500 Hadits Dhaif Seputar Ramadhan

LEBIH DUA TAHUN saya mengoleksi buku-buku berbentuk digital (e-book) dengan satu tema tentang puasa Ramadhan. Di antara puluhan buku pilihan tersebut, yang ingin saya bagi dari pengalaman membacanya, adalah kitab yang berjudul “Khomsumiah Hadits Lam Tasbut fi Shiyam wal ‘Itikaf wa Zakatul Fitri Wal ‘Idain wal Adhohi” (500 Hadits yang Tidak Dapat Dijadikan Landasan dalam Puasa, Itikaf, Zakat Fithri, Dua Hari Raya dan Kurban). Buku tersebut karya Ahmad Abdullah As-Silmiy, seorang khatib dan imam masjid Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab di Kerajaan Arab Saudi. Meskipun diakuinya bukan karya orisinil –beliau hanya mengumpulkan dari berbagai sumber referensi– buku ini memuat koleksi 500 hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah untuk beramal ibadah seputar puasa Ramadhan, ‘itikaf, zakat, Hari Raya ‘Ied, dan ibadah penyembelihan (kurban). Bagi Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang selalu berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, buku ini  sangat penting agar tidak terjerumus kepada amalan ibadah yang tidak bersumber dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dalam sambutannya di mukadimah, Ahmad Abdullah mengungkapkan bahwa kitab tersebut disusun dengan dua niat “tanbih” (peringatan), yaitu agar umat Islam mengetahui secara ilmiah dan rasional apa-apa yang dibicarakan dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kedua, agar umat Islam tidak terjerumus dalam bahaya (kebodohan) tetapi tidak dirasakannya. Penulis juga mengungkapkan bahwa buku ini tersusun setelah dia menyelesaikan risalahnya yang berjudul “Akhthoi Syai’ah wal ‘Itiqodaat Bathilah Tata’alaq bi Syahri Ramadhan wa Zakatul Fithri wal ‘Idain” (Kesalahan-kesalahan yang Tersebar dan Keyakinan-keyakinan Bahtil yang Terkait dengan Bulan Ramadhan, Zakat Fitrah dan Dua Hari Raya ‘Ied). 

Yang membuat saya tertarik untuk melanjutkan membaca, di dalam buku ini memuat hadits-hadits yang sangat populer di kalangan umat muslim di Indonesia karena seringnya disebut-sebut para penceramah di atas mimbar. Hal ini dikarenakan kualitas hadits tersebut, dari segi riwayat (sanad) maupun isi (matan), berderajat dha’if (lemah) bahkan maudhu’ (palsu). 

Sebelum menyebutkan ke-500 hadits yang dianggap tidak dapat dijadikan landasan beribadah —shaum, ‘itikaf, zakat, dua ‘ied dan kurban— penulis menjelaskan bagaimana semestinya menyikapi hadits dha’if. Hal ini penting disampaikan di awal bukunya, karena sebagian umat Islam mengamalkan hadits dha’if meski dalam urusan fadhail ‘amal (keutamaan beramal). Padahal, mereka yang berkeyakinan demikian, menurut penulis, lupa atau sengaja melupakan syarat-syarat dan ketetapan sebuah hadits yang dapat digunakan sebagai hujjah beramal, seperti kevalidan penyandaran hadits kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, meskipun sebagai fadhail ‘amal, kita tidak diperbolehkan mengamalkan kandungan hadits yang belum jelas sumbernya, terlebih lagi terkait dengan hukum-hukum syari’at. 

Dari hadits Abu Qatadah, berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar: “Wahai sekalian manusia, jauhilah menceritakan banyak hadits (dusta –pent) dariku, barangsiapa yang berbicara atasku, maka jangan sekali-kali berbicara kecuali dengan benar dan jujur, maka barangsiapa yang berbicara atasku padahal tidak aku katakan, maka akan menempati duduknya di neraka.” (lafadz hadits dalam Musnad Ahmad no. 22032). 

Dari sinilah, sebuah hadits harus benar-benar dipercaya periwayatan, dari perawi yang menyampaikan dengan benar (haqq) dan jujur (shidq) ucapannya bersumber dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak diriwayatkan oleh perawi yang benar, maka kita tidak tahu bahwa itu adalah benar dan jujur sebagaimana kualitas hadits-hadits dha’if. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Siapa saja yang berbicara tentangku dengan sebuah hadits dan ada yang berpendapat bahwa penyampainya (perawi –pent) adalah pendusta, maka dia (perawi –pent) adalah salah satu dari para pendusta.” (HR. Muslim dalam mukadimah As-Shahih). Ibnu Hibban mengomentari hadits tersebut: “Maka setiap keraguan dalam seseorang yang meriwayatkan (hadits –pent) apakah dia benar atau tidak benar, maka dia termasuk dalam pemberitaan hadits tersebut.” (Ibnu Hibban, Kitab Al-Majruhin 1/9). Seperti juga komentar Al-Hafidz Ibnu Hajar: “Maka, bagaimana mungkin kita beramal dengannya (hadits dha’if –pent).” (Ilmu Ushulul Bida’ hal. 160). Oleh karenanya, cukuplah Kitabullah dan sunnah Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, tidak perlu dan tidak membutuhkan lagi hadits-hadits dha’if

