Kapan kita mulai berpuasa Ramadhan?

Tidak ada perselisihan menjawab pertanyaan di atas,  karena seluruh umat Islam sepakat bahwa memulai puasa wajib pada tanggal 1 (satu) Ramadhan. Yang berbeda biasanya menetapkan hari tepatnya tanggal pertama di bulan penuh barakah tersebut. Tetapi jika kita mau merujuk dan tunduk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah, perbedaan yang berpotensi memecah umat ini tidak akan pernah terjadi. Bagaimana agar kita sepakat memulai puasa dan berlebaran bersama-sama tanpa berbeda hari?

Sejarah perselisihan pendapat (fikih) telah berlangsung bukan hanya pada hari ini, tapi telah berlalu ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Apapun perselisihan yang muncul dalam agama, tidak ada jalan keluarnya kecuali mengembalikan segala urusan tersebut kepada Allah dan RasulNya (Kitabullah dan Sunnah Rasulullah). Termasuk dalam hal menentukan awal bulan Ramadhan, hendaknya kita mengembalikannya kepada petunjuk agama ini. Dan kita perlu ingat kembali, bahwa agama ini telah sempurna, tidak diperlukan sedikitipun tambahan atau inovasi untuk petunjuk dalam ibadah.

Lantas bagaimana menentukan awal Ramadhan sesuai dengan Allah dan RasulNya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal. Jika terhalangi awan, sempurnakanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari.”  (Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim 1081). Hadits yang mulia ini merupakan petunjuk kepada kita agar memulai dan mengakhiri puasa dengan ru’yah (melihat) hilal (bulan). Jika pandangan melihat bulan tersebut terhalang awan karena mendung, maka yang diperintahkan Rasul adalah menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Karena hitungan hari dalam satu bulan tidak kurang dari 29 hari dan lebih dari 30 hari.  Di riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Janganlah kalian puasa hingga melihat hilal, jangan pula kalian berbuka hingga melihatnya (hilal). Jika kalian terhalangi awan, hitunglah bulan Sya’ban” [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim 1080]. Adapun mengakhiri puasa di bulan Ramadhan, caranya sama sebagaimana kita memulainya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Jika datang bulan Ramadhan puasalah tiga puluh hari, kecuali kalian melihat hilal sebelum hari ke tiga puluh.”  (HR. At-Thahawi dalam Musykilul Atsar No. 501, Ahmad 4/377, At-Thabrani dalam Al-Kabir 17/171).

Tetapi kita tidak perlu bersusah payah sendiri untuk melihat bulan pertanda masuknya bulan Ramadhan di atas. Karena jika telah dilihat orang lain dan beritanya benar dapat dipertanggungjawabkan, seperti pemerintah yang berkuasa, maka cukuplah bagi kita mentaatinya. Mematuhi pemerintah dalam hal ini, selain untuk menjaga persatuan dan kesatuan kaum muslimin, juga sebuah kewajiban sebagaimana perintah Allah:  “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”  (QS. An-Nisa: 59).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya, berpendapat bahwa kata “ulil amri” pada ayat di atas adalah umara (penguasa) dan ulama, berdasarkan dzhahir lafadz di seluruh ayat Al-Qur`an. Meskipun ada yang berpendapat  bahwa yang dimaksud adalah ahli fikih, ahli agama, atau ulama. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka telah taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada amirku  (pimpinan yang ditunjuk-pent), maka telah taat kepadaku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada amirku, maka dia telah durhaka kepadaku.”  (HR. Bukhari 7137 dan Muslim 1835). Oleh karenanya, Ibnu Katsir menyimpulkan, ayat di atas sebagai perintah untuk mentaati Allah dengan mengikuti KitabNya, mentaati Rasulullah dengan menjalankan sunnahnya, dan mentaati pemerintah yang berkuasa dalam ketaatan kepada Allah tidak untuk maksiat kepadaNya. Karena dalam sebuah hadits shahih disebutkan:  “Sesungguhnya ketaatan hanya dalam kebaikan.”  Dan Imam Ahmad dalam musnadnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah.”  (Al-Musnad: 4/426).

Telah jelas di atas, bagaimana kita seharusnya mengambil keputusan untuk memulai awal puasa Ramadhan. Jika terjadi perselisihan pendapat tentangnya, maka kembalikan kepada Allah dan RasulNya. Mengembalikan urusan agama ini kepada Allah dan RasulNya berarti mengembalikannya kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah, sebagai dua petunjuk agama Islam yang paripurna dan paling benar. Dan tidak ada selain kebenaran kecuali kesesatan. Merujuk kepada KitabNya, As-Sunnah serta mentaati ulil amri merupakan sebaik-baiknya cara mengambil sikap.  Wallahu’alam.

One thought on “Kapan kita mulai berpuasa Ramadhan?

  1. ummat yang awam seperti saya, merasa lebih baik mengikuti yang banyak dan tidak bertentangan dengan Al Quran/Hadits

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s