Bergembiralah Kita yang Ditimpa Musibah

Di antara kecintaan kita sebagai manusia adalah rasa cinta yang berlebih kepada pasangan hidup (istri/suami) dan anak, selain harta perhiasan. Sifat gulw (berlebihan) ini, menurut agama dilarang, karena salah satu sifat buruk syetan.  Untuk itu, sebesar apapun yang kita cintai dan sayangi di dunia ini harus karena Allah. Jika karena Allah, apapun yang terjadi dengan yang kita cintai, tidak akan ada sikap berlebihan, baik kesenangan ketika memilikinya, maupun kesedihan saat yang kita cintai meninggalkan kita. Dan tidaklah kehidupan di dunia ini kecuali cobaan dan ujian yang hasilnya dipetik di akhirat kelak. Sedalam apa keyakinan (iman) kita akan hal ini?

Mendengar kata musibah, kita selalu mendefinisikannya sebagai kejadian buruk dan kesusahan seseorang. Jika kita kembalikan ke akar katanya dari bahasa Arab, musibah berasal dari kata “ashaaba”, “yushiibu”, “mushiibatan“ yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu kaum baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Jadi, mempunyai keluarga bahagia dan harta adalah musibah yang berbentuk kesenangan sekaligus sebuah fitnah (cobaan). Firman Allah swt: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk: 2)

Kita yakin bahwa sesungguhnya semua yang kita peroleh selama hidup ini adalah datang dari Allah, sekaligus Dia adalah pemiliknya. Adapun kita, hakikatnya, hanya dipinjami sementara dan kelak semua akan kembali lagi kepadaNya. Untuk itulah, apapun yang terjadi dengan diri kita selama hidup di dunia ini, telah ada yang menakarnya dengan cermat; semua sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tidak akan seseorang dibebani di luar kemampuannya, sebagaimana janji Allah swt: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Beban yang telah ditentukan ini tidak hanya berupa kesusahan, tetapi juga kesenangan. Karena kasih sayang Allah-lah sehingga kita benar-benar diberikan segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita.

Hanya, kenyataaanya, kita seringkali kurang atau tidak mempercayai janji Allah di atas. Bentuk dari kekurangan iman kita adalah saat ditimpa musibah kesusahan, kita marah atau berputus asa. Sebaliknya, saat musibah kesenangan, kita lupa diri menjadi sombong, tidak ingat Allah. Dan kita lebih banyak yang gagal saat diberi cobaan berupa musibah kesenangan. Padahal sifat orang yang beriman, sebagaimana yang disifatkan Rasulullah saw: Sungguh mengagumkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik untuknya, jika dia mendapat kebahagiaan, maka dia bersyukur, maka itu adalah sebuah kebaikan untuknya. Dan jika dia tertimpa kesengsaraan, maka dia bersabar, maka itu menjadi kebaikan untuknya.” (HR. Muslim).

Kesenangan mempunyai penghasilan yang cukup, dikarunia anak-cucu, tinggal di rumah yang mapan, dan seterusnya. Saat dalam kondisi seperti ini, kita merasa telah bersyukur padahal lalai berjama’ah ke masjid, bersedekah dengan uang receh yang nominalnya paling kecil, koran harian rajin dibaca tetapi al-Qur`an menjadi pajangan, dan seterusnya. Musibah kesenangan ini pula yang sering membuat kita tidak istiqamah, lupa dengan masa-masa sulit. Seperti doa yang biasa dilafadzkan, mendadak menjadi tidak terucap lagi. Akhirnya, kita menjadi takabbur, merasa tidak membutuhkan lagi kepada Dzat yang telah memberi kesenangan tersebut. Padahal, hanya orang yang bersyukur akan ditambah terus kesenangannya dan ancaman siksa yang pedih bagi yang kufur terhadap nikmat. Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Adapun musibah berupa kesusahan dan kesedihan, sebagian kita menganggap hal ini merupakan hukuman dan azab, sehingga selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh. Hingga, pada puncaknya, dapat pula membawa orang berputus asa dan melakukan hal yang dilarang agama. Padahal Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 39).

