Ummul Hammam di Riyadh

Layaknya pelancong yang baru pertama kali menginjakkan kaki di daerah baru, saya juga tidak hafal kemana jalan keluar (makhraj dalam bahasa Arab atau exit di bahasa Inggris) stasiun setelah turun dari kereta api. Cara yang mudah agar tidak tersesat; ikuti ke arah mana mayoritas orang-orang berjalan begitu tiba di stasiun, ke situlah mereka menuju pintu keluar.

Nah, tujuan berikutnya adalah tempat menginap. Sebenarnya bos di kantor membekali uang yang cukup untuk sewa kamar tidur di hotel. Tapi saya sudah janjian dengan senior alumni Gontor untuk bersilaturrahmi. Lagi pula, Riyadh kota asing bagi saya, perlu ada orang yang dikenal dan dipercaya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah saling berbalas dengan pesan singkat dan sedikit menit berbicara via telepon genggam, saya naik taksi ke tempat yang dituju; kediaman salah seorang alumni Gontor di Hayy Ummul Hammam, Syari’ al-‘Arbain.  

Orang Arab biasa menyebut taksi dengan limuzin, atau cukup dengan taxi saja. Bagi kita orang Indonesia, limusin atau limuzin menurut lidah orang Saudi, mobil sedan panjang super mewah yang biasanya dipakai selebritis atau pejabat penting. Seperti taxi, yang aslinya dari bahasa Inggris, telah terserap menjadi bahasa Arab. Jadi, sama seperti bahasa kita, bahasa Arabpun banyak memasukkan istilah asing sebagai bahasanya. Kalau menurut bahasa Arab yang fushah, taxi adalah “sayyaratul ajr“.

Awalnya dari stasiun ke tempat tujuan di atas, sopir taksi meminta ongkos 50 riyal. Wah, ini jangan-jangan kemahalan, saya ragu, meskipun tidak tahu jauh-dekatnya lokasi yang akan saya capai. Ternyata benar, senior saya, alumni Gontor, mengiformasikan cukup 25 riyal saja untuk ongkos taksi. Tidak mau ditawar, saya coba cari taksi lain. Karena suka dengan tren mobil, saya tidak mau naik sembarang taksi. Pertama, saya cari mobil yang bagus atau keluaran terbaru; kedua, tawar ongkos hingga harga terendah. Bersyukur malam pertama di Riyadh tersebut saya dapatkan mobil taksi Nissan Altima keluaran terbaru plus harga 25 riyal, sesuai tarif yang diinginkan. O ya, taksi di Saudi kualitas mobilnya tidak kalah dengan mobil pribadi, dari Toyota keluaran 80-an hingga Camry sekelas pegawai bank di Indonesia, selain merek-merek lain keluaran anyar.

Di tengah perjalanan, sopir taksi yang berkebangsaan Arab, ternyata senang sekali berbicara banyak hal. Dia bilang, taksi di Riyadh wajib ngebut dan harus pintar curi jalan kosong untuk menyerobot. Kalau tidak begitu, bisa berjam-jam bawa satu penumpang ke tempat tujuan. Jalanan di kota Riyadh, menurutnya, padat dengan kendaraan. Hmm…. Saya kira gak aneh kok komentar si sopir, di mana ada ibu kota negara yang tidak padat? Apalagi di Jakarta, ibumacet sedunia!

Ketika si sopir berhenti berbicara, saya coba tanya-tanya saja, gak ada salahnya. “Kenapa tempat yang akan kita tuju ini disebut Ummul Hammam?” Tanya saya iseng. Dengan mudah dia jawab, “Dulu, di daerah ini pusat berkumpulnya ‘hammam’. Ma’lum hammam?” Tanya dia juga “Tahu hammam?” A ha, saya ngerti, hammam kalau bahasa kita adalah merpati. Tapi menurutnya sekarang sudah tidak ada lagi merpati berkumpul, mungkin karena perubahan pembangunan kota dan kuantitas penduduk yang bertambah. Di mana-mana, hampir seperti itu, hutan jadi kota, sawah jadi perumahan, laut diuruk jadi daratan, ulah tangan manusia memang merubah ekosistem alam ini.

Saya tidak tahu pasti jawaban sopir di atas apakah berdasarkan ilmu atau sekedar “qola wa qila” (mulut ke mulut). Tapi yang pasti, bahwa kata “ummu” yang berarti “ibu” menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap pusat, asal, paling umum, dan sejenisnya selalu menggunakan kata “ibu.”

Sisa malam hari saya habiskan di kediaman salah seorang alumni Gontor yang bekerja di KBRI Riyadh sebagai local staff.* Beberapa hal saya sampaikan dan diskusikan malam menjelang istirahat dan sebelum ke KBRI esok harinya. Tentunya, banyak hal dari pembicaraan tersebut terkait tugas kantor yang saya emban dan hobi saya belajar; belajar agama, tradisi arab, pekerjaan, dst. (Kantor KBRI Riyadh, ba’da Ashar, 15 R. Awwal 1431)

M U H I M

* Visa local staff dengan diplomat tidak sama alias berbeda. Saat ini Deplu sudah mulai membuka kesempatan lulusan pesantren dan Timur Tengah untuk berkarir di departemennya. Yang lebih menarik lagi, local staff untuk KBRI Saudi juga masih membuka lowongan kerja bagi alumni Gontor yang berminat. Walakin yufadhal sabaq amal fi su’udiy likay ya’rif kaifiyah dawwam hunaa…… man arghaba fiiihhhh????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s