Syubhat Jacky Noordien, Alumni Gontor yang Terjerumus ke Syi’ah

Jacky Noordien, alumni KMI Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2000, beragama Pembela Nabi SAW & Ahlul baitnya, pernah kuliah di IAIN Sunan Gunung Ampel Surabaya Jurusan Pendidikan Agama Islam (profil di http://www.facebook.com/groups/ibnu.khusaini/?id=260251500660804&notif_t=group_activity#!/jacky.noordien). Dia teman satu angkatan dengan saya semasa nyantri di KMI Gontor. Terus terang, saya tidak begitu akrab dengannya semasa nyantri dulu, tetapi bertemu muka saat di ma’had pasti sangat sering.

Setelah saya berikan jawaban secara ilmiah tentang kemunkaran hadits tha’an terhadap sahabat yang mulia, Muawiyah, radhiyallahu ‘anhu, kini dia melempar syubhat lain di grup Facebook Laviola 2000. Mumpung weekend, saya luangkan waktu untuk sekedar naql dari riwayat hadits dan tulisan para ahli ilmu sebagai jawaban dari beberapa pertanyaan syubat-nya, semoga Allah menunjukkan yang haqq itu haqq dan yang bathil itu bathil. Allahumma ‘il’an man la’ana shahabah rasulilllah shallallahu alaihi wa sallam.

Syubhat Jacky Noordien

Jack Noordien melempar syubhat

Jack Noordien melempar syubhat

Syubhat Jack Noerdin muqallid Syi'i

Syubhat Jack Noerdin muqallid Syi'i

Apakah Nabi Muhammad shalallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk khalifah sebagai pengganti beliau?

Al-Bukhaariy telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا أَزْهَرُ أَخْبَرَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ ذُكِرَ عِنْدَ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى إِلَى عَلِيٍّ فَقَالَتْ مَنْ قَالَهُ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَمُسْنِدَتُهُ إِلَى صَدْرِي فَدَعَا بِالطَّسْتِ فَانْخَنَثَ فَمَاتَ فَمَا شَعَرْتُ فَكَيْفَ أَوْصَى إِلَى عَلِيٍّ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad : Telah mengkhabarkan kepada kami Azhar : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu ‘Aun, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, ia berkata : Disebutkan di sisi ‘Aaisyah : ‘Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sesuatu (secara khusus) kepada ‘Aliy’. Maka ia berkata : “Sungguh aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menyandarkannya di dadaku. Maka beliau meminta sebuah bejana. Badan beliau pun melemas, beliau melemas dan aku tidak sadar bahwa beliau sudah wafat, lalu kapan beliau memberinya wasiat kepada ‘Aliy ?” [Shahih Al-Bukhaariy, no. 4459].
Perkataan di atas merupakan sanggahan ‘Aaisyah Ummul-Mukminiin terhadap klaim wasiat kekhalifahan kepada ‘Aliy yang dihembus-hembuskan ‘Abdullah bin Saba’ pada masa kekhilafahan ‘Utsman bin ‘Affaan radliyallaahu ‘anhu. Ia (‘Aaisyah) adalah orang yang paling tahu segala sesuatu dari diri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di akhir hayatnya, karena beliau wafat di rumahnya dan ia menjadi saksi atas kematian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam (lihat pula hadits dalam Shahih Al-Bukhaariy no. 4450).  Tidak ada wasiat kekhalifahan kepada ‘Aliy, tidak pula kepada yang lainnya radliyallaahu ‘anhum.
Bahkan menjelang wafatnya beliau, ‘Aliy sempat diajak oleh Al-‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa untuk menanyakan perihal pewaris kekhalifahan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mari kita simak haditsnya:
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا بِشْرُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيُّ وَكَانَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ أَحَدَ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ تِيبَ عَلَيْهِمْ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجَعِهِ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ فَقَالَ النَّاسُ يَا أَبَا حَسَنٍ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللَّهِ بَارِئًا فَأَخَذَ بِيَدِهِ عَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ لَهُ أَنْتَ وَاللَّهِ بَعْدَ ثَلَاثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَإِنِّي وَاللَّهِ لَأَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ يُتَوَفَّى مِنْ وَجَعِهِ هَذَا إِنِّي لَأَعْرِفُ وُجُوهَ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عِنْدَ الْمَوْتِ اذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْنَسْأَلْهُ فِيمَنْ هَذَا الْأَمْرُ إِنْ كَانَ فِينَا عَلِمْنَا ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِنَا عَلِمْنَاهُ فَأَوْصَى بِنَا فَقَالَ عَلِيٌّ إِنَّا وَاللَّهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعَنَاهَا لَا يُعْطِينَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَسْأَلُهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepadaku Ishaaq : telah mengkhabarkan kepada kami Bisyr bin Syu’aib bin Abi Hamzah, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Al-Azhariy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Abdullah bin Ka’b bin Maalik Al-Anshaariy – dan Ka’b bin Maalik adalah salah satu dari tiga orang yang diberikan ampunan (oleh Allah karena tidak ikut serta dalam perang Tabuk) : Bahwasannya Abdullah bin ‘Abbaas telah menceritakan kepadanya : ‘Aliy bin Abi Thaalib keluar dari menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau, orang-orang bertanya : “Wahai Abu Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab; “Alhamdulillah, beliau sudah sembuh”. Ibnu Abbas berkata : “’Abbaas bin Abdul Muththalib memegang tangannya dan berkata : ‘Demi Allah, tidakkah kamu lihat bahwa beliau akan wafat tiga hari lagi, dan engkau akan diperintahkan dengannya ? Sesungguhnya aku mengetahui wajah bani ‘Abdul-Muththallib ketika menghadapi kematiannya. Mari kita menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu kita tanyakan kepada siapa perkara (kepemimpinan) ini akan diserahkan? Jika kepada (orang) kita, maka kita mengetahuinya dan jika pada selain kita maka kita akan berbicara dengannya, sehingga ia bisa mewasiatkannya pada kita.” Lalu ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu berkata; “Demi Allah, bila kita memintanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau menolak, maka selamanya orang-orang tidak akan memberikannya kepada kita. Karena itu, demi Allah, aku tidak akan pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4447].
Hadits di atas ada beberapa pelajaran di antaranya :
1.      Tajamnya firasat Al-‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu tentang telah dekatnya kematian seseorang melalui tanda-tanda dhahir yang ada. Ia memperkirakan – dengan tanda-tanda tersebut – bahwa beliau akan wafat tiga hari lagi. Namun ternyata, beliau wafat pada hari itu juga, yaitu hari Senin, sebagaimana riwayat yang disebutkan Ibnu Hajar:
وذكر بن إسحاق عن الزهري أن ذلك كان يوم قبض النبي صلى الله عليه وسلم
“Disebutkan oleh Ibnu Ishaaq, dari Al-Azhariy bahwasannya perkataan Al-‘Abbaas itu terucap pada hari dimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat” [Fathul-Baariy].
2.      Tidak ada wasiat sedikitpun kepada ‘Aliy (dan juga keada yang lainnya) tentang kepemimpinan/kekhilafahan. Jika memang ia telah diwasiati oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tampuk kepemimpinan menggantikan beliau, tentu saja ia akan menjelaskan kepada Al-‘Abbaas bahwa ia memang telah diberikan wasiat tersebut dan kepemimpinan sepeninggal Nabi merupakan haknya (dan hak anak turunnya). Namun kenyataannya, ia menolak ajakan menanyakan masalah kepemimpinan tersebut dalam keadaan tidak tahu kepada siapa kepemimpinan itu akan diberikan. Al-Baihaqiy berkata tentang hadits tersebut:
وفي هذا وفيما قبله دلالة على أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يستخلف أحدا بالنص عليه
“Dalam hadits ini dan yang sebelumnya terdapat petunjuk bahwasannya Nabi shallallaau ‘alaihi wa sallam tidak menunjuk/mengangkat seorang pun (sebagai pengganti beliau dalam masalah kepemimpinan) dengan nash terhadapnya”.
Apakah mungkin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu sedang menerapkan siasat taqiyyah padahal saat itu merupakan saat yang sangat urgen untuk menjelaskan permasalahan yang sebenarnya ? (jika keadaannya memang seperti anggapan kaum Syi’ah). Menunda penjelasan pada waktu yang dibutuhkan adalah dilarang, sebagaimana ma’ruf dalam kaidah. Apalagi jika kita melihat masalah imamah ini merupakan salah satu ushul (pokok) agama Syi’ah yang mereka ber-wala’ dan ber-bara’ atas masalah ini.

