Satu Hari di Tanah Air

Menginjakkan kaki di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh, ibu kota Kerajaan Arab Saudi, serasa kembali ke Tanah Air. Bagaimana tidak? Di mana-mana di lingkungan kantor KBRI bertemu orang Indonesia dan berbicara bahasa Indonesia. Bahkan, menu makan yang lama menghilang di atas meja makan, hadir kembali dengan banyak pilihan; dari pecel, bakso, sop kikil, tempe bacem, mi bihun dan kawan-kawannya. Alhamdulillah, Allah masih memberi nikmat kesehatan hingga dapat merasakan nikmatnya makan.

Mungkin karena sehari-hari rutininas saya mejemukan antara kantor dan flat, serta jalanan yang saya lewati itu-itu saja, begitu tiba di kantor KBRI, serasa terbang jauh 9 jam ke Indonesia. Pagi-pagi jam 8, sudah ramai orang beraktivitas. Meski tetap terlihat satu-dua-tiga orang berpakaian “tsaub” ala Saudi atau serba hitam untuk wanita, tapi orang-orang berkulit sawo dan hidung pesek lebih mendominasi yang tampak di depan mata.

Bahkan, entah mengapa, saling sapa dan bercengkeramah lebih cepat cair seakan-akan lama kenal. Saya termasuk orang yang terbilang baru di dunia Arab, makanya tidak segan-segan saya bertanya tentang apa saja agar dapat menuntaskan tugas dari kantor di KBRI ini.

Cuaca di Riyadh hari ini tidak begitu panas tetapi agak dingin karena hembusan angin seperti bercampur freon, sedingin mobil yang ber-ac. Makanya, ketika selesai wudhu untuk shalat Dzuhur, kulit yang dihempas angin jadi terasa lebih dingin. Menariknya, suasana shalat seperti di Tanah Air kembali terasa saat berjama’ah dengan sesama muslim Indonesia. Terutama, saat selesai salam, makmum kanan-kiri mengulurkan tangan memohon berjabat tangan, sebuah tradisi non-Arabi. Jika merujuk ke buku fikih yang dianut ulama bermanhaj Salaf Shalihin, sesungguhnya tidak ada contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjabat tangan usai salam di tahiyyatul akhir shalat.

Acara yang tidak terlewatkan selepas shalat Dzuhur adalah makan siang. Lagi-lagi, saya serasa ada di kampung halaman. Selain menu makannya, teve yang dipasang hidup di pojok kantin menayangkan acara hari minggu SCTV. Hmmm…. Penyanyi rock band berambut gondrong dieluk-elukan penonton pria dan wanita yang berbaur tanpa sekat. Pembawa acara yang tampil seksi dilatari dekor panggung di tempat terbuka hijau khas kesejukan hawa Indonesia. Dan seterusnya…. Antara rindu dan takut; bahwa lama tak menyaksikkannya dan ruh religius Islam tidak bernyawa…..

Alhamdulillah, sebelum adzan Ashar berkumandang, saya telah dapat merampungkan segala urusan kantor di Dammam. Jadi, waktunya kembali. Tapi tampaknya malam ini saya putuskan tidak kembali langsung ke Dammam, satu malam lagi untuk menikmati ibu kota Saudi ini, meski hanya melihat dari kaca mobil Toyota Fortuner milik senior* saya; Faishaliyyat dan Kingdom Building, two icons belong to Riyadh City. (Hayy Umm Al-Hammam, tengah malam, 15 R. Awwal 1431)

P E N T I N G

*Alhamdulillah, alumni Gontor di Saudi Arabia anwa wa asykal fi majal syuglihi….. dari yang berdasi terhormat bekerja di ruang ac, ustadz dai penyeru amr ma’ruf pencegah nahi munkar, pramuniaga, mahasiswa, atau mutarjim misliii wa maa asbaha dzalika……. wallahu khalaqa wa qaddara….. la tandzur ila man ‘ala minkum….. ila akhirihi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s