Manhaju al-‘I’tidal as-Su’udy (Saudi Moderation Progress)

“Berlaku adillah wahai Rasulu ‘l-llah!”,protesnya ,inilah kritik seseorang yang dikenal sebagai  Dzul khuwaisiroh terhadap nabi, dan sejarah merekam peristiwa ini sebagai  ‘asbab ‘l-wurud’ – sebab historis datangnya Hadith- terhadap hadist yang kerap digunakan tuk men’jewer’ Khawarij, :”Dia mempunyai teman – teman yang salah seorang antara kamu akan diremehkan sholatnya jika dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasanya jika dibandingkan dengan puasa mereka.Mereka membaca al –quraan tapi tidak melebihi kerongkongan mereka, mereka terlepas dari  Islam sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya”.(HR. Bukhari 3610)

Tidak ada pemimpin yang lepas dari kritik,bahkan sebaik-baiknya manusia nan adil muhammad shalla ‘l-llahu alaihi wa sallam tak bebas darinya.Kritik sejatinya tidak terlepas dari 2 sifat : Subjektif dan Objektif,dalam kasus