Hanya satu hal yang tersisa, yaitu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang tidak berwasiat apapun kepada ‘Aliy (dan juga yang lainnya) tentang masalah kepemimpinan.

“Mengapa Abu Bakar ra menunjuk Umar bin Khattab ra sebagai penggantinya? bukankah itu berarti Abu Bakar ra tdk mengikuti sunnah Rasul SAWW? mengapa pula Umar ra menunjuk enam orang untuk musyawarah menentukan siapa pengganti dirinya?”

Mari kita perhatikan perkataan ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu saat diminta menunjuk khalifah pengganti pasca tragedi ditusuknya beliau oleh Abu Lu’lu’ah Al-Majusiy:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ حَضَرْتُ أَبِي حِينَ أُصِيبَ فَأَثْنَوْا عَلَيْهِ وَقَالُوا جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَالَ رَاغِبٌ وَرَاهِبٌ قَالُوا اسْتَخْلِفْ فَقَالَ أَتَحَمَّلُ أَمْرَكُمْ حَيًّا وَمَيِّتًا لَوَدِدْتُ أَنَّ حَظِّي مِنْهَا الْكَفَافُ لَا عَلَيَّ وَلَا لِي فَإِنْ أَسْتَخْلِفْ فَقَدْ اسْتَخْلَفَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ وَإِنْ أَتْرُكْكُمْ فَقَدْ تَرَكَكُمْ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ حِينَ ذَكَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ مُسْتَخْلِفٍ
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Alaa’ : Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari ayahya, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Aku ikut hadir ketika ayahku kena musibah (ditikam oleh seseorang). Para sahabat beliau yang hadir ketika itu turut menghiburnya. Mereka berkata : ‘Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan’. Umar menjawab : ‘Aku penuh harap dan juga merasa cemas’. Mereka berkata : ‘Tunjukkanlah pengganti anda (sebagai Khalifah)!” Umar menjawab : ‘Apakah aku juga harus memikul urusan pemerintahanmu waktu hidup dan matiku? Aku ingin tugasku sudah selesai, tidak kurang dan tidak lebih. Jika aku menunjuk penggantiku, maka itu pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik daripadaku, yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq. Dan jika pengangkatan itu aku serahkan kepada kalian, maka itu pun pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari aku, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Abdullah berkata, “Dari perkataannya itu, tahulah aku bahwa dia tidak akan menunjuk penggantinya untuk menjadi Khalifah” [Diriwayatkan Muslim no. 1823. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhaariy no. 7218, Ahmad 1/43, ‘Abd bin Humaid no. 32, Abu Ya’laa no. 206, Ibnu Hibbaan no. 4478, dan yang lainnya].
Dan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu telah menegaskan apa yang dikatakan oleh ‘Umar radliyallaahu ‘anhu:
حدثنا إسماعيل بن أبي حارث، ثنا شبابة بن سوَّار، ثنا شُعيب ابن ميمون، عن حصين بن عبد الرحمن، عن الشعبي عن شقيق، قال : قيل لعلي رضي الله عنه : ألا تَستخلف ؟ قال : ما استخلف رسول الله صلى الله عليه وسلم فَستخلف، وإن يردِ الله تبارك وتعالى بالناس خيرًَا فَسيجمَعهم على خيرهم، كما جمعهم بعد نبيِّهم على خيرهم.
Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Abi Haarits : Telah menceritakan kepada kami Syabaabah bin Sawwaar : Telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Maimuun, dari Hushain bin ‘Abdirrahmaan, dari Asy-Sya’biy, dari Syaqiiq, ia berkata : Dikatakan kepada ‘Aliy : “Tidakkah engkau mengangkat pengganti (khalifah) ?”. Ia menjawab : “Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat pengganti hingga aku harus mengangkat pengganti. Seandainya Allah tabaaraka wa ta’ala menginginkan kebaikan kepada manusia, maka Ia akan menghimpun mereka di atas orang yang paling baik di antara mereka sebagaimana Ia telah menghimpun mereka sepeninggal Nabi mereka di atas orang yang paling baik di antara mereka” [Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar 3/164 no. 2486].[1]
Perhatikan pula riwayat berikut yang bercerita tentang proses pembaiatan ‘Utsmaan bin ‘Affaan radliyallaahu ‘anhu:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَبْلَ أَنْ يُصَابَ بِأَيَّامٍ بِالْمَدِينَةِ وَقَفَ عَلَى حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ وَعُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ قَالَ : – وَجَاءَتْ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ حَفْصَةُ وَالنِّسَاءُ تَسِيرُ مَعَهَا فَلَمَّا رَأَيْنَاهَا قُمْنَا فَوَلَجَتْ عَلَيْهِ فَبَكَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً وَاسْتَأْذَنَ الرِّجَالُ فَوَلَجَتْ دَاخِلًا لَهُمْ فَسَمِعْنَا بُكَاءَهَا مِنْ الدَّاخِلِ فَقَالُوا أَوْصِ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ اسْتَخْلِفْ قَالَ مَا أَجِدُ أَحَدًا أَحَقَّ بِهَذَا الْأَمْرِ مِنْ هَؤُلَاءِ النَّفَرِ أَوْ الرَّهْطِ الَّذِينَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَنْهُمْ رَاضٍ فَسَمَّى عَلِيًّا وَعُثْمَانَ وَالزُّبَيْرَ وَطَلْحَةَ وَسَعْدًا وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ وَقَالَ يَشْهَدُكُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ كَهَيْئَةِ التَّعْزِيَةِ لَهُ فَإِنْ أَصَابَتْ الْإِمْرَةُ سَعْدًا فَهُوَ ذَاكَ وَإِلَّا فَلْيَسْتَعِنْ بِهِ أَيُّكُمْ مَا أُمِّرَ فَإِنِّي لَمْ أَعْزِلْهُ عَنْ عَجْزٍ وَلَا خِيَانَةٍ وَقَالَ أُوصِي الْخَلِيفَةَ مِنْ بَعْدِي بِالْمُهَاجِرِينَ الْأَوَّلِينَ أَنْ يَعْرِفَ لَهُمْ حَقَّهُمْ وَيَحْفَظَ لَهُمْ حُرْمَتَهُمْ وَأُوصِيهِ بِالْأَنْصَارِ خَيْرًا { الَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ } أَنْ يُقْبَلَ مِنْ مُحْسِنِهِمْ وَأَنْ يُعْفَى عَنْ مُسِيئِهِمْ وَأُوصِيهِ بِأَهْلِ الْأَمْصَارِ خَيْرًا فَإِنَّهُمْ رِدْءُ الْإِسْلَامِ وَجُبَاةُ الْمَالِ وَغَيْظُ الْعَدُوِّ وَأَنْ لَا يُؤْخَذَ مِنْهُمْ إِلَّا فَضْلُهُمْ عَنْ رِضَاهُمْ وَأُوصِيهِ بِالْأَعْرَابِ خَيْرًا فَإِنَّهُمْ أَصْلُ الْعَرَبِ وَمَادَّةُ الْإِسْلَامِ أَنْ يُؤْخَذَ مِنْ حَوَاشِي أَمْوَالِهِمْ وَيُرَدَّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ وَأُوصِيهِ بِذِمَّةِ اللَّهِ وَذِمَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُوفَى لَهُمْ بِعَهْدِهِمْ وَأَنْ يُقَاتَلَ مِنْ وَرَائِهِمْ وَلَا يُكَلَّفُوا إِلَّا طَاقَتَهُمْ فَلَمَّا قُبِضَ خَرَجْنَا بِهِ فَانْطَلَقْنَا نَمْشِي فَسَلَّمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ يَسْتَأْذِنُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَتْ أَدْخِلُوهُ فَأُدْخِلَ فَوُضِعَ هُنَالِكَ مَعَ صَاحِبَيْهِ فَلَمَّا فُرِغَ مِنْ دَفْنِهِ اجْتَمَعَ هَؤُلَاءِ الرَّهْطُ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ اجْعَلُوا أَمْرَكُمْ إِلَى ثَلَاثَةٍ مِنْكُمْ فَقَالَ الزُّبَيْرُ قَدْ جَعَلْتُ أَمْرِي إِلَى عَلِيٍّ فَقَالَ طَلْحَةُ قَدْ جَعَلْتُ أَمْرِي إِلَى عُثْمَانَ وَقَالَ سَعْدٌ قَدْ جَعَلْتُ أَمْرِي إِلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَيُّكُمَا تَبَرَّأَ مِنْ هَذَا الْأَمْرِ فَنَجْعَلُهُ إِلَيْهِ وَاللَّهُ عَلَيْهِ وَالْإِسْلَامُ لَيَنْظُرَنَّ أَفْضَلَهُمْ فِي نَفْسِهِ فَأُسْكِتَ الشَّيْخَانِ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَفَتَجْعَلُونَهُ إِلَيَّ وَاللَّهُ عَلَيَّ أَنْ لَا آلُ عَنْ أَفْضَلِكُمْ قَالَا نَعَمْ فَأَخَذَ بِيَدِ أَحَدِهِمَا فَقَالَ لَكَ قَرَابَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْقَدَمُ فِي الْإِسْلَامِ مَا قَدْ عَلِمْتَ فَاللَّهُ عَلَيْكَ لَئِنْ أَمَّرْتُكَ لَتَعْدِلَنَّ وَلَئِنْ أَمَّرْتُ عُثْمَانَ لَتَسْمَعَنَّ وَلَتُطِيعَنَّ ثُمَّ خَلَا بِالْآخَرِ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَلَمَّا أَخَذَ الْمِيثَاقَ قَالَ ارْفَعْ يَدَكَ يَا عُثْمَانُ فَبَايَعَهُ فَبَايَعَ لَهُ عَلِيٌّ وَوَلَجَ أَهْلُ الدَّارِ فَبَايَعُوهُ
Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Hushain, dari ‘Amr bin Maimuun, ia berkata : “……..Kemudian Hafshah, Ummul-Mukminin datang dan beberapa wanita ikut bersamanya. Tatkala kami melihatnya, kami segera berdiri. Hafshah kemudian mendekat kepada ‘Umar lalu dia menangis sejenak. Kemudian beberapa orang laki-laki meminta ijin masuk, maka Hafshah masuk ke kamar karena ada orang yang mau masuk. Maka kami dapat mendengar tangisan Hafshah dari balik kamar. Orang-orang itu berkata : “Berilah wasiat, wahai Amirul-Mukminin. Tentukanlah pengganti Anda”. ‘Umar berkata : “Aku tidak menemukan orang yang paling berhak atas urusan ini daripada mereka atau segolongam mereka yang ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat beliau ridla kepada mereka”. Maka dia menyebut nama ‘Aliy, ‘Utsmaan, Az-Zubair, Thalhah, Sa’ad, dan ‘Abdurrahmaan. Selanjutnya dia berkata : “‘Abdullah bin ‘Umar akan menjadi saksi atas kalian. Namun dia tidak punya peran dalam urusan ini” – Tugas itu hanya sebagai bentuk penghibur baginya – “Jika kepemimpinan jatuh ke tangan Sa’ad, maka dia lah pemimpin urusan ini. Namun apabila bukan dia, maka mintalah bantuan dengannya. Dan siapa saja di antara kalian yang diserahi urusan ini sebagai pemimpin maka aku tidak akan memecatnya karena alasan lemah atau berkhianat”. Selanjutnya ‘Umar berkata : “Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar memahami hak-hak kaum Muhajirin dan menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya agar selalu berbuat baik kepada kaum Anshar yang telah menempati negeri (Madinah) ini dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin) agar menerima orang baik, dan memaafkan orang yang keliru dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada seluruh penduduk kota ini karena mereka adalah para pembela Islam dan telah menyumbangkan harta (untuk Islam) dan telah bersikap keras terhadap musuh. Dan janganlah mengambil dari mereka kecuali harta lebih mereka dengan kerelaan mereka. Aku juga berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Arab Badui karena mereka adalah nenek moyang bangsa Arab dan perintis Islam, dan agar diambil dari mereka bukan harta pilihan (utama) mereka (sebagai zakat) lalu dikembalikan (disalurkan) untuk orang-orang faqir dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar menunaikan perjanjian kepada ahludz-dzimmah, yaitu orang-orang yang di bawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam (asalkan membayar pajak) dan mereka (ahludz-dzimmah) yang berniat memerangi harus diperangi. Mereka juga tidak boleh dibebani selain sebatas kemampuan mereka”. Ketika ‘Umar sudah menghembuskan nafas (wafat), kami keluar membawanya lalu kami berangkat dengan berjalan. ‘Abdullah bin ‘Umar mengucapkan salam (kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha) lalu berkata; “‘Umar bin Al Khaththab meminta izin”. ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa berkata : “Masukkanlah”. Maka jasad ‘Umar dimasukkan ke dalam liang lahad dan diletakkan berdampingan dengan kedua shahabatnya (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu). Setelah selesai menguburkan jenazah ‘Umar, orang-orang (yang telah ditunjuk untuk mencari pengganti khalifah) berkumpul. ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf berkata : “Jadikanlah urusan kalian ini kepada tiga orang diantara kalian. Maka Az-Zubair berkata : “Aku serahkan urusanku kepada ‘Aliy”. Sementara Thalhah berkata : “Aku serahkan urusanku kepada ‘Utsmaan”. Sedangkan Sa’ad berkata : “Aku serahkan urusanku kepada ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf”. Kemudian ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf berkata : “Siapa diantara kalian berdua yang mau melepaskan urusan ini maka kami akan serahkan kepada yang satunya lagi, Allah dan Islam akan mengawasinya Sungguh seseorang dapat melihat siapa yang terbaik diantara mereka menurut pandangannya sendiri”. Dua pembesar (‘Utsmaan dan ‘Aliy) terdiam. Lalu ‘Abdurrahmaan berkata : “Apakah kalian menyerahkan urusan ini kepadaku. Allah tentu mengawasiku dan aku tidak akan semena-mena dalam memilih siapa yang terbaik diantara kalian”. Keduanya berkata : “Baiklah”. Maka ‘Abdurrahmaan memegang tangan salah seorang dari keduanya seraya berkata : “Engkau adalah kerabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan dari kalangan pendahulu dalam Islam (senior) sebagaimana yang kamu ketahui dan Allah akan mengawasimu. Seandainya aku serahkan urusan ini kepadamu tentu kamu akan berbuat adil dan seandainya aku serahkan urusan ini kepada ‘Utsmaan tentu kamu akan mendengar dan mentaatinya”. Kemudian dia berbicara menyendiri dengan ‘Utsmaan dan berkata sebagaimana yang dikatakannya kepada ‘Aliy. Ketika dia mengambil perjanjian bai’at, ‘Abdurrahmaan berkata : “Angkatlah tanganmu wahai ‘Utsmaan”. Maka Abdurrahmaan membai’at ‘Utsmaan lalu ‘Ali ikut membai’atnya kemudian para penduduk masuk untuk membai’at ‘Utsman” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3700].
Sisi pendalilannya adalah: Seandainya ‘Aliy memang mendapat wasiat dan amanat kepemimpinan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, mengapa ia tidak mengatakan hal itu kepada ‘Abdurrahmaan saat berbicara berdua dengannya ? Aneh, jika ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu yang gagah berani dan selalu menyerukan kebenaran itu tidak menyampaikan salah pokok agama (imaamah) – menurut anggapan Syi’ah – di hadapan ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf dan yang lainnya ! Malah, ia menjadi orang kedua yang membaiat ‘Utsmaan bin ‘Affaan setelah ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhum.
Perhatikan pula riwayat berikut:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَشْرَجُ بْنُ نُبَاتَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُمْهَانَ قَالَ حَدَّثَنِي سَفِينَةُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلَافَةَ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ وَخِلَافَةَ عُمَرَ وَخِلَافَةَ عُثْمَانَ ثُمَّ قَالَ لِي أَمْسِكْ خِلَافَةَ عَلِيٍّ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلَاثِينَ سَنَةً
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manii’ : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hasyraj bin Nubaatah, dari Sa’iid bin Jumhaan, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Safiinah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Kekhilafahan pada umatku selama tigapuluh tahun kemudian setelah itu kerajaan.” Setelah itu Safinah berkata kepadaku : “Berpeganglah pada khilafah Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman”; kemudian Safinah berkata padaku : “Peganglah khilafah ‘Aliy”. Berkata Sa’iid : “Ternyata kami menemukan (lamanya waktu khilafah) selama tigapuluh tahun…..” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2226].[2]
Sisi pendalilannya adalah: Bahwasannya Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa masa kekhilafahan umatnya selama 30 tahun. Safiinah dan Sa’iid bin Jumhaan menjadi saksi bahwa masa tersebut adalah masa kekhilafahan Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, dan ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum. Seandainya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat tentang kekhilafahan kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib (dan anak turunnya), niscaya beliau tidak akan menyebutkan masa 30 tahun. Sebab, kenyataan yang ada masa kekhilafahan ‘Aliy bin Abi Thaalib dan Al-Hasan bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa – dua orang shahabat yang dianggap imam oleh kaum Syi’ah – tidaklah selama itu. Justru itu mencocoki masa kekhilafahan Abu Bakr hingga ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa.
