Sukses Itu….

“طريقة السلف أسلم وطريقة الخلف أعلم وأحكم”

يقول شيخ الاسلام ابن التيمية رحمه الله: “هذه قالها بعض الأغبياء”

“Thoriqothus Salaf Aslam wa Thoriqothul Kholaf ‘Alam wa Ahkam”

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Ini adalah perkataan sebagian orang bodoh.” Benar, memang benar yang mengatakan demikian adalah orang yang bodoh.

Kalimat di atas tidak lebih dari kebohongan yang paling bohong, bagaimana bisa ada yang lebih tahu dan berhikmah tetapi yang lainnya lebih selamat?! Padahal tidak ada keselamatan tanpa ilmu dan hikmah!! Maka orang yang tidak tahu sebuah jalan, tidaklah akan selamat, karena tidak ada padanya ilmu. Kalau memang berilmu dan berhikmah maka dipastikan akan selamat, tidak ada keselamatan kecuali dengan ilmu dan hikmah.

Jika Anda katakan: “Sesungguhnya jalannya para salaf (orang2 yang terdahulu) lebih selamat,” maka harus juga kau katakan: “mereka lebih mengetahui dengan ilmu dan hikmah.” Jika tidak demikian, maka perkataan Anda bertentangan.

Jadi, tata cara ibadah yang benar adalah tata cara para salafus shalih yang lebih selamat dan mengetahui dengan ilmu dan hikmah, inilah yang maklum.

 *****

Membaca kitab Al-Aqidah Al-Washithiyah mengingatkan saya ke masa sekolah dulu di sebuah kampung terpencil di sebuah kota kecil di pulau Jawa. Sekolah tersebut menjadi sangat terkenal saat lulusannya “sukses” di pelbagai lapangan kehidupan. Mungkin, saya di antara alumni sekolah tersebut yang tidak atau belum “sukses.” Tetapi memang, perlu diperjelas standar “sukses” ini; apakah diukur keberhasilan meraih materi yang banyak, terkenal, menjadi tokoh masyarakat, politisi, atau parameter lain yang kasat mata? “Orang yang besar (sukses) adalah yang mau mengajar meskipun di surau kecil.” Begitu wasiat yang sangat terkenal dari salah satu pendiri sekolah tersebut. Lagi-lagi, barangkali, saya tidak atau belum termasuk kategori tersebut.

Sementara arti kata “sukses” jika dirujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya berhasil, beruntung. Dalam bahasa Arab ada tiga kata yang semakna dengan kata sukses dalam arti berhasil atau beruntung, yaitu falah, fauz,  dan najah. Ketiga terma inilah yang sering diulang-ulang dalam Al Qur`an. Bedanya, sukses menurut Al-Qur`an tidaklah bebas makna, tetapi terikat dengan prasyarat yang harus dilakukan seseorang untuk dapat meraihnya. Hal ini seperti yang terekam pada surah Al-Baqarah ayat 2-5. Di rangkaian ayat tersebut, ternyata orang-orang yang beruntung (muflih dari kata falah), adalah yang diberi petunjuk dengan mengimani Al-Qur`an dan kitab-kitab sebelumnya tanpa ada keraguan, mendirikan shalat, menafkahkan rezki, dan beriman kepada kehidupan akhirat. Sepadan dengan orang yang muflih  (beruntung) di ayat lain disebutkan, adalah orang yang selalu mengajak kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar (QS. Ali Imran: 104). Kata muflihun yang berarti jamak (orang-orang yang beruntung) juga disebut di surah Al-Mujadilah ayat 22. Bahkan melengkapi dan menjelaskan balasan orang-orang yang beruntung menurut kriteria Al-Quran ini. Berikut arti ayatnya: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolonganyang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” 

Kata kedua dalam bahasa Arab, sukses adalah fauz. Ayat yang merekam orang yang fauz ini adalah surah An-Nuur ayat 52: “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.”  Tidak hanya sukses (fauz) biasa, tetapi juga di ayat 70-71 di surah Al-Ahzab, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”  Ada juga kata faizun  (dari kata fauz) untuk kelompok yang beruntung dengan balasan surga dan kekal di dalamnya terdapat dalam surah Al-Hasyr ayat 20 dan Al-Fath ayat 5.

Dari ayat-ayat yang disebut di atas, jelas bahwa kesuksesan seseorang itu ukurannya bukan (hanya) duniawi, tetapi justru setelah hidup di dunia ini. Dan menjadi “sukses” dilandasari prasyarat iman, yang muaranya kepada tauhid. Firman Allah: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (QS. Al-An’am: 83). Dalam hadits Shahih Bukhari, diceritakan bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat merasa sedih bukan kepalang, karena mereka merasa belum terbebas sama sekali dari kezhaliman. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kezhaliman di sini bukanlah sembarang kezhaliman, namun maksudnya adalah kezhaliman terbesar alias syirik, sebagaimana perkataan Luqman Al-Hakim taktala menasehati anaknya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”  (QS. Luqman: 13).

****

Tauhid adalah derivasi dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhidan, yang artinya menyatukan. Secara istilah syar’i, tauhid adalah mengesakan Allah dalam apa saja yang menjadi kekhususanNya. Ulama salaf shalihin membagi tauhid mejad tiga; tauhid rububiyah, asma` wa sifat dan uluhuiyah. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan Allah, seperti: menciptakan, mengatur alam, menghidupkan, mematikan, memberikan rizqi dan lain-lainnya yang merupakan kekhushushan-kekhushushan Allah. Yang kedua, tauhid asma` wa sifat mencakup penetapan nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diriNya sendiri di dalam al Quran, dan telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyerupakanNya dengan makhluk, atau mem-bagaimana-kannya, serta meniadakan apa yang Allah tiadakan untuk diriNya dan ditiadakan oleh Rasulullah shalllallahu ‘alaihi  wa sallam dalam haditsnya tanpa merubah (tahrif), dan meniadakannya (ta’thil). Dan yang ketiga, tauhid uluhiyah , merupakan tauhid ibadah, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh amalan ibadah yang Allah perintahkan seperti berdoa, khouf (takut), raja’ (harap), tawakkal, raghbah (berkeinginan), rahbah (takut), khusyu’, khasyah (takut disertai pengagungan), taubat, minta pertolongan, menyembelih, nazar dan ibadah yang lainnya yang diperintahkanNya.

Begitulah ajaran tauhid untuk meraih “sukses” yang hakiki dari para generasi salaf shalihin. Mereka bukan yang paling “aslam” tanpa ilmu, tetapi dengan ilmu dan hikmah dipastikan “aslam.” Terima kasih Gontor, telah memberi bekal untuk membaca Al-Aqidah Al-Washithiyah lebih detail dan (mencoba) untuk diamalkan. Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s