Shalat Taraweh di Masjid Syaikh Al-Ghamdi

HARI AHAD KEMARIN, kantor kami diundang buka bersama di Hotel Carlton di kota Khobar. Karena hanya mendapat dua kupon makan buka puasa senilai 150 SR (Rp 330 ribuan) perorang, maka berangkatlah kami berdua mewakili “Purchasing Department.” Kesempatan berharga menikmati hidangan istimewa khas Timur Tengah di hotel berbintang sekaligus pengiritan uang makan bulan ini. Setelah memuaskan diri berbuka dengan jamuan layaknya tamu berkelas, saya bersama salah seorang rekan setim kerja meluncur mencari masjid untuk shalat Isya dan taraweh. Setelah diskusi kecil selama perjalanan, akhirnya sepakat untuk ke Masjid Imam Syaikh  Saa’d Al-Ghamdi. Penikmat MP3 murotal Quran pasti tidak asing dengan qari satu ini. Untuk itulah, kami penasaran ingin mendengar langsung suara beliau dengan menjadi makmum di sebuah masjid di mana beliau biasa menjadi imam di kota Dammam.

Nama masjid dan bagian dalam tempat wudhu dan kamar kecilnya

Nama masjid dan bagian dalam tempat wudhu dan kamar kecilnya

Sebenarnya nama masjidnya bukanlah sebagaimana nama imam yang suaranya terkenal lewat cd mp3 dan youtube tersebut. Ketika turun dari mobil, saya membaca papan nama masjid tersebut tertulsi “Jami’ Yusuf bin Ahmad Kaanuu.” Untuk memastikan bahwa masjid ini adalah yang maklum banyak orang sebagai tempat Syaikh Al-Ghamdi menjadi imam shalat, saya bertanya kepada salah seorang pedagang asongan di sekitar area parkir masjid tersebut. Menurut pedagang yang saya tanyai tersebut, memang benar di sinilah tempat qari Al-Ghamdi biasa mengimami jama’ah shalat. Jikapun jawaban itu benar, dapat dipastikan kami tidak akan mendapati beliau, karena menurut kabar-kabar yang terdengar telinga, di bulan Ramadhan ini beliau mengimami di masjid lain dan kota yang berbeda. Tapi, karena niat shalat di sana bukan sekedar untuknya, maka tetap saja semangat berjama’ah taraweh menggebu-nggebu. 

Bagian dalam masjid Kaanuu

Bagian dalam masjid Kaanuu

Walhamdulillah bi ni’amihi, masjid yang saya kunjungi Ahad malam kemarin sangat indah. Selain berada di lokasi wisata Pantai Cornesh Dammam, arsitektur dan fasilitas masjid ini agak berlebih dari masjid-masjid umumnya –yang padahal masjid umumnya di Arab Saudi sudah cukup mewah. Masuk kamar mandi dan tempat wudhu masjid Yusuf ini, ternyata lebih harum daripada kamar tempat saya saya menulis diari ini. Ornamen lantai dan dindingnya “hidup penuh warna.” Kelebihan yang lainnya lagi, midhoah (tempat wudhu) dan hammam (toilet) ini dilengkapi air conditioner (ac). Jadi, jika biasanya kurang nyaman di dalam wc yang bau dan panas, di masjid ini, saya bisa betah berlama-lama. Tapi, saya paham adab di kamar kecil, tentunya pula penasaran ingin segera masuk masjid yang sering dibicarakan teman-teman fans qari Al-Ghamdi. 