Oleh karena itu, anggapan orang-orang Syi’ah yang mengartikan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat haji wada’:
مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ
“Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai maulanya, maka ‘Aliy adalah maulanya juga”
sebagai isyarat atau penunjukan kepemimpinan sepeninggal beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam keliru. Silakan saja mereka (Syi’ah) berandai-andai akan hal itu, karena kenyataan yang ada bertentangan dengan perkataan ‘Aliy sendiri dan juga para shahabat yang lain – sebagaimana telah disebutkan di atas.
Berikut beberapa contoh penerapan kata maulaa dalam Al-Qur’an:
إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ
“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula” [QS. At-Tahriim : 4].
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لا مَوْلَى لَهُمْ
“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung” [QS. Muhammad : 11].
Dalam kamus pun telah ma’ruf bahwasannya beda antara al-walaayah (الْوَلَايَةُ) dan al-wilaayah (الْوِلَايَةُ). Al-walaayah adalah kebalikan dari al-‘adaawah (permusuhan); yang darinya terambil kata maulaa (مَوْلَى) dan waliy (وَلِيٌّ). Keliru jika mengartikan kata maulaa dan waliy sebagai pemimpin/kepemimpinan (al-wilaayah).
Ibnul-Atsiir berkata saat menjelaskan makna kata maulaa:
وهو اسْمٌ يقَع على جَماعةٍ كَثيِرَة، فهو الرَّبُّ، والمَالكُ، والسَّيِّد والمُنْعِم، والمُعْتِقُ، والنَّاصر، والمُحِبّ، والتَّابِع، والجارُ، وابنُ العَمّ، والحَلِيفُ، والعَقيد، والصِّهْر، والعبْد، والمُعْتَقُ، والمُنْعَم عَلَيه وأكْثرها قد جاءت في الحديث.
“Ia adalah nama bagi sesuatu yang banyak, yaitu raja, tuan, pemberi anugerah, orang yang membebaskan, penolong, orang yang mencintai, pengikut, tetangga, anak paman, sekutu, orang yang mengadakan perjanjian, kerabat, hamba, orang yang dibebaskan, orang yang diberi anugerah. Dan kebanyakannya terdapat dalam hadits” [An-Nihaayah fii Ghariibil-Hadiits, materi kata ولا].
Adapun hadits lemah dan palsu yang sering dibawakan kaum Syi’ah untuk mengukuhkan klaim ‘wasiat’ di antaranya sebagai berikut (saya berikan keterangan haditsnya secara singkat):
عن سلمان قال : قلت : يا رسول الله لكل نبي وصي، فمن وصيك ؟ – إلى أن قال : فَإِنَّ وَصِيِّي وَمَوْضِعَ سِرِّي، وَخَيْرَ مَنْ أَتْرُكُ بَعْدِي، وَيُنْجِزُ عِدَتِي، وَيَقْضِي دِينِي : عَلِيُّ بْنِ أَبِي طَالِبٍِ
Dari Salmaan ia berkata : Aku berkata : “Wahai Rasulullah, setiap nabi mempunyai washiy (orang yang diserahi wasiat), lalu siapakah washi-mu ?”. – hingga beliau bersabda : “Sesungguhnya washiku, tempat menyimpan rahasia, dan sebaik-baik orang yang aku tinggalkan setelahku, menjalankan janjiku dan memenuhi agamaku adalah : ‘Aliy bin Abi Thaalib”.
Riwayat ini sangat lemah. Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 6/221, dalam sanadnya terdapat Naashih bin ‘Abdillah. Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak tsiqah”. Dalam riwayat lain ia berkata : “Tidak ada apa-apanya (laisa bi-syai’)”. ‘Amr bin ‘Aliy berkata : “Matruukul-hadiits”. Al-Bukhaariy berkata : “Munkarul-hadiits”. Abu Haatim berkata : “Dla’iif, munkarul-hadiits”. An-Nasaa’iy berkata : “Tidak tsiqah”. Al-Haakim Abu Ahmad : “Dzaahibul-hadiits” [selengkapnya lihat Tahdziibut-Tahdziib 10/401-402 no. 721].
عن أنس بن مالك، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : وَصِيِّي وَوَارُثِي، يَقْضِي دَيْنِي وَيُنْجِزُ مَوْعِدِي : عَلِيُّ بْنِ أَبِي طَالِبٍِ
Dari Anas bin Maalik, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Washiku dan pewarisku, yang akan melunasi hutangku dan menepati janjiku : ‘Aliy bin Abi Thaalib”.
Riwayat ini sangat lemah, bahkan palsu. Ibnul-Jauziy membawakannya dalam Al-Maudluu’aat 1/376. Dalam sanadnya terdapat Mathar bin Maimuun. Al-Bukhaariy, An-Nasaa’iy, dan Abu Haatim berkata : “Munkarul-hadiits”. Al-Azdiy berkata : “Matruuk”. Al-Haakim dan Abu Nu’aim berkata : “Ia meriwayatkan dari Anas hadits-hadits palsu” [selengkapnya lihat Tahdziibut-Tahdziib, 10/170 no. 320].
عن بريدة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لِكُلِّ نَبِيٍِّ وَصِيٌُّ وَوَارِثٌُ، وَإِنَّ عَلِيًَّا وَصِيِّي وَوَارِثِي
Dari Buraidah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap Nabi mempunyai washi dan pewaris. Dan sesungguhnya ‘Aliy adalah washiku dan pewarisku”.
Riwayat ini palsu (maudluu’). Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir 42/392. Dalam sanadnya terdapat ‘Aliy bin Mujaahid Ar-Raaziy. Ibnu Ma’iin berkata : “Ia memalsukan hadits”. Yahyaa Adl-Dlariis dan Ahmad bin Ja’far berkata tentangnya : “Pendusta (kadzdzaab)” [lihat selengkapnya dalam Al-Abaathil wal-Manaakir, 2/188-190 no. 544].

