Puasa di Negeri Haramain

MENJALANI IBADAH PUASA DI ARAB SAUDI, jelas berbeda dengan di Tanah Air. Di sini tidak ada petasan, tidak ditemui penjual kolak dadakan di pinggir-pinggir jalan atau teras rumah (kecuali di kota Jeddah), atau juga suara tadarus Al-Quran dari pengeras suara masjid-masjid selepas shalat taraweh. Tidak salah, Arab Saudi adalah negara dimana Haramain (dua kota Haram; Makkah dan Madinah), satu-satunya yang menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai undang-undang dasarnya, sekaligus negara yang dipimpin seorang raja. Sebagian orang memandang sinis bahkan membenci negeri keluarga Su’ud ini. Entah kenapa, mungkin kekayaan minyaknya atau cara negara ini mengaplisakan ajaran agama Islamnya. Yang pasti, Arab bukanlah representasi dari Islam, tapi kita harus mengimani bahwa Islam lahir dan berkembang dari tanah Arab, dan bahasa kitab suci Al-Quran   adalah bahasa Arab. Dan juga, cara beragama di atas Al-Quran dan As-Sunnah di Saudi, tidak banyak basa-basi seperti di negara muslim lainnya, meskipun kasus pelanggaran tetap saja ada selama manusia memang sumber lupa dan kesalahan. Ah, ini sekedar tulisan ringan selepas tadarus Al-Quran di waktu fajar. 

Sebagai TKI di pabrik pembuat mie instan yang baru datang 1 bulan –setelah sebelumnya 2 tahun bekerja di profesi yang berbeda– saya harus bersyukur menikmati bulan Ramadhan di Arab Saudi. Meskipun, harus dibayar mahal berjauhan dengan sanak keluarga, tetapi kekhusyu’an ibadah lebih terasa daripada di Indonesia. Wallahi, pengaturan jam kerja dan waktu mendirikan shalat di sini sangat terjaga. Tapi, “maa kaana ‘ala maa kaana” (kaidah Ushul Fiqh), meski saat adzan berkumandang segala aktivitas dunia seperti jual-beli di toko wajib dihentikan, tetap saja tidak sedikit orang (Arab maupun pendatang) yang tidak tergugah hatinya untuk mengambil air wudhu. Apalagi di bulan Ramadhan ini, jam kerja dipotong hingga menjadi 6 jam yang sebelumnya 8 jam kerja. Mengurangi kinerja kerja? Ah, menurut saya tidak juga, 6 atau 8 jam bisa sama saja efesiennya, ini kembali ke mental pekerjanya. Saya rasa, bahkan dengan shaum semangat bertambah dan otak semakin fokus ketika memonitor “raw material” di layar komputer yang menjadi pekerjaan sehari-hari. 

Kesyukuran yang lain, yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika menghabiskan bulan puasa di Indonesia, adalah shalat lima waktu berjama’ah di masjid. Khusus ini, bahkan, tidak hanya dinikmati saat Ramadhan saja, karena setiap hari-setiap bulan, mendirikan shalat berjama’ah di sini sudah seperti kebiasaan orang Indonesia nonton televisi. Khusus saat malam hari bulan Ramadhan, tidak ada blok di perumahan atau jalanan yang padat penduduk kecuali terdengar lantunan syahdu seorang syaikh membacakan ayat-ayat Al-Quran mengimami shalat taraweh. Imam di sini, selain hafalan Al-Qurannya bagus, tidak sedikit suaranya menghanyutkan hati melelehkan air mata karena indahnya sehingga ayat per-ayat yang dibaca seakan-akan diturunkan kepada yang mendengar. Sebagaimana kita ketahui, kandungan Al-Quran selain kisah-kisah kaum terdahulu, juga berupa ancaman (wa’ad) serta kabar gembira (busyra) untuk kehidupan pasca dunia. Bagi yang mengimani, tidak dinyana jika ayat-ayat tersebut dilantunkan mata ini akan berurai air. 

 Beruntung tahun ini saya tinggal di sebuah dormitory karyawan yang dekat jaraknya dengan sebuah masjid jami’ (masjid besar yang biasa digunakan untuk shalat Jum’at). Hari Jum’at pertama di bulan Ramadhan kemarin, saya ikuti dengan hikmat. Sebelum khatib berdiri di mimbar, saya selesaikan membaca surah Al-Kahfi, berharap mendapatkan “cahaya” sebagaimana hadits shahih menjanjikan demikian jika Al-Kahfi dibaca di hari Jum’at. Ya, khatib saat itu juga mengingatkan akan pentingnya hari Jum’at terutama sekali di bulan Ramadhan mubarak ini. Selain itu, khatib Jum’at di Masjid Jami’ Badiyah tersebut membahas tentang shaum, betapa ibadah ini berpahala yang tidak dapat diukur besar pahalanya, karena Allah langsung memberikannya (sebagaimana hadits shahih tentang keutamaan shaum merupakan milik Allah). 

Nah, jangan heran jika selama satu bulan Ramadhan ini, berdiri tenda-tenda besar di lapangan terbuka atau di tempat parkir di samping masjid atau di perumahan. Bukan untuk berkemah atau kegiatan suka-ria, tetapi tempat itu dijadikan lokasi berbuka puasa bersama. Lokasinya bertebaran di mana-mana. Seperti saya yang tidak pandai memasak atau ingin mengirit pengeluaran untuk berbuka, maka bisa memilih di masjid atau lapangan mana ikut berbuka puasa. Yang paling favorit adalah tenda Islamic Cultural Center (ICC) di lapangan di samping kantor imigrasi (Maktab Jawazat) kota Dammam. Karena di situ, ada tiga keuntungan sekaligus; silaturrahmi dengan banyak WNI, memperoleh ilmu dari ustadz yang memberikan cerama sebelum berbuka, dan menu berbuka yang spesial. Kalau sudah melihat setiap hari ribuan bahkan ratusan ribu orang yang buka puasa bersama (di Masjid Nabawi atau Haram Makkah), rasanya ingin memuji kedermawanan orang-orang Arab. Yang saya tahu, orang-orang penyumbang untuk berbuka puasa ini benar-benar ingin mendapatkan ajr (pahala) sebagaimana hadits shahih yang menjanjikan orang yang memberi buka puasa kepada seseorang maka pahalanya seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala yang berpuasa tersebut. Khusus di kota Madinah Al-Munawwarah, orang-orang yang ingin memberikan buka puasa ini justru mencari-mencari bahkan berebut kepada siapa yang berpuasa dan ingin berbuka dari hidangannya yang telah disajikan. Subhanallah, luar biasa. [sekian, disambung lagi lain waktu, bi idznillah].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s