Melangkah masuk masjid dengan kaki kanan sambil mengucap doa, saya merasakan hawa yang cukup dingin daripada biasanya. Ya, musim panas di bulan Ramadhan dengan suhu udara berkisar 40 s/d 50 derajat celcius,  tak terasa apa-apa ketika berada di dalam masjid ini. Tampaknya, telah diatur sedmikian rupa, hingga ac yang mendinginkan seluruh ruangan masjid, senti persenti. Saya perhatikan, seting ac-nya pun teritegrasi dengan tembok-tembok atas masjid, sebagaiamana gedung-gedung yang dibangun secara modern. Nah, wangi harum pun menyebar, bukan sekedar semilir saja, tetapi saat sujud, karpet masjid setebal karpet hotel berbintang lima pun sangat harum. Di bagian depan, di mihrab imam yang lebar, ornamen kaligrafi dan garis-garis yang membentuk khas sastra Islam pun enak dipandang mata. Tak ketinggalan, rak-rak yang terbuat dari kayu menampung kitab suci Al-Quran dan berbagai buku bacaan agama, tersebar rapi bersanding dengan tiang-tiang masjid dan di lokasi-lokasi tertentu. Di dinding yang menyatu dengan pintu masuk masjid, ada majalah dinding berisi banyak tulisan tentang tata cara wudhu, shalat, juga pengumuman-pengumuman kajian agama gratis; daurah membedah sebuah kitab klasik hingga program menghafal Al-Quran.  Yang pasti ada di setiap masjid di Saudi ini, banyak buku atau selebaran berisi nasrehat dan ilmu agama yang bisa diambil bebas oleh jama’ah shalat. Dan khusus di bulan Ramadhan ini, para dermawan juga menyumbang air mineral berbagai ukuran dan disebar di setiap shaf makmum agar dinikmati para jama’ah yang menghajatkan selama berada di dalam masjid. Walhamdulillah bi ni’amihi

Pedagang kaki lima di luar halaman masjid

Pedagang kaki lima di luar halaman masjid

Shalat pun dimulai dengan shalat wajib Isya empat raka’at. Imam pertama yang memimpin kami terlihat kurus tinggi dengan jubah berwibawa khas yang dipakai di sini. Setelah jeda beberapa menit untuk shalat sunnah ba’diyah, didirikan shalat malam (taraweh). Ternyata di empat raka’at pertama qiyamul lail ini dipimpin imam yang berbeda. Suaranya tinggi, membaca ayat-ayat dari surah panjang di Al-Quran. Saat dimulai raka’at ke lima, digantikan lagi imamnya yang agak gemuk. Kali ini suaranya terdengar berat tetapi jelas lagi perlahan. Di shaf kedua, saya mencoba dengan khusyu’ mengikuti bacaan imam tentang kisah Maryam ibunda Nabi Isa ‘alaihi salam dari surah Maryam. Usai menunaikan raka’at terkahir taraweh, kemudian imam yang pertama kali memimpin shalat Isya kami, kembali mengangkat tangan, bertakbir untuk shalat witir tiga rakaat. Setelah dua rakaat pertama dengan surah Al-‘Alaq dan Al-Kafirun, kemudian ditutup dengan salam. Menginjak sisa satu raka’at, imam membaca surah Al-Ikhlas. Seperti biasanya, setelah ruku’ imam memimpin qunut. Doanya, subhanallah, benar-benar menyayat hati. Terutama doa-doa mengharap ampunan, dimasukkan ke surgaNya dan dijauhkan dari siksa neraka. Ditambah pula dalam doa qunut yang panjang doa untuk kedua orang tua, semoga Allah mengampuni kedua orang kita dan menyayangi mereka sebagaimana kedua orang tua kita telah menyayangi kita. Yang tak kalah dahsyat dari untaian doa sang imam –dengan intonasi suara penuh pengharapan dari hatinya– saat beroda untuk Masjidil Aqsha, umat Islam di dunia, yang hidup maupun yang telah meninggal. Allahumma innnaka anta samiud du’a… Dan di samping kanan-kiri saya, jama’ah shalat terisak-isak menangis setiap mengamini doa imam. Tak sadar pula, air mata ini juga meleleh, penuh harap dan cemas atas doa yang dipanjatkan dalam qunut taraweh malam itu. Taqabbal du’aanaa ya mujibud du’aa…. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s