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

========================

[1] Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 1158, Al-Haakim 3/79, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 8/149.

Sanad riwayat ini dla’iif, karena berporos pada Syu’aib bin Maimuun. Ia seorang dla’iif yang tidak dipakai berhujjah jika bersendirian. Adapun kritikan Al-Bukhaariy dengan perkataannya : ‘fiihi nadhar’, maka ini bukan selalu beralamat kritik/jarh keras sebagaimana sebagian orang bertaqlid pada perkataan Adz-Dzahabiy. [Silakan lihat uraian perincian makna jarh ini pada kitab Al-Khulaashah fii ‘Ilmil-Jarh wat-Ta’diil oleh ‘Aliy bin Naayid Asy-Syuhuud hal. 323-325, Al-Mughniy fii Alfaadhil-Jarh wat-Ta’diil oleh Muhammad Dzaakir ‘Abbaas hal. 66, Syifaaul-‘Aliil oleh Abul-Hasan Mushthafa hal. 312-313, dan yang lainnya]. Ibnu Hajar berkata tentangnya : “Dla’iif, ‘aabid (seorang yang lemah, namun ahli ibadah)” [At-Taqriib bersama Tahriir At-Taqriib, 2/118 no. 2807].
Perkataan ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menunjuk pengganti atau berwasiat dalam masalah kepemimpinan adalah hasan atau shahih karena dikuatkan oleh riwayat ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhumaa sebelumnya dan juga riwayat berikut :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ رَجُلٍ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ يَوْمَ الْجَمَلِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَعْهَدْ إِلَيْنَا عَهْدًا نَأْخُذُ بِهِ فِي الْإِمَارَةِ وَلَكِنَّهُ شَيْءٌ رَأَيْنَاهُ مِنْ قِبَلِ أَنْفُسِنَا ثُمَّ اسْتُخْلِفَ أَبُو بَكْرٍ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فَأَقَامَ وَاسْتَقَامَ ثُمَّ اسْتُخْلِفَ عُمَرُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى عُمَرَ فَأَقَامَ وَاسْتَقَامَ حَتَّى ضَرَبَ الدِّينُ بِجِرَانِهِ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah memberitakan kepada kami Sufyaan (Ats-Tsauriy), dari Al-Aswad, dari seorang laki-laki, dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia pernah berkata pada saat perang Jamal : “Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berwasiat kepada kami untuk mengambil masalah kepemimpinan akan tetapi itu adalah sesuatu yang kita pandang menurut pendapat kita, kemudian diangkatlah Abu Bakar menjadi Khalifah semoga Allah mencurahkan rahmatnya kepada Abu Bakr maka dia menjalankan (tampuk pimpinan) dan istiqamah di dalam menjalankannya, kemudian diangkatlah ‘Umar menjadi Khalifah semoga Allah mencurahkan rahmatnya kepada ‘Umar maka dia menjalankan (tampuk pimpinan) dan istiqamah di dalam menjalankannya sampai agama ini berdiri kokoh di bangunannya” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad 1/114 – juga dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 477, Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal 4/87-88].
Sanad riwayat ini adalah dla’iif karena mubham-nya perawi yang meriwayatkan dari ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu.
Dalam riwayat lain, perawi mubham tersebut adalah ‘Amr bin Sufyaan sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah 7/223, ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 1334, Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal 4/85-86; dari dua jalan – yaitu ‘Ishaam bin Nu’maan dan Yahyaa bin Yamaan – , dari Ats-Tsauriy, dari Al-Aswad bin Qais, dari ‘Amr bin Sufyaan, dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu.
‘Ishaam bin Nu’maan tidak ditemukan biografinya, dan Yahyaa bin Yamaan adalah perawi jujur namun banyak salahnya.
Al-Aswad bin Qais mempunyai mutaba’ah dari Musaawir sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak – bersama At-Tatabbu’ – 3/119, dan ia seorang yang majhuul.
Dua orang tersebut di atas (‘Ishaam bin Nu’maan dan Yahyaa bin Yamaan) telah diselisihi Abu ‘Aashim Adl-Dlahhak bin Makhlad yang meriwayatkan dari Ats-Tsauriy, dari ‘Amr bin Sa’iid, dari ayahnya, dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 1218, Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah no. 470, dan Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ 1/178 dari jalan Adl-Dlahhak bin Makhlad, dari Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Al-Aswad bin Qais, dari Sa’iid bin ‘Amr, dari ayahnya, dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu. Apabila Sa’iid bin ‘Amr ini adalah Ibnu ‘Aash Al-Umawiy, maka riwayat ini shahih. Namun bila ia adalah Ibnu Sufyaan Ats-Tsaqafiy, maka riwayat tersebut adalah dla’iif, karena ia majhuul. Dari keterangan Abu Zur’ah, nampak bahwa ia adalah Ibnu Sufyaan Ats-Tsaqafiy [lihat Al-‘Ilal oleh Ibnu Abi Haatim 6/323 no. 2638]. Adapun bapaknya, maka ia tsiqah – di-tsiqah-kan oleh Ibnu Hibbaan (Ats-Tsiqaat 5/172), Al-‘Ijliy (Ats-Tsiqaat 2/177), dan Al-Haakim pada riwayatnya dari Al-‘Abbaas dalam Al-Mustadrak. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya memakainya secara ta’liq.
