”KELUARKANLAH KAUM MUSYRIKIN DARI JAZIRAH ’ARAB!”

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ta’ala ‘anhuma, bahwasannya ia berkata : “Hari Kamis. Ada peristiwa penting di hari Kamis.”. Kemudian ia mulai menamgis hingga air matanya membasahi tanah. Setelah itu ia melanjutkan perkataannya : Pada hari Kamis sakit Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sangat parah dan beliau bersabda : “Bawa kemari kertas tulis untuk aku tuliskan wasiat kepada kalian yang dengannya kalian tidak akan tersesat selamanya”. Mendengar sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tersebut para shahabat berselisih, padahal di depan beliau seharusnya tidak terjadi perselisihan. Mereka berkata : “Apakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam akan wafat ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tinggalkanlah aku, karena demikian itu lebih baik daripada kalian berada di sini dengan perselisihan”. Menjelang wafatnya beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berwasiat tiga hal : 1) Keluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah Arab, 2) Berikan hadiah kepada delegasi/utusan dari luar sebagaimana yang biasa aku lakukan”. Ibnu ‘Abbas berkata : “Yang ketiganya aku lupa”

[HR. Bukhari no. 2888 dan Muslim no. 1637]

Asy-Syaikh Jamal bin Furaihan Al-Haritsi berkata :

فإن ذلك محمول على سكناهم وتملكهم فيها واتخاذها وطناً لهم وليس العيش المؤقت لمدة يراها ولي أمر المسلمين لمصلحة المسلمين.

”Sesungguhnya makna hadits tersebut dibawa pada pemahaman larangan untuk tinggal, memiliki hak kepemilikan tanah, dan menjadikannya sebuah negara bagi mereka (kaum musyrik). Tidaklah hadits tersebut bermakna larangan bagi kaum musyrikin tinggal sementara waktu sesuai dengan ijin waliyul-amri kaum muslimin untuk sebuah kemaslahatan bagi kaum kaum muslimin.

وهذا تراه في فعل النبي صلى الله عليه وسلم حيث أنه هو القائل والآمر بإخراج المشركين واليهود من جزيرة العرب.

Pemahaman hadits ini dapat Anda lihat pada perbuatan Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dimana beliau adalah orang yang mengucapkan hadits ini dan yang memerintahkan untuk mengeluarkan kaum musyrikin serta Yahudi dari Jazirah ’Arab.

إلا أنّا نجد أن النبي صلى الله عليه وسلم بعد فتح خيبر أبقى اليهود في أرضهم يعملون في الزرع وشاطرهم على ما يخرج منها كما في حديث ابن عمر -رضي الله عنهما- عند البخاري : ( 2206،2204،2203،2165) وغيرها وسيأتي نصه قريباً .

Diantaranya, kita akan mendapati bahwa setelah penaklukan Khaibar, Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam masih mengijinkan kaum Yahudi untuk tinggal di daerah mereka untuk mengerjakan pertanian dan (memberikan persyaratan untuk) membagi hasilnya sebagaimana diterangkan dalam hadits Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma dalam Shahih Al-Bukhari no. 2165, 2203, 2204, 2206; dan yang lainnya sebagaimana akan disebutkan tidak lama lagi.

واستمر الحال كذلك في عهد أبي بكر الصديق وصدراً من خلافة عمر ثُمَّ أجلاهم عمر بن الخطاب عندما رأى ذلك واستغنى عنهم وهذا يكون بتقدير وشرط الإمام.

Dan hal seperi itu terus berlangsung hingga masa kekhalifahan Abu Bakr Ash-Shiddiq dan awal kekhalifahan ’Umar radliyallaahu ’anhuma. Kemudian ’Umar bin Khaththab mengeluarkan mereka setelah beliau memandang bahwa keberadaan mereka sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan hal itu dapat berlangsung sesuai dengan pertimbangan dan syarat yang diberikan imam (pemimpin kaum muslimin).

ولو استعرضنا بعض أقوال الأئمة في ذلك بإيجاز لا تَّضح الأمر وبان:

فالجمهـور يمنعون المشركـين من سكنى الجزيرة وهي ” مكـة والمدينـة وما والاها”.

Apabila kami perlihatkan sebagian perkataan para imam tentang kebolehannya (yaitu tinggalnya kaum musyrikin di Jazirah Arab), niscaya semakin jelaslah kedudukan perkara ini :

Adapun jumhur ulama melarang kaum musyrikin tinggal di Jazirah ’Arab, yaitu di Makkah, Madinah, dan sekitarnya.

ونجد أن الحنفية يجيزون السكنى فيها لهم مطلقاً إلا المسجد.

Dan kami mendapatkan bahwa kalangan ulama Hanafiyyah membolehkan tinggal di Jazirah ’Arab secara mutlak kecuali di Masjidil-Haram.