Adapula yang masih mengamalkan hadits dha’if dengan syarat-syarat; pertama, kelemahan dalam hadits tersebut tidak terlalu parah. Kedua, hadits dha’if tersebut berada di bawah satu tahap yang asal secara umum dan ketiga, tidak menyandarkan bahwa amalan tersebut berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penghindaran ancaman atas pendustaan apa-apa yang tidak dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dijuluki sebagai pendusta. Ketiga syarat tersebut, hendaknya juga disertai syarat yang keempat, yaitu sebagaimana yang dikatakan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 18/68: “Jika terkumpul banyak hadits tentang keutamaan (beramal –pent) yang lemah dengan memberikan ukuran atau batasan seperti shalat di waktu tertentu dengan bacaan tertentu, atau dengan sifat yang ditetapkan, maka tidak boleh hadits tersebut diamalkan.” Beliau juga mengatakan dalam “Qaidah Jalilah fi At-Tawashul wal Washilah” hal. 84: “tidak boleh menyandarkan dalam syari’ah kepada hadits-hadits yang dha’if yang bukan shahih dan tidak pula hasan.” 

Adapun yang benar dan tepat, maka sesungguhnya tidak boleh mengamalkan hadits dha’if secara mutlak sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan selaras dengan perkataan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya “Tabyiinu Al-‘Ajb” hal. 22: “Tidak ada perbedaan dalam mengamalkan hukum-hukum dengan hadits maupun hal-hal keutamaan beramal karena semuanya adalah syari’at.” Inilah yang disepakati oleh pada ulama dan pentahqiq hadits dari generasi terdahulu hingga sekarang, seperti; Yahya bin Mu’in, Bukhari, Muslim, Abu Zakaria An-Nisaburiy, ar-Raziyan, Abu zar’ah, Ibnu Hibban, Ibnu Hazm, Al-Khittabiy, Ibnu Al-Qayyim, Abu Syamah Al-Maqdisiy, Jalaludin Ad-Diwani, As-Syaukaniy, Shodiq Hasan Khan, Ahmad Syakir Al-Bani, dll. 

Terjadinya pengamalan hadits dha’if juga karena sebagian umat Islam tidak dapat membedakan antara “takhrij” dan “tahqiq”. Ahmad Abdullah pun merasa perlu menjelaskan bahwa yang dimaksud “takhrij” adalah penyebutan kitab-kitab hadits yang didalamnya disebutkan riwayat hadits atau penisbatan kepada imam dari imam-imam hadits seperti tertulis pada catatan kaki “riwayat At-Tirmidzi (80)” atau “riwayat Ibnu Majah (460).” Padahal penulisan atau penisbatan tersebut tidak menjamin atas keshahihan sebuah hadits. Misalnya At-Tirmidzi, telah meriwayatkan dalam sunannya banyak sekali hadits, tetapi sebagiannya shahih dan sebagian lainnya dha’if. Begitupula Ibu Majah, An-Nasai, Abu Daud, dan penulis buku-buku hadits lainnya. Kecuali Bukhari dan Muslim, keduanya yang cukup ditulis “riwayat Bukhari” atau “riwayat Muslim”, dalam kitab “Shahih Al-Bukhari” dan “Shahih Muslim”, semuanya merupakan hasil seleksi hadits-hadits shahih.

Oleh karenanya, “takhrij” adalah sesuatu yang berbeda dengan “tahqiq.” Penyebutan hadits di banyak kitab-kitab dan penyebutan periwayatnya bukanlah jaminan yang menunjukkan hadits tersebut adalah shahih, sebagaimana hadits yang terkenal dan beredar di umumnya umat Islam karena sering disebut-sebut di atas mimbar oleh para penceramah. Penulis di akhir mukadimahnya menukil perkataan As-Syaikh al-Muhadits Al-Bani dalam mukadimah kitabnya “Ghayatul Maram” (hal 4): “Mereka tidak dapat mempertanggungjawabkan apa yang banyak ditulis hari ini –sebagian mereka menisbatkan kepada hadits— pada catatan kakinya, meskipun menukil dari kitab dari kitab-kitab sunnah, tetapi mengabaikan untuk menjelaskan derajat haditsnya shahih atau dha’if, padahal ini bisa saja disampaikan dengan mengutip dari para imam (pentahqiq hadits –pent). Dengan cara mencatumkan hadits demikian, mereka diragukan telah melakukan tahqiq sebagaimana seharusnya saat mengutip sebuah riwayat hadits. Cara seperti penulisan hadits seperti ini, ‘tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar’ bagiku. Bahkan yang demikian lebih dekat sebagai perbuatan penipuan dan pemalsuan terhadap para pembaca atas nasehat dan manfaat bagi mereka meskipun para penulisnya tidak bermaksud demikian….” BERSAMBUNG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s