Menjadi TKI di Arab (lagi)

Belum lama menghirup sejuknya alam Indonesia, saya harus kembali lagi ke negeri Haromain. Bukan karena tidak rindu keluarga, teman, serta kampung halaman di Tanah Air, tetapi terlanjur teken kontrak kerja dengan sebuah perusahaan mie instan asal Indonesia yang terkenal, yang mempunyai cabang di Arab Saudi. Singkatnya, baru tanggal 8 Juni 2011 tiba di Tanah Air, kemudian di hari keempat pada bulan berikutnya di tahun yang sama, saya meninggalkan Indonesia tercinta lagi.  

Berpergian ke luar negeri dengan rute yang panjang dan memakan waktu berjam-jam di atas pesawat untuk kali ini bukan hal yang asing (9 jam perjalanan Indonesia-Arab Saudi). Tentunya, karena pengalaman sebelumnya. Diakui atau tidak, destinasi pesawat ke Timur Tengah bukanlah “tujuan yang elit.” Ini karena penumpang pesawat yang imaginya adalah orang-orang berduit, untuk ke negera Arab ini, jadi tidak berlaku. Maaf, ini karena tidak sedikit orang kampung seperti saya yang termasuk para TKI (baca: pahlawan devisa) lainnya, menjadi passenger yang dominan di dalam pesawat terbang. Tapi, ada tapinya, meskipun dari kampung, saya harus mempratekkan pesan kyai waktu nyantri di Gontor dulu; “asal jangan kampungan.” 

Singkat cerita, saya tiba di Dammam, Kingdom Saudi of Arabia, sebagai kota dan negara terakhir tujuan terbang. Sebelumnya sempat transit di bandara internasional Dubai sekitar 2 jam, kemudian berganti pesawat. Saya sudah dapat menebak, bagaimana aura Arab. Maklum, sebulan sebelum tiba di sini, selama dua tahun saya sempat makan, minum, dan menghirup udara di kota Dammam. So, skill komunikasi “maa fiih musykilah” (tidak ada masalah), hatta uang puluhan riyal pun masih memenuhi isi dompet saya begitu landing di King Fahd International Airport, walhamdulillah

Jam tiga kurang lebih pesawat berbendera Uni Emirat Arab, Ettihad, berhasil mendarat. Beberapa waktu setelah menunaikan shalat fajar (shalat Shubuh di Dammam jam 3 lebih sedikit), ada dua teman menjemput. Sesuai dengan kontrak yang saya setujui; perusahaan tempat bekerja saya akan menyediakan tempat tinggal dan menanggung biaya makan selama bekerja di Arab. Oleh karenanya, saya langsung diantar ke flat berlantai 3 yang khusus disewa sebagai tempat menginap para karyawan. Alhamdulillah, proses keberangkatan kerja ke Dammam pun semuanya ditanggung perusahaan tempat saya akan bekerja. Kalau saya mau, saya bisa mencari tempat tinggal sendiri kemudian membawa serta istri dan anak, semuanya ada tunjangan tertentu dari perusahaan. Hanya, prioritas saat ini penguasaan pekerjaan, mengingat lapangan pekerjaan yang akan saya hadapi adalah sesuatu yang sangat baru, apalagi tidak terkait secara langsung dengan background pendidikan dan pengalaman kerja saya sebelumnya, Allahu musta’an. BERSAMBUNG, in syaa Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s