bahan baku atau mental manusianya, bangsa Arab tidak berusaha memproduksi sendiri?

Manusia Impor

Tampaknya bukan barang saja yang harus diimpor oleh Kerajaan Saudi. Manusia pun mereka butuhkan dari luar negeri. Budaya perbudakan peninggalah jaman jahiliyah pra-Islam ternyata masih sedikit tersisa. Penduduk Saudi ini sangat menjaga diri dari pekerjaan kasar (baca: gengsi). Kalau mampu, kenapa tidak membayar orang lain? Itulah filsafat uang bisa membeli apa saja. Sehingga pekerjaan kasar dan posisi tidak strategis diberikan kepada orang non-Arab. Meski di supermarket dilayani orang Hindi misalnya, bukan berarti itu toko tersebut miliknya, karena “haram” hukumnya orang asing memiliki asset bangunan atau tempat usaha. Cocok dicontoh pemerintah Indonesia untuk menjaga asset pemerintah yang sering dijual ke asing?

Cinta Produk Luar Negeri

Orang Arab sangat bangga dengan mobil-mobil yang dimilikinya yang dibeli langsung dari negara pembuatnya. Kemudahan impor dan pajak yang rendah membuat mereka bersaing membeli mobil complete built up. Jika saja orang Saudi mau menyisihkan riyalnya untuk peneletian dan pengembangan industri mobil di dalam negeri, kerajaan ini bisa sangat mandiri dan pasti akan bertambah kaya. Ada pertanyaan dari seorang pemabaharu di India tempo dulu, limadza ta`khara muslimun wa taqqada ghaiuruhum (kenapa umat Islam terbelakang sementara yang lainnya maju)? Pertanyaan ini belum terjawab oleh fakta.

Siapa Butuh?

Negara di Timur Tengah, utamanya Saudi Arabia, merupakan negara tujuan terbesar tenaga kerja wanita sebagai pembantu rumah tangga. Bekerja menjadi TKW atau TKI bukanlah pekerjaan yang hina dan tidak halal. Seharusnya penduduk Saudi berterima kasih dan memanusiakan mereka yang telah banyak membantu pekerjaan yang tidak mampu mereka lakukan. Bayangkan jika seluruh pekerja asing di Saudi mogok kerja dan seluruh pemerintah pengekspor tenaga kerja tidak mengizinkan lagi warga negaranya bekerja di Saudi? Rumah tidak terurus, jalanan kotor, tidak ada pabrik yang berproduksi, tidak ada pelayan toko, dan seterusnya. Karena, orang Saudi merasa memiliki uang dan malas mengerjakan pekerjaan yang mengeluarkan banyak tenaga. Siapa yang butuh?

Besar Apanya?

Seorang TKW yang ditinggal sendirian di rumah dikejutkan dengan kedatangan salah satu anak majikannya yang masuk ke rumah tanpa diduga. Khaddamah yang sedang menyeterika dengan berpakaian agak terbuka, menurut etika orang Saudi, tiba-tiba didekati sang anak majikan. Dasar laki-laki, si pangeran yang sedang libur kuliah tersebut terangsang dan merayu untuk berhubungan denganya. Tentu saja ditolak mentah-mentah oleh khaddamah, tetapi tetap saja si Arab memaksa bahkan dia membuka sendiri seluruh pakaiannya. Khaddamah berteriak histeris ketakutan, tetapi anak majikan tidak takut sedikitpun didengar orang lain, bahkan menantang khaddamah berteriak sekuat-kuatnya, karena rumahnya yang dibenteng jauh dari tetangga. Ketakutan khaddamah diperkosa diakali dengan cara memegangi kencang-kencang kemaluan si Arab, yang konon, tidak cukup segenggam tangan TKW tersebut. Hanya beberapa saat seperti itu, ternyata si Arab sudah cukup puas kemaluannya digenggam tangan khaddamah hingga keluar cairan maninya. Bisa jadi, orang Arab besar kemaluannya tapi kecil daya tahannya.

Mobil Bertenaga Besar

Mobil dengan tenaga besar identik dengan bahan bakar boros. Bagi penduduk Saudi, itu tidak masalah. Karena di Saudi, beli bahan bakar kendaraan seperti membeli kerupuk di Indonesia, murah meriah. Maka tidak heran jika di jalanan berseliweran mobil-mobil Amerika atau Eropa yang terkenal boros BBM tetapi tingkat savety-nya yang tinggi. Tapi Allah Maha Adil, membuat keseimbangan, di Saudi air putih seharga BBM di Indonesia!

