Ada Apa dengan Syi’ah (2)

Persatuan umat Islam yang diperintahkan Allah ta’ala dalam surah Ali Imran ayat 103 adalah bersatu dalam kebenaran di atas tali Allah swt. Kebenaran tersebut telah sejelas-jelasnya diterangkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah, jika ada yang menyalahi kedua sumber tersebut, maka tidak akan mungkin digalang persatuan. Karena mustahil haqq dan bathil bersatu layaknya air dan minyak yang tak mungkin bercampur. Ahlu Sunnah wal Jama’ah dan Syi’ah memiliki akidah dan syari’at yang berbeda. Mana mungkin bersatu kelompok yang mempercayai periwayatan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dengan kelompok yang menganggap beliau pembohong dan munafik? Adakah kemungkinan bersatu dua golongan yang menganggap ziarah ke Baitullah sebagai salah satu rukun Islam dan golongan lain mengatakan ziarah ke makam imamnya lebih baik 30 kali lebih baik dari haji mabrur? Tulisan ini bagian kedua “oleh-oleh” dari pengajian triwulanan di kota Jubail, KSA, sekira 80 km dari kota tempat tinggal saya.

Iman Syiah Terhadap Malaikat

Dalam salah satu kitab pegangan Syi’ah yang sangat terpercaya, Biharul Anwar (23/320), diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah menciptakan dari cahaya wajah Ali alaihi wa salam tujuh puluh ribu malaikat, mereka memintakan ampunan untuknya dan karena mencintainya hingga hari kiamat.” Pernyataan yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut juga banyak tercantum dalam kitab Syi’ah lainnya seperti Kanzu Jami’ Al-Fawaid (hal. 334), Irsyadul Qulub (2/294), Tawilul Ayaat (hal. 634), Kasyful Ghummah fi Ma’rifatil A`immah (1/103), dan Miatu Minqobah (hal. 42).

Di antara tugas malaikat yang penting menurut Syi’ah adalah menangisi kuburan Al-Husein radhiyallahu ‘anhu. Dalam sebuah riwayat hadits versi Syi’ah, dari Abu Abdillah alaihi wa sallam, berkata: “Allah mewakilkan empat ribu malaikat di kubur Al-Husein, dengan bermandikan debu, mereka menangisi Al-Husein hingga Hari Kiamat.” (Wasail Syi’ah 1/318). Adapun malaikat disifati seperti dalam riwayat Syiah: “Malaikat tidaklah makan dan minum kecuali shlawat atas amirul mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihi wa salam dan mencintainya, dan memohon ampunkan kepada kelompoknya yang berdosa. Malaikat tidak mengetahui tashbih dan taqdis sebelum tasbih para imam alaihim salam, dan tasbih syi’ah kami.” (Biharul Anwar 26/344-34 & Jami’ul Akbar hal. 9).

Al-Quran versi Syi’ah

Muhammad bin Ya`qub Al-Kulaini dalam Ushul Al-Kaafi di bab “Innahu lam yajma’ Al-Quran kullahu illa al-a`immah“: dari Jabir, dia berkata: Aku mendengar Abu Ja’far berkata: “Tidaklah seorangpun dari manusia yang mengaku dirinya telah mengumpulkan Al-Quran secara utuh sebagaimana yang telah Allah turunkan kecuali dia berdusta, dan tidaklah seorang mengumpulkan dan menjaganya sebagaimana yang diturunkan kecuali Ali bin Abi Thalib dan imam-imam setelahnya.” Syaikh Syi’ah, Hisyam bin al-Hikam Al-Jahmi, berpendapat bahwa Al-Quran yang disimpan di masa khilafah rasyidin: Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, dan sesungguhnya yang hakiki telah diangkat ke atas langit saat para sahabat seluruhnya keluar dari Islam (murtad) sebagai yang mereka yakini. (At-Tanbih wal Radd hal. 25).

Adapun kitab yang pertama kali disusun di kaum Syi’ah yang mendoktrinkan keyakinan tentang tidak sempurnanya Al-Quran dan terjadi penambahan di dalamnya adalah kitab karya Syaikh Syi’ah Sulaim bin Quais Al-Hilali (wafat 90 H). Saat ajal menjemputnya, dia mewariskan kitabnya kepada Abban bin Abi ‘Ayyas dan tidak ada yang meriwatkannya kecuali dia dan inilah kitab pertama kali yang menunjukkan eksistensi paham Syi’ah. (lihat Rijalul Hali hal. 82-83, Rijalul Kasyi hal. 164, dll. Juga baca Adz-Dzari’ah Aqo Bazrak Ath-Thuruni 2/152 dan al-Fahrisat Ibnu An-Nadim hal. 219). Al-Majlisi, ulama terkemuka Syi’ah, mengomentari tentang kitab tersebut: “dan kitab tersebut ashl dari ushul Syi’ah, kitab tertua yang disusun dalam Islam.” Dan di abad ke-13 Hijriyah lebih gamblang lagi imam Syi’ah memperkuat keyakinan bahwa Al-Quran yang tersebar di kalangan umat Islam saat ini bukanlah asli, terdapat pengurangan dan penambahan, sebagaimana yang terungkap di kitab Fashlul Khithob fi Itsbati Tahrif Kitab Rabbi Al-Arbab, karya Husain An-Nuri Ath-Thobrosi (wafat 1320 H).