Oleh karena itu, musibah kesusahan hidup dalam bentuk apapun, harusnya kita sikapi dengan penuh sabar, ridha, dan syukur. Ketiga istilah ini sekaligus membagi manusia dalam menghadapi musibah menjadi tiga kelompok sesuai dengan kadar keimanannya. Kelompok yang pertama adalah orang yang sabar menghadapi musibah, yaitu orang yang melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya. Akan tetapi dia tidak larut dalam kesedihan sehingga melupakan apa yang seharusnya diperbuat untuk memperbaiki keadaannya. Semua membawanya kepada kesabaran, tidaklah sama baginya antara ada atau tidak ada musibah, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah. Tentang kesabaran ini, penyair mengatakan: “Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”

Kelompok yang kedua, adalah orang yang ridha atas musibah yang diterimanya. Ridha atas musibah lebih tinggi derajatnya dari yang bersabar, karena ada atau tidak adanya sebuah musibah adalah sama, karena selalu disandarkan kepada ketentuan (qadha dan qadar) Allah. Walaupun demikian, dia tetap bersedih atas musibah tersebut. Ini karena orang yang ridha meyakini bahwa selama hidup tidak dapat terlepas dari qadha dan qadar Allah, baik itu kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurna ridhanya kepada Allah, dia bergerak sesuai dengan kehendak Allah. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.

Dan kelompok ketiga adalah bersyukur atas musibah yang menimpanya. Ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Dia melihat bahwa di lain tempat terdapat musibah yang lebih besar darinya dan musibah dunia lebih ringan daripada musibah agama. Orang yang bersyukur atas ditimpa musibah yakin bahwa adzab dunia lebih ringan daripada adzab akhirat. Kelompok orang yang bersyukur ini melihat musibah ini adalah sebagi sarana dihapuskannya dosa-dosanya dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Rasulullah bersabda: “Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Di riwayat yang lain, Rasul mengatakan: “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan (kelelahan), sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhari). Karena itulah, kadang-kadang akan bertambah iman seseorang dengan musibah yang dialami.

Dengan musibah inilah, Allah menunjukkan rasa sayangNya kepada kita sebagai makhlukNya. Bukankah seorang ibu atau bapak yang marah dan menghukum seorang anak karena satu perbuatan salahnya, merupakan bukti cinta dan sayang orang tua kepada anak agar tidak mengulangi kembali kesalahannya di waktu berikutnya. Adapun Allah, hendaknya kita mengambil hikmah atas segala ketentuanNya.

Akhirnya, kita harus selalu berbaik sangka terhadap apapun ketetapan Allah atas diri kita. Apa yang kita anggap terbaik belum tentu baik menurut Allah, begitupun sebaliknya. Dalam ikhtiar mencari jodoh, mengais rezeki, musibah kesenangan atau kesusahan, serta lika-liku hidup di persinggahan dunia sementara ini, semuanya harus disertai sikap sabar, ridha, dan bersyukur. Semoga kita termasuk hamba Allah yang berhasil lulus dari cobaan dan ujianNya di dunia ini dengan imbalan surga di akhirat kelak, amiin. [dedicated to Muhammad Fakhri Al-Ilmi, 3,5 th]

Allah telah punya rencana

Tentang apa yang kita tidak ketahui

Tiada satupun yang menimpa

Kecuali telah tertulis

Boleh jadi kita membenci sesuatu

Padahal ia amat baik

Dan boleh jadi kita menyukai sesuatu

Padahal ia amat buruk

Allah mengetahui

Sedang kita tidak mengetahui

Demikian,

Agar kita tidak terlalu berduka cita

Atas apa yang telah dilalui

Dan kita tidak terlalu bergembira

Atas apa yang akan didapati

Dan,

Allah tidak akan pernah membebani

Kecuali semampu kita

Yang paling mulia di sisiNya

Hanya yang paling bertakwa

La tahzan wa laa takhaf

Inna Allah ma’a shabirin

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s