Untuk Sebuah Pengalaman

Perjalanan ke Riyadh, ibu kota Kerajaan Arab Saudi, bukanlah perjalanan keluar kota untuk yang pertama kali. Tetapi, mengkhususkan ke kota Riyadh, apalagi dengan tujuan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), adalah kali pertama. Mengemban misi tugas kantor, saya juga ingin bersilaturrahmi dengan senior alumni Gontor yang selama ini hanya kenal dan berkomunikasi via internet. Tulisan ini sekedar menuangkan isi hati, ide, dan gagasan, campur aduk seperti pecel yang saya lahap untuk sarapan pagi hari ini di kantin KBRI Riyadh.

Sengaja saya pesan tiket kereta api (KA) hari Sabtu sore. Pertama, saya ingin mencari pengalaman merasakan gerbong KA di Saudi, dan kedua, lokasi stasiun di kota Dammam tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Rencana sebelumnya, saya akan berangkat Kamis sore dan menghabiskan weekend di Riyadh dan bertandang ke KBRI di hari Sabtu. Tetapi kemudian batal, setelah mendapat telepon dari salah satu staf lokal KBRI, bahwa Sabtu yang biasanya sebagai hari awal aktivitas kantor di Saudi, diliburkan karena Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ya, lucu juga sih, di negeri Raja Abdullah ini, para ulamanya menganggap bid’ah perayaan mauludan, tetapi tampaknya KBRI mengikuti kalender yang berlaku di Tanah Air, memerahkan tanggalnya.

Setengah jam sebelum keberangkatan, saya telah tiba di Mahattah Sikkatul Hadid alias stasiun KA kota Dammam. Tidak seperti di Tanah Air, tempat-tempat publik seperti stasiun di negeri ini bersih dan sepi. Selain dua hal tersebut, pemanfaatan teknologi juga terasa dari semenjak pembelian tiket dengan sistem e-ticketing meski kelas ekonomi hingga “hotspot area” bagi pecandu browsing di dunia maya. Tapi, tentang pelayanan dan keramahan pegawai pemerintah atau untuk kereta ini “Saudi Railway Organization,” hampir sama rata di seluruh Saudi: mati senyum dan nihil keramahan. Seperti yang kita tahu, karakter orang Arab yang keras, kasar, dan sifat-sifat lain peninggalan jaman Jahiliyah masih ada diewarisi warga Saudi, sebagiannya.

Setelah dipastikan tiket yang kita beli dengan scan dan menunjukkan identitas semacam KTP, kita dipersilahkan menuju gerbong kereta api. Mungkin karena kelas ekonomi, tidak ada penentuan nomor duduk kecuali gerbongnya saja nomor 7, persis cara PT. KA di Indonesia. Penentuan gerbong di Saudi sangat penting, karena jika kita salah masuk gerbong, bisa-bisa diusir karena setiap gerbong dibedakan; khusus untuk keluarga (perempuan) dan spesial bagi laki-laki saja.

Saya sempat berkeliling gerbong 2 kali, untuk memastikan kursi yang kosong di samping jendela. Tapi apa boleh buat, semua kursi dekat kaca jendela terisi oleh penumpang lain yang lebih dahulu masuk gerbong. Akhirnya saya putuskan duduk di samping seorang Arab Sudan. Asiknya, meski saya beli kelas ekonomi, tapi gerbongnya sekelas eksekutif di Indonesia, bahkan lebih bagus; teve LCD setiap empat-lima bangku dan pendingin yang rata. Karena negara Islam, keberangkatannya dikomando dengan doa oleh sebuah program yang diperdengarkan melalui speaker di dalam gerbong. Tentang pengeras suara ini, telinga saya sangat terganggu kalau pengurus KA mengumumkan “kita telah tiba di kota Hufuf, Al-Ahsa” atau “Saat ini telah masuk waktu shalat maghrib”.  Isi pengumumannya memang penting, tapi cara menyampaikannya dengan speaker yang keras volumenya serta intonasinya yang terdengar “hard” di telinga saya yang asal Indonesia, sangat mengganggu ketenangan.

Setelah berhenti sejenak di stasiun kota Baqiq*, satu jam dari kota Dammam, seorang petugas KA tiba mendorong gerobak yang di atasnya tersedia minuman dan makanan ringan. Nah, yang satu ini sama dengan di Indonesia, jajanan di atas KA harganya berlipat ganda alias lebih mahal daripada di warung-warung umumnya. Untuk teh plus halib dan roti keju ukuran sedang, ternyata saya dikenai bayar 5 SAR (Saudi Arabia Riyal) atau Rp 11.500,- dengan kurs 1 SAR = Rp 2.300,-.  Terus terang, beli teh dan roti di atas gerbong KA tersebut bukan karena saya kehausan atau lapar sekali, tetapi lebih karena ingin mencoba sebagai, lagi-lagi, sebuah pengalaman. Ya, saya yakin experience is the best teacher, believe it! (Riyadh, 15 Rabi’ul Awwal 1431) [bersambung]

U R G E N

*Baqiq adalah kota kecil berdekatan dengan kota Al-Ahsa, wilayah timur Kerajaan Arab Saudi. Orang yang pernah ke sana dan sering lihat film Hollywood, mengibaratkan Baqiq seperi kota Texas di Amerika. Bukan orang2nya yg bule pake pakaian koboy, tapi lebih karena masih banyak lahan kosong tandus bergurun-gurun dan pembangunannya yang belum semaju kota-kota lain di Saudi. Ada yang menuduh Raja Saudi memang “menelantarkan” kota ini karena komunitas Syi’ah tumbuh subur di kota kecil ini. Teman saya sampai bercerita: “Kalau tiba waktu shalat, meski saya pergi shalat ke masjid, kantor masih ada yang tetap menjaga, karena rekan2 di kantor semuanya Syi’ah yang shalatnya cuma 3 kali; shubuh, dzuhur-ashar diqashar dan maghrib-isya juga disatukan.” Hmmmm….. apa gerangan kitab suci Syi’ah….?????

One thought on “Untuk Sebuah Pengalaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s