Syaikh Syi’ah, Al-Mufiid berkata: “Sesungguhnya banyak riwayat telah datang dari para imam al-hudaa dari keluarga Muhammad shallallahu wa alihi, mengabarkan tentang pertentangan Al-Qur`an, yang mana di dalamnya telah dihapus dan dikurangi oleh para pengkhianat.” Dia menambahkan: “Dan telah bersepakat Imamiyah, bahwa sesungguhnya para shahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penipu, mereka telah banyak menyalahi dalam penyusunan Al-Quran dan telah menyimpangkan kalimat yang diturunkan (Al-Quran) dan sunnah nabi, dan telah bersepakat mu’tazilah, khowarij, Az-Zaidiyah, Murji`ah, dan para ahli hadits atas pertentangan Imamiyah pada semua yang telah kami sebutkan satu persatu.” (Awail Maqolat hal. 13, 46, 53, 80)

Al-‘Amili, seorang syaikh Syi’ah berkata: “Dan menurutku dengan kebenaran yang jelas atas perkataan ini (terjadi perubahan Al-Quran oleh para sahabat) setelah meneliti dengan seksama berbagai riwayat hadits dan atsar, yang mana dengannya sebagai ketetapan dari kebutuhan madzhab Syi’ah, dan hal tersebut termasuk sebesar-besarnya kerusakan yang dilakukan atas paksaan para khalifah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman).” (Mir`atul Anwar wa Misykatul Asyror hal. 36, Muqadimah Al-Burhan hal. 49).

Syaikh Syi’ah yang lainnya, Al-Thubrusi, berkata: “Dan ini banyak sekali (perubahan Al-Quran yang dilakukan Khalifah Rasyidin),” hingga berkata Ni’matullah Al-Jazairi di sebagian karyanya sebagaimana yang diceritakan darinya: “Sesungguhnya sangat banyak riwayat yang menunjukkan atas itu (perubahan Al-Quran) hingga lebih dari dua ribu hadits.” (Lihat Fashlu Khithab hal, 125 karya Husain An-Nuri Ath-Thubrusi). Dan berkata Al-Jaziri: “Sesungguhnya klaim atas pemeliharaan Al-Quran dan penjagaannya, mengunggurkan banyaknya riwayat yang mutawatir atas kejelasan adanya perubahan dalam Al-Qur`an.” (Al-Anwar An-Ni’maniyah 2/357). Abu Al-Qosim Al-Musawi Al-Khuwai berkata: “Sesungguhnya pengurangan atau penambahan pada huruf-huruf atau harakat, benar-benar terjadi dalam Al-Quran.” (Al-Bayan fi Tafsir Al-Quran 1/136).

Begitulah pendapat-pendapat para imam Syi’ah tentang Al-Qur`an yang dijamin oleh Allah ta’ala kesempurnaannya; tidak akan pernah ada yang mampu mengurangi atau menambah-nambahi. Pernyataan para imam Syi’ah di atas telah nyata-nyata melecehkan Allah, menganggap Rabb Alam Semesta ini tidak mampu menjaga keutuhan Al-Qur`an sehingga dapat dirubah, dengan pengurangan dan penambahan oleh tangan manusia yang dituduhkan kepada Khalifah Rasyidin. Padahal Allah dengan tegas berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya( QS. Al-Hijr: 9).

Beberapa Contoh Ayat Dalam Al-Qur`an yang Tidak Asli Lagi Menurut Syi’ah

Menurut Syi’ah, ayat 23 dari Surah Al-Baqarah yang berbunyi (artinya): “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami, buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” Dalam ayat tersebut seharusnya ada kalimat “fii Ali” (kepada Ali) setelah kalimat “yang Kami wahyukan kepada hamba Kami” (Al-Kafi 1/417). Ayat lain yang dianggap terdapat pengurangan oleh para shahabat adalah ayat 66 surah An-Nisaa yang berbunyi (artinya): “Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” Dalam kitab terpercaya Syi’ah, Al-Kaafi, seharusnya setelah kalimat “… Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka” terdapat kalimat “fii Ali” (kepada Ali). (Al-Kaafi 1/424).

Dalam hadits versi Syi’ah yang diriwayatkan Al-Kulaini dengan sanad dari Abi Abdillah bin Sannan bin dari Abu Abdillah alaihi salam, dalam firman Allah (arti dari surah Thoha ayat 115): “Dan sesungguhnya telah Kami perintahkankepada Adam dahulu kalimat pada Muahmmad, Alim, Fathimah, Al-Hasan, Al-Husein, dan para imam alaihim salam serta keturunannya, maka ia lupa (akan perintah itu).” Demikianlah (semestinya ayat tersebut), demi Allah, yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu wa ‘ala aliihi.” (Al-Kafi 1/16). Syaikh Syi’ah, Al-Majlisi, mengatakan: “Sesungguhnya khobar ini dan banyak lagi riwayat yang shahih, dengan jelas menerangkan adanya kekurangan dalam Al-Qur`an dan perubahan.” (Miatul Uqul fi Syarhi Akhbar Ali Ar-Rasul 2/536).