Warna Cerah

Warna gelap dipercaya menyerap panas lebih daripada warna cerah atau putih. Tidak salah orang Saudi memilih mobil berwarna putih susu dari pada warna lain yang menambah panasnya suhu di dalam mobil. Selain itu, kaca mobilpun bebas dari kaca film alias transparan. Apakah ini aturan Ditlantas (Dinas Lalu Lintas) di Saudi atau bukan, yang pasti, mereka tahu diri bagaimana mengatasi panas yang sangat.

Yang Murah Meriah di Saudi

1 Riyal Saudi (SAR) jika ditukarkan ke rupiah Indonesia (Rp) berkisar antara Rp 2400 hingga Rp 3000. Meski demikian, ada beberapa barang di Saudi cukup murah jika dikurskan dengan uang rupiah, apalagi dibandingkan dengan harga di toko-toko Indonesia. Yang murah-murah menurut ukuran uang kita di antaranya mobil, komputer, HP, dan alat eletronik lainnya. Buku-buku bacaan juga, seperti kamus Munjid atau Lisanu-l-Arab yang banyak digunakan di pesantren di Indonesia, setengah harga dari harga di Indonesia. Tapi saat ini, buku-buku rujukan ilmu agama Islam yang berbahasa Arab telah disusun secara digital (e-book). Yang lebih menariknya, kita bisa mendapatkan gratis dari internet dengan mengunduhnya.

Penutup Kepala  

Kalangan sekuler berargumentasi bahwa jilbab penutup aurat (kain yang lapang menutup kepala hingga dada) bukanlah kewajiban dalam Islam kecuali tradisi Arab semata. Menggunakan jilbab bagi perempuan Islam di Arab memang telah menjadi adat tradisi tetapi juga jelas sebagai kewajiban agama Islam (QS. Al-Ahzab ayat 59). Adat tradisi ini bukan saja untuk perempuan, tetapi juga laki-laki Arab pun mengenakan penutup kepala. Bukan tanpa alasan, ternyata dengan kain yang menutup kepala hingga pundak tersebut, cukup melindungi diri dari sengatan matahari yang panas dan udara dingin di musim dingin.

100 Dolar US Untuk 3 Jam

Bukan hanya air yang mahal di Saudi, tetapi juga bayaran seorang entertain. Seorang penyanyi terkenal asal kota Dammam, Rashid Al-Majid, mematok tarif termahal untuk sekali tampil menyanyi. Konon, jika di-booking hitungan jam saja, bayarannya sangat fantastis, di atas 100 Dolar Amerika! Biasanya, Rashid tiba di tempat pesta atau acara hiburan yang mengundangnya pukul 00.00 dan selesai 03.00 pm. Tidak heran jika rumahnya halaman rumahnya seluas 6000 m² yang lengkap dengan berbagai binatang dan tempat hiburan menyaingi kediaman mega star di belahan bumi Barat, Michael Jackson, di masa jayanya. Siapa yang mau menyewanya?

Al-Qarni yang Disukai

Di Indonesia, kita mengenal para ulama kharismatik dari berbagai ormas (organisasi kemasyarakatan) seperti NU atau Muhammadiyah. Di Saudi, masyarakatnya mempunyai ulama karismatik di antaranya Abdullah bin Baz (almarhum). Adapun ulama yang sangat populer saat ini, termasuk di Indonesia, adalah Dr. Aidh Al-Qarni, pengarang buku La Tahzan yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi best seller di dunia. Berbeda dengan ulama lainnya, Al-Qarni dianggap ulama yang gaul, humoris dan sangat egaliter. Kalau ulama lain berkhutbah bisa sangat membosankan, tapi mendengarkan al-Qarni berjam-jam pun tidak terasa karena lihainya dia berpidato. Dia disukai oleh banyak kalangan di Saudi. Pernah satu acara wawancara televisi dihentikan hanya karena tertawanya yang tak bisa tertahan lama saat sedang membicarkan sesuatu.  (note:  beberapa pemikirannya nyeleneh dan dikategorikan menyelisihi manhan Ahlu Sunnah wal Jama’ah)

Abu Ibnihi

Nama seseorang di Arab termasuk sangat irit dan tidak boros tinta untuk menulisnya, karena hanya satu kata. Coba ingat nama junjungan Nabi kita Muhammad SAW, beliau hanya satu nama saja. Jika ada lanjutannya, maka itu adalah nama bapak kemudian kakek dan diakhiri nama marga (laqab). Jadi, ketika mengenalkan nama anak kita dari Indonesia seperti misalnya Muhammad Fakhri Al-Ilmi, orang Arab jadi bingung. Satu anak mempunyai tiga nama! Begitu komentar orang Arab. Meskipun secara ilmu tata bahasa Arab, nama tersebut mempunyai arti yang indah, tapi bukan mencerminkan kebiasaan di Arab memberi tiga nama sekaligus untuk satu anak! Dan orang Arab lebih senang dipanggil dengan kunya abu ibnihi, seperti bapak yang mempunyai anak bernama Said, maka dipanggil Abu Said. Yang belum jadi ayah, dipanggil abu abihi (abu + nama bapaknya).