Abu ‘Aashim bin Makhlad mempunyai mutaba’ah dari Abu ‘Aashim An-Nabiil dari Sufyaan Ats-Tsauriy sebagaimana diriwayatkan oleh Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah no. 471.
Dikuatkan pula oleh riwayat berikut:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبُعٍ قَالَ سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ لَتُخْضَبَنَّ هَذِهِ مِنْ هَذَا فَمَا يَنْتَظِرُ بِي الْأَشْقَى قَالُوا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فَأَخْبِرْنَا بِهِ نُبِيرُ عِتْرَتَهُ قَالَ إِذًا تَالَلَّهِ تَقْتُلُونَ بِي غَيْرَ قَاتِلِي قَالُوا فَاسْتَخْلِفْ عَلَيْنَا قَالَ لَا وَلَكِنْ أَتْرُكُكُمْ إِلَى مَا تَرَكَكُمْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا فَمَا تَقُولُ لِرَبِّكَ إِذَا أَتَيْتَهُ وَقَالَ وَكِيعٌ مَرَّةً إِذَا لَقِيتَهُ قَالَ أَقُولُ اللَّهُمَّ تَرَكْتَنِي فِيهِمْ مَا بَدَا لَكَ ثُمَّ قَبَضْتَنِي إِلَيْكَ وَأَنْتَ فِيهِمْ فَإِنْ شِئْتَ أَصْلَحْتَهُمْ وَإِنْ شِئْتَ أَفْسَدْتَهُمْ
Telah menceritakan kepada kami Wakii’ : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Saalim bin Abi Ja’d, dari ‘Abdullah bin Sabu’, ia berkata : Aku mendengar ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu berkata : “(Jenggotku) ini akan diwarnai (darah) dari sini, dan tidak menungguku selain kesengsaraan.” Para shahabat bertanya : “Wahai Amirul-Mukminiin beritahukan kepada kami orang itu, agar kami bunuh keluarganya.” Ali berkata; “Kalau begitu, demi Allah, kalian akan membunuh selain pembunuhku.” Mereka berkata : “Angkatlah khalifah pengganti untuk memimpin kami!” ‘Aliy menjawab : “Tidak, tapi aku tinggalkan kepada kalian apa yang telah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tinggalkan untuk kalian.” Mereka bertanya; “Apa yang akan kamu katakan kepada Rabbmu jika kamu menghadapNya?” dalam kesempatan lain Wakii’ berkata; “Jika kamu bertemu dengan-Nya?” ‘Aliy berkata : “Aku akan berkata : ‘Ya Allah, Engkau tinggalkan aku bersama mereka sebagaimana tampak bagi-Mu, kemudian Engkau cabut nyawaku dan Engkau bersama mereka. Jika Engkau berkehendak, perbaikilah mereka dan jika Engkau berkehendak maka hancurkanlah mereka’.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/130].
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah 14/596 & 15/118 dan Abu Ya’laa no. 341 dari jalan Wakii’ yang selanjutnya sama dengan sanad di atas.
Sanad riwayat ini dla’iif (lemah) karena ‘Abdullah bin Sabu’, seorang yang majhuul [lihat Tahdziibul-Kamaal 15/5-6].
Al-A’masy mempunyai jalan periwayatan lain sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar no. 2572 : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Sa’iid Al-Jauhariy dan Muhammad bin Ahmad bin Al-Junaid, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-Khawaar (yang tepat : Abul-Jawaab, sebagaimana dikatakan oleh Habibur-Rahmaan Al-A’dhamiy – Abul-Jauzaa’) : Telah menceritakan kepada kami ‘Ammaar bin Raziiq, dari Al-A’masy, dari Habiib bin Abi Tsaabit, dari Tsa’labah bin Yaziid Al-Himmaaniy, dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu. Sanad riwayat ini lemah dikarenakan Tsa’labah bin Yaziid Al-Himmaaniy [lihat Tadziibul-Kamaal 4/399, Tahdziibut-Tahdziib 2/26 no. 42, dan Tahriir At-Taqriib 1/200 no. 847]. Namun riwayat ini bisa dipakai sebagai penguat riwayat sebelumnya sehingga keduanya berderajat hasan lighairihi.
Kesimpulan dalam hal ini bahwa perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat atau mewasiati seseorang sebagai pengganti beliau adalah sah tanpa keraguan.

[2] Hadits ini shahih.

Diriwayatkan oleh Ath-Thayaalisiy no. 1107, ‘Aliy bin Ja’d no. 3446, Ahmad 5/220 & 221 dan dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 789 & 790 & 1027, Abu Dawud no. 4646-4647, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 1181, An-Nasaa’iy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 52, Ath-Thahaawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar no. 3349, Ibnu Hibbaan no. 6657 & 6943, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir no. 13 & 136 & 6442 & 6443 & 6444, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 3/1237, Al-Haakim 3/71 & 145, Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah 6/341-342, Al-Baghawiy no. 3865, serta Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 10/378.