وعن مالك يجوز دخولهم الحرم للتجارة.

Diriwayatkan dari Malik (bin Anas) bahwa beliau membolehkan kaum musyrikin memasuki sekitar Masjidil-Haram untuk tujuan berdagang.

وقال الشافعي: لا يدخلون الحرم أصلاً إلا بإذن الإمام لمصلحة المسلمين خاصة.

نقل هذه الأقوال ابن حجر في الفتح: ( 6/ 171).

Asy-Syafi’i berkata : ”Pada asalnya, tidak boleh bagi kaum musyrikin memasuki Masjidl-Haram, kecuali dengan ijin Imam untuk tujuan kemaslahatan kaum muslimin secara khusus.

Beberapa perkataan di atas dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fath (6/171).

فالحاصل: أن السماح للكافـر في العيش في جزيرة العـرب إنما ذلك راجع لتقدير ولي الأمر المسلم للمصلحة ، وبشرط ، ولفترة من الزمن دون تمكينهم من السكنى فيها مطلقـاً ، وذلك لما أخرجـه البخـاري: (2983 ، 2213) من حديث ابن عمر -رضي الله عنهما-:

« أن… رسول الله صلى الله عليه وسلم لما ظهر على خيبر أراد إخراج اليهود منها، وكانت الأرض حين ظهر عليها لله ولرسوله صلى الله عليه وسلم وللمسلمين، أراد إخراج اليهود منها فسألت اليهود رسول الله صلى الله عليه وسلم ليقرهم بِها أن يكفوا عملها ولهم نصف الثمر، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم: « نقركم بها على ذلك ما شئنا » فقروا بها حتَّى أجلاهم عمر إلى تيماء وأريحاء.

Kesimpulannya : Pemberian ijin kepada kaum kafir untuk tinggal di Jazirah ’Arab dikembalikan kepada pertimbangan Waliyyul-Amri Muslim untuk satu kemaslahatan , dengan persyaratan, dalam kurun waktu tertentu, tanpa memberikan kesempatan untuk tinggal di Jazirah ’Arab secara mutlak. Hal itu didasarkan oleh riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari (no. 2983, 2213) dari hadits Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَا ظَهَرَ عَلَى خَيْبَرَ أَرَادَ إِخْرَاجَ اْليَهُوْدِ مِنْهَا وَكَانَتِ اْلأَرْضُ حِيْنَ ظَهَرَ عَلَيْهَا للهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِلْمسْلِمِيْنَ وَأَرَادَ إِخْرَاجَ اْليَهُوْدِ مِنْهَا فَسَأَلَتِ اْليَهُوْدُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُقِرَّهُمْ بِهَا أَنْ يَكْفُوا عَمَلَهَا وَلَهُمْ نِصْفُ الثَّمَرِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُقِرُّكُمْ بهَا عَلَى ذَلِكَ مَا شِئْنَا فَقَرُّوْا بِهَا حَتَّى أَجْلاهُمْ عُمَرُ إِلَى تَيْمَاءَ وَأرِيْحَاءَ

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menaklukkan Khaibar, beliau menginginkan orang-orang Yahudi keluar. Hal itu disebabkan wilayah orang kafir yang ditaklukkan, maka ia menjadi milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum muslimin. Akan tetapi orang-orang Yahudi itu memohon kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk tetap tinggal di Khaibar, sementara mereka ingin mengelola tanah pertanian di situ dengan memperoleh separuh dari hasil panennya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka : “Kami mengijinkan kalian tetap tinggal di sini selama kami mau”. Maka orang-orang Yahudi tersebut tetap tinggal disitu sampai akhirnya mereka dipindahkan ke Taimaa’ dan Arihaa’ oleh ‘Umar radliyallaahu ‘anhu”.

قال ابن حجر في الفتح ( 7/ 498): وقد اشتملت قصة خيبر على أحكام كثيرة،ومنها جواز إجلاء أهل الذمة إذا استغنى عنهم. ا هـ .

بمعنى أنه يجوز للحاكم إبقاؤهم فيها ما رأى ذلك مصلحة للمسلمين. والله أعلم.

Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath (7/498) : ”Kisah penaklukan Khaibar ini mencakup banyak kandungan hukum. Diantaranya adalah pembolehan mengusir ahli dzimmah bila keberadaan mereka sudah tidak dibutuhkan lagi” .

Maksudnya, boleh bagi seorang hakim untuk membolehkan mereka tinggal jika dipandang bahwa hal itu sebagai satu maslahat bagi kaum muslimin. Wallaahu a’lam.

[dinukil darikitab Syarru Qatlaa Tahta Adiimis-Samaa’ : Kilaabu Ahlin-Naar, hal. 14-16. Kitab ini telah dibaca dan direkomendasi oleh Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzhahullah. Matan kitab bisa diperoleh di http://www.sahab.net/ ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s