Siang Lebih Panjang

Pada musim panas, matahari lebih berkuasa terbit daripada bulan yang mengalah untuk lebih sebentar menampakkan dirinya. Sehari 24 jam di Saudi, tidak seadil di Indonesia yang berbagi tepat 12 jam siang dan setengahnya malam. Bagi orang Indonesia yang baru pertama kali menghirup udara di Saudi, akan merasakan perbedaan mencolok perubahan waktu, terutama waktu shalat. Jika sebelumnya terbiasa bangun jam 4 shubuh untuk mendirikan shalat shubuh (fajar), jangan heran saat waktu tersebut di Saudi matahari sudah tampak (di wilayah timur Saudi). Sebaliknya, di musim dingin yang tiba di akhir tahun, siang menjadi sebentar dan malam benar-benar panjang. Perlu waktu beradaptasi dengan waktu yang tidak seadil di Indonesia.

Surga Dunia

Kita tidak pernah merasakan nikmatnya sehat kecuali ketika kita jatuh sakit. Pepatah itu juga berlaku saat kita tidak pernah merasakan betapa indah dan kayanya negara Indonesia kecuali setelah berada di luar negeri. Dari zaman dulu masyarakat dunia telah menilai Indonesia adalah wilayah yang indah dan penuh kekayaan alamnya. Saat di Saudi pun, Anda pasti akan merasakannya. Karena ketika di negeri kerajaan ini, sangat langka ditemui awan putih beriringan di siang hari, bahkan bulan dan bintang pun jarang ditemui di malam hari. Tanahnya pun demikian, tandus dan gersang. Udaranya, cukup ekstrim; jika panas sangat, jka demikian pun sangat. Mendapatkan pemandangan dan udara yang adil hanya di Indonesia.

Allah Maha Adil

Ada yang meragukan keadilan Sang Pencipta? Sebuah kisah, seseorang melepas lelah di bawah pohon asam yang besar dan rindang. Dia bergumam di dalam hatinya, “Heran, Tuhan ini kok gak adil, pohon sebesar ini tapi buahnya sangat kecil. Tapi pohon lain yang tidak sebesar ini buahnya jauh lebih besar dari asem.” Tiba-tiba sesaat kemudian salah satu buah asem menimpa kepalanya dari ranting pohon yang kokoh tersebut. “Oh, maaf Tuhan, ternyata Kau Maha Adil,” begitu ucapnya setelah menyadari seandainya buah asem ini sebesar durian, kepalanya akan terbelah karena tertimpa buah asem yang besar dan orang pun tidak akan memanfaatkannya untuk berteduh. Demikian pula Arab, ketika kekayaan melimpah dengan migas dan bertambahnya devisa negara dari kunjungan umrah dan haji, Allah menganugerahkan kondisi alam yang mengharuskan orang Saudi berbagi kekayaan dengan bangsa lain; tanah yang tandus agar mengimpor pohon, tanah, rumput atau teknologi penghijaun; orang yang malas berdikari sehingga harus mengimpor semua kebutuhan hidupnya berbagi rezeki dengan negara lain dari mulai bulpen, mebel, kendaraan, makanan, hingga tenaga manusia.

Perut Orang Saudi

Di negara maju dan makmur, umumnya penduduknya sudah sangat terdidik hidup sehat. Berat badan yang proposional dengan postur tubuhnya menjadi hal yang lumrah. Berbalik dengan orang Saudi yang makmur, mereka justru banyak yang tidak bisa menjaga keseimbangan tersebut. Barangkali bukan karena tidak adanya fasilitas atau teknologi untuk menunjang bentuk tubuh yang proposional, tetapi lebih karena jam hidup di Saudi yang memaksa kebiasaan makan di waktu yang kurang tepat. Di Saudi, umumnya jam istirahat mulai shalat Dzuhur sampai dengan selesai shalat Ashar (Jam 12.00 – 04.00 pm). Saat itu tepat makan siang. Celakanya, karena panas dan waktu istirahat untuk menyiapkan kondisi badan agar kembali segar pada jam kantor berikutnya, setelah makan siang rata-rata diteruskan dengan tidur siang. Malamnya, setelah jam kantor jam 10.00 pm., mereka makan malam dan kemudian tidur. Nah, aktivitas inilah yang akan mempercepat perut menjadi buncit karena tidak tepatnya sirkulasi waktu makan, istirahat, dan bekerja. Wallahu’alam.