 

 

Mulahadzah

Syubhat-syubhat Jacky Noordien bisa jadi karena dia tertipu dengan buku Saqifah, Awal Perselisihan Umat karya seorang syiah dari Lampung yang bernama O. Hashem, cetakan ketiga tahun 1415 H -1994 M, terbitan penerbit Al Muntazhar, Jakarta Barat. Buku ini sebenarnya hanya menukil tuduhan dan kecaman para pendahulunya dari kalangan orang syiah dan musuh-musuh Islam.

Kaum muslimin harap berhati-hati terhadap buku ini karena berisi kebohongan dan kelicikan dalam mengolah kata sehingga dapat mengelabuhi kaum muslimin yang tidak memiliki dasar pengetahuan islam yang baik.

Jawaban atas buku tersebut terdaat dalam kitab Difa’un ‘An Abi Hurairah karya Abdul Mun’im Shalih Al ‘Ali Al ‘Izzi, tanpa tahun, Dar Al Syuruq, Bairut,  As Sunnah Qabla Al Tadwin karya Dr. Muhammad ‘Ajaaj Al Khathib, cetakan kelima tahun 1401 H, Dar El Fikar, Bairut, dan kitab-kitab hadits serta beberapa referensi lainnya.

4 thoughts on “Syubhat Jacky Noordien, Alumni Gontor yang Terjerumus ke Syi’ah

  1. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb
    Sejak awal membaca artikel sampean di atas, sudah muncul pertanyaan dalam pikiran saya. Sampean pasti setuju bahwa Rasul SAWW adalah suri tauladan yg sempurnya bagi umat Islam. Kaburo maqtan adalah sifat mustahil bagi Rasul SAWW. Beliau pasti melaksanakan apa yg diperintahkan oleh Allah SWT. Mustahil bagi Rasul SAWW jika menyuruh umatnya untuk melakukan sesuatu sedangkan beliau sendiri tdk melakukannya termasuk dalam hal berwasiat. Allah SWT berfirman dlm surat al-Baqarah ayat 180 :
    كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْراً الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقّاً عَلَى الْمُتَّقِينَ

    Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (al-Baqarah : 180)

    Bagi saya, sangatlah tidak masuk akal jika Rasul SAWW meninggal dunia tanpa meninggalkan wasiat. Tugas yg beliau emban sangatlah berat dan membutuhkan pengorbanan yg sangat besar tdk hanya melibatkan diri beliau sendiri melainkan segenap keluarganya. Misi yg beliau emban tdk hanya untuk kemaslahatan umat Islam pada saat itu saja, melainkan hingga akhir zaman, maka tidaklah masuk akal jika beliau tidak memikirkan kelangsungan dakwah Islam selepas beliau. Firman Allah SWT diatas bagi saya lebih dari cukup untuk membantah hadits2 yg sampean paparkan tadi karena kita semua tahu jika terdapat hadits yg kontradiktif dengan al-Qur’an maka kita harus menolaknya. Jika melihat tulisan sampean, nampaknya hanya Abu Bakar ra dan Umar ra yg benar2 mengamalkan firman Allah SWT diatas. Abu Bakar memberikan wasiat dan kepemimpinanya kepada Umar ra sedangkan Umar ra memberikan wasiat sebagaimana yg sampean tulis :

    “Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar memahami hak-hak kaum Muhajirin dan menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya agar selalu berbuat baik kepada kaum Anshar yang telah menempati negeri (Madinah) ini dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin) agar menerima orang baik, dan memaafkan orang yang keliru dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada seluruh penduduk kota ini karena mereka adalah para pembela Islam dan telah menyumbangkan harta (untuk Islam) dan telah bersikap keras terhadap musuh. Dan janganlah mengambil dari mereka kecuali harta lebih mereka dengan kerelaan mereka. Aku juga berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Arab Badui karena mereka adalah nenek moyang bangsa Arab dan perintis Islam, dan agar diambil dari mereka bukan harta pilihan (utama) mereka (sebagai zakat) lalu dikembalikan (disalurkan) untuk orang-orang faqir dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar menunaikan perjanjian kepada ahludz-dzimmah, yaitu orang-orang yang di bawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam (asalkan membayar pajak) dan mereka (ahludz-dzimmah) yang berniat memerangi harus diperangi. Mereka juga tidak boleh dibebani selain sebatas kemampuan mereka”

    Tulisan sampean ini menurut saya hanya menunjukkan bahwa sampean menganggap Abu Bakar dan Umar ra lebih amanah thd perintah Allah SWT dibandingkan dengan Rasul SAWW? padahal beliau adalah sebaik-baik manusia di sisi Allah SWT.

    • Zaky menulis: “Bagi saya, sangatlah tidak masuk akal jika Rasul SAWW meninggal dunia tanpa meninggalkan wasiat……”

      Silahkan berpendapat menurut Anda semaunya… menafsirkan Al-Quran sesuai selera Anda… menilai agama menurut rasa Anda?

      Orang yg berakal sudah bisa membedakan mana yang berdasarkan ilmu dan mana yang berbicara dengan hawa nafsu….

      • Saya bukannya ingin berbicara menurut hawa nafsu, saya hanya ingin melindungi Rasulullah SAWW dari anggapan dan pendapat bodoh yg mengatakan beliau tdk meninggalkan wasiat. Apa sampean lupa dulu kita pernah menghafal wasiat Lukman kepada anaknya sebelum meninggal dunia. Setiap orang mukmin diwajibkan memberikan wasiat kepada kerabat dan orang2 yg ditinggalkannya sebelum ajal menjemputnya, itu adalah tafsiran yg sangat jelas dan tidak bisa diotak-atik dengan hawa nafsu. Mungkin sampean punya tafsiran yg lain atau malah hawa nafsu sampean yg menolak kebenaran dari tafsiran tsb.

      • Kalau ente tidak mau dianggap mengumbar hawa nafsu, buktikan secara ilmiah bahwa yg dimaksud ayat 180 surah Al-Baqarah seperti yang ente kira sebagai wasiat khalifah pasca nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam?

        Jangan seperti klaim “nashibi” yang dialamatkan sebagai penganggum Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s