Berapa Raka’at Shalat Taraweh? (2)

Di antara sifat shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah selalu memperbanyak jumlah raka’atnya tetapi juga tetap memanjangkan waktu berdiri, ruku’ dan sujud. Oleh karenanya, pendapat ini mengatakan memanjangkan bacaan, ruku’ dan sujud adalah lebih utama. Ini berdasarkan sabda shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat yang paling utama yang panjang qunut-nya.” (Muslim no. 657, menurut Imam Nawawi, yang dimaksud dengan qunut di sini adalah berdiri saat shalat, sebagaimana yang disepakati ulama). Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits disebutkan: “Shalat empat (raka’at), jangan tanya bagaimana baiknya shalatnya dan panjang raka’at-raka’atnya, kemudian shalat empat raka’at, jangan tanya bagaimana baiknya shalatnya dan panjang raka’at-raka’atnya, kemudian shalat tiga raka’at.” (HR. Al-Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738) Dan keadaan sujudnya selama seseorang membaca lima puluh ayat Al-Qur`an. 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalatnya lama hingga aku mempunyai niat yang tidak baik,” dikatakan kepadanya tentang niatnya tersebut? Beliau berkata: “Aku berniat ingin duduk dan meninggalkannya.”(HR. Muslim). Ibnu Mas’ud juga pernah menceritakan bahwa para shahabat bersandar kepada tongkat karena lamanya berdiri shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Sementara pendapat yang lain mengatakan bahwa memperbanyak raka’at dengan memperbanyak sujud lebih utama dari memanjangkan berdiri saat shalat. Pendapat ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bantulah dirimu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 489). Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhkan kamu tidak akan pernah bersujud untuk Allah kecuali dengan sujud tersebut Allah menginggikan derajatmu dan menghapus dosa-dosa darimu.” (HR. Muslimno. 488). Pendapat ini juga dikuatkan dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada imam dalam shalat berjama’ah: “Jika salah seorang di antara kalian mendirikan shalat dengan manusia, maka ringankanlah karena sesungguhnya (di antara –pent) di belakangnya (para makmum –pent) merupakan orang lemah, sakit dan yang mempunyai keperluan.” (HR. Al-Bukhari no. 802, Muslim 466). Meringankan shalat dengan tidak berlama-lama dengannya dapat menjadikan orang yang lemah merasa ringan dan orang yang mempunyai keperluan lain dapat menyelesaikannya. 

Meringankan shalat juga dapat menjadikan penyemangat kaum muslimin untuk menghadiri shalat berjama’ah sekaligus tidak menjadi penyebab tertahannya orang untuk melakukan aktivitas lainnya. Dalam sebuah riwayat Ibnu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: telah datang seseorang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka laki-laki itu berkata: “Aku benar-benar terlambat karena shalat shubuh demi mengikuti Fulan memanjangkan shalatnya bersama kami,” Maka tidak pernah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah ketika memberikan nasehat seperti marahnya saat itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia sesungguhnya di antara kalian berpencar (melakukan aktivitas –pent)! Siapa saja di antara kalian yang menjadi imam (shalat –pent) maka sederhanakanlah, karena sesungguhnya di belakang imam terdapat orang tua, yang lemah, dan yang mempunyai keperluan.” (HR. Al-Bukhari no. 802, Muslim 466).  

Dan dengan hadirnya manusia bersama imam untuk mendirikan dan bersama hingga usai shalat berjama’ah, memiliki fadhilah yang besar. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang mendirikan shalat bersama imam hingga berpencar (menyelesaikan shalatnya –pent), maka Allah catat baginya pahala shalat malam.” (HR. Abu Daud no. 13 75, At-Tirmidzi no. 806, An-Nasai 83/3, Ibnu Majah 1327, Ahmad 163, Ibnu Khuzaimah 2206, dll, hadits ini berasal dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan tentang shalat malam di bulan Ramadhan, dengan isnad yang shahih). Bagi yang berpegang dengan pendapat ini juga dikuatkan dengan hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan lainnya, dari Ummul Mukimini, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihkan dalam bulan Ramadhan dan di bulan lainnya dengan sebelas raka’at.”   [BERSAMBUNG]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s