Penyakit Orang Kaya

Sakit gigi bagi masyarakat Indonesia cukup identik dengan penyakit orang-orang yang kurang terdidik dan dari kalangan orang miskin. Tapi jangan salah sangka, justru orang-orang kaya di Saudi terbiasa dengan urusan cabut gigi. Bukan karena mereka tidak rajin merawat giginya, tetapi cara perawatannya cukup tradisional dengan menggunakan siwak (sebatang kayu dari sebuah pohon tertentu). Hal tersebut mereka lakukan karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW bahkan setiap sebelum shalat. Bagi beberapa kalangan ulama, khususnya Yusuf Al-Qaradhawi, hadits yang menyuruh bersiwak kedudukannya lemah baik secara sanad maupun alasan rasional. Barangkali Al-Qaradhawi ingin mengatakan kalau problem kesehatan gigi saat ini tidak dapat hanya diatasi dengan siwak dan seandainya seluruh dunia menggunakan siwak, tidak akan tersisa pohon siwak karena dijadikan alat pembersih gigi semua (baca buku “Kaifa Nata’amal bi As-Sunnah An-Nabawiyyah”).

Bahasa Gaul

Seperti di Indonesia, orang Arab pun memilki bahasa dan lahjah yang berbeda-beda. Bedanya, di Saudi, bahasa tetap satu yaitu bahasa Arab.Umumnya bahasa Arab yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, menyalahi aturan kaidah ilmu gramatika bahasa Arab (Sharaf dan Nahwu). Pelafadzan huruf juga terjadi dari u menjadi a, qaf menjadi gha, dan lain-lain. Yang lebih menyusahkan adalah penyingkatan kata-kata sehingga merubah bentuk aslinya menjadi membingungkan bagi santri atau pelajar bahasa Arab di Indonesia.

Waktu Shalat Lima Waktu

Nanggore Aceh Darussalam barangkali satu-satunya propinsi yang mencoba menerapkan hukum Islam sebagaimana di Kerajaan Saudi. Untuk urusan shalat, di Saudi terdapat polisi syari’at yang akan menghukum toko dan kantor yang tetap buka dan beraktivitas. Oleh karena itu, jangan berharap membeli sesuatu ke toko saat adzan berkumandang atau berurusan dengan kantor di waktu yang sama. Tentunya dengan aturan demikian, diharap masyarakat Saudi akan berdisiplin shalat ke masjid dan lebih taat beragama. Kenyataanya, meskipun sebagai tempat lahirnya agama Islam dan 100% penduduknya muslim, tidak menjamin mereka sangat islami. Saat jam tutup untuk shalat justru dimanfaatkan untuk merokok bersembunyi di balik pintu yang terkunci dan tirai yang tertutup, meski tidak semuanya.

Masjid

Memang benar, tidak selamanya yang tampak luar Islam bisa lebih islami. Meski sudah dijadikan undang-undang untuk istirahat dan pergi ke masjid saat tiba shalat lima waktu, masyarakat Saudi tampaknya masih malas untuk memakmurkan masjid. Masjid-masjid di kota Dammam misalnya, relatif kecil-kecil tapi tersebar di banyak tempat. Beberapa di antaranya cukup besar untuk didirikan shalat Jum’at. Yang membedakan dengan masjid di Indonesia, masjid di Saudi dilengkapi dengan pendingin udara, karpet yang tebal, rak-rak yang penuh dengan Al-Qur`an, kertas tisu, dan fasilitas air minum gratis. Yang agak meresahkan, penempatan sandal di masjid kota Dammam yang sembarangan kurang memperhatikan batasan suci layaknya masjid di Indonesia.

Kelebihan Orang Indonesia

Mengapa banyak tenaga kerja Indonesia terbang jauh ke Saudi mengais rezeki? Selain tuntutan hidup, pekerjaan yang sulit di Indonesia, nilai lebih pekerja dari Indonesia juga menjadi salah satu alasan. Orang Indonesia dikenal sangat ramah dan penurut, juga seakidah dengan penduduk Saudi. Ada juga anggapan, paras muka tenaga kerja wanita rata-rata lebih cantik daripada pekerja dari negara pengekspor lainnya. Tidak jarang majikan yang menginginkan pembantu dirumahnya mensyaratkan wajah rupawan, postur tubuh proposional, dan terpenting usia tidak tua.

Tsaub Orang Saudi

Pernah mendengar orang Arab kaya yang hijrah ke Eropa atau Amerika lantas hidup seperti layaknya budaya Barat? Orang Arab yang mempunyai split personality seperti mereka, tidak hanya tinggal di luar negeri, tetapi ada juga yang tetap tinggal di dalam negeri. Membedakan mereka sangat mudah dari pakaian yang dikenakan sehari-hari, dari yang umumnya menjaga tradisi Arab dengan baju jubah yang serba putih (tsaub) dengan pakaian casual pop. Tapi ada juga alasan yang cukup akal bagi yang menolak memakai pakaian khas Arab tersebut, “shuf… tidak ada yang diproduksi dalam negeri, semuanya bahannya dari luar negeri.” Ya, orang Arab yang menunjukkan nasionalismenya?

Menjaga Iman

Konon berselancar di internet tiada sekat yang membatasi untuk apa saja yang diinginkan netter. Tapi, jangan salah dengan di Saudi, akses untuk hal-hal yang merusak iman menurut Kerajaan Saudi, sangat dijaga dengan blokir untuk semua situs porno dan yang berisi propaganda diskriminasi Islam. Bersyukurlah pemuda Saudi, karena masih ada yang menjaga mereka dari propaganda yang merusak di internet. Idealnya, bukan hanya situs internet yang merusak yang semestinya diblokir, tapi lebih penting moral orang tua memberikan teladan bagi anak-anak Saudi yang lebih berani dan nakal daripada anak-anak Indonesia pada umumnya.

Joget Ngebor di Saudi

Saat ramai-ramainya Indonesia digoyang joget dangdut ngebor, gergaji, patah-patah, dan seterusnya, ternyata jauh sebelum itu budaya joget erotis sudah mentradisi di Saudi. Goyang khas Timur Tengah memang tidak semuanya sama, masing-masing mempunyai ciri khas, meskipun beberapa di antaranya sama persis. Yang pasti, tarian yang menjadi simbol Timur Tengah adalah mengandalkan goyangan bagian tubuh ke bawah. Meskipun memakai pakaian yang membentuk tubuh, penari tetap terbalut kain tidak terbuka sama sekali. Tetapi bisa jadi berbeda jika dilakukan di pesta privat.

34. 80 KM Perjam

Kalau orang Saudi disuruh menyopiri mobil di Indonesia, kira-kira mampu nggak? Jawabannya sangat memungkinkan terjadinya tabrakan atau minimal stress. Kenapa? Apakah mereka tidak mahir menyopir? Tidak, justru mereka cukup lihai berkendara mobil dengan kecepatan tinggi dan sangat tidak terbiasa menghadapi kemacetan dan tidak disiplinnya sopir di Indonesia. Di jalanan Saudi, kendaraan rata-rata dipacu 80 KM/jam. Berbeda dengan di Indonesia, di negeri petro dollar ini jalanan empat kali lipat besarnya daripada jalan lalu lintas Indonesia. Dan yang lebih penting lagi, di Saudi penduduknya yang sedikit, sehingga mobil juga jarang yang melintas.

Untuk Apa Kerja di Saudi

Siapa yang tidak kenal Indonesia? Negara kaya sumber daya alam, cuaca tropis yang bersahabat, dan penduduknya yang ramah. Tapi siapa juga yang menutup mata tidak sedikit tenaga kerja Indonesia (TKI) yang minim keahlian dikirim ke luar negeri ke berbagai negara? Dan cerita tentang TKI ini sudah menjadi konsumsi kita di Tanah Air melalui media massa, berita tentang pelecehan, perbudakan, penyiksaan, dan penghinaan lain terhadap hak martabat manusia yang seharusnya memiliki persamaan derajat. Tapi apa boleh buat, ini karena kurangnya kemampuan untuk mengisi bidang-bidang yang membutuhkan keahlian yang dihargai ditambah pula kurang acuhnya pemerintah melindungi warga negaranya. Apalagi di negeri Saudi yang kerajaan dengan aturan berbeda jauh dengan Indonesia, saat tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia tidak tahu hak dan kewajibannya, kurang mampu berkomunikasi, sekaligus (maaf) kurang akal, kartini-kartini kita hanya dijadikan boneka aturan undang-undang yang konon menegakkan Syari’at Islam.[]

One thought on “Mati Ketawa di Dammam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s