Dan sangat fantantis, Syi’ah mempunyai keyakinan dalam penetapan jumlah ayat Al-Qur`an, sejumlah 70 ribu ayat. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Al-Kulaini dalam kitab Al-Kafi (2/134, 242), menuliskan hadits dari Hisyam bin salim dari Abi Abdillah ‘alaihi salam berkata: “Sesungguhnya Al-Quran yang dibawa oleh Jibril alaihi salam kepada Muhamma shallallahu alaihi wa alihi sebanyak 70 ribu ayat.”

Sunnah Dalam Ajaran Syi’ah

Pengertian sunnah dalam ajaran Syi’ah dijelaskan dalam Ad-Dustur Al-Islami li Jumhur Iran hal. 20 (terbitan Wizarah Al-Irsyad Al-Iraniyah): “Sunnah al-ma’shumiin (para imam yang suci dari salah dan dosa) ‘alaihim salam). Hal ini berdasarkan penjelasan mereka; “karena mereka para imam yang ma’shum diberi kedudukan oleh Allah sebagaimana lisan nabi, untuk menyampaikan al-ahkam al-waqiiyah, maka tidaklah mereka mengeluarkan hukum-hukum tersebut kecuali sebagaimana Allah kehendaki.” (Ushulul Fiqih Al-Muqorin, Al-Mudzafir 3/51).

Kedudukan para imam Syi’ah yang agung juga terdapat dalam perkataannya. Bagi umat Syi’ah, perkataan imamnya sama dengan firman Allah ta’ala dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Sesungguhnya perkataan dari setiap imam yagn tampak merupakan perkataan Allah ‘azza wa jalla, dan tidak ada pertentangan dalam perkataan mereka sebagaiman tidak ada pertentangan dalam firman Allah ta’ala.” (Syarh Jami’ 2/272). Dalam Aqoid Al-Imamiyah (hal. 66) karya Al-Mudzafir: “Sesungguhnya para imam merupakan penerus kenabian.” Lebih hebat lagi, Al-Khumaini mengatakan: “Sesungguhnya ajaran para Imam sebagaimana pengajaran Al-Quran, wajib hukumnya untuk mengamalkan dan mengikutinya.” (Al-Hukumah Al-Islamiyah hal. 13). Syaikh Syi’ah Muhammad Jawwad Mughniyah mengibaratkan perkataan para Imam Syi’ah: “Perkataan orang yang suci dari dosa dan perkaranya yang sempurna sebagaimana ayat yang diturunkan Allah Yang Maha Tahu: “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4) (Al-Khumaini wa Daulah Al-Islamiyah hal. 59)

Karena keyakinan tersebut di atas, Syi’ah juga menganggap bahwa risalah kenabian rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa syari’at agama, belum disampaikan secara utuh sempurna hingga wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ulama pembesar Syi’ah, Syihab Ad-Din An-Najfa mengatakan: “Sesungguhnya nabi shallallahu wa alihi memiliki waktu yang sempit dan tidak memiliki keluasan waktu untuk menyampaikan keseluruhan hukum-hukum agama…. Dan rasul mengedepankan kesibukkan dengan peperangan atas penjelasan secara detail tentang hukum-hukum… terutama bersamaan dengan ketiadaan persiapan manusia di jamannya untuk menerima seluruh hukum-hukum agama yang dibutuhkan sepanjang masa.” (Syihabuddin An-Najfa wa Ta’liqotihi ‘ala Ihqoqil Haq, 2/288-289). Al-Khumaini menambahkan: “Dan kami katakan: sesungguhnya para nabi belum sampai kepada pelaksanaan dari maksud-maksud mereka, dan sesungguhnya Allah akan mengutus pada akhir jaman seorang yang melaksanakan perkara-perkara para nabi (yang belum tuntas tersebut)…” (Mas`alatul Mahdi ma Mas`alatul Ukhro, hal. 22).

Dalam jalur periwatan hadits, Syi’ah menolak seluruh periwatan hadits dari para sahabat kecuali melalui jalur “Ahlu Bait.” Berkata Ali Kasyif Al-Ghatha bahwa pendirian Syi’ah: “Mereka tidak dianggap sebagai as-sunnah kecuali yang shahih dari jalan Ahlu Bait… adapun yang diriwayatkan seperti oleh Abu Hurairah adan Samrah bin Jandab…. Maka tidak apa-apanya bagi Al-Imamiyah kecuali senilai seekor nyamuk.” (Ashlu Syi’ah wa Ushuluha hal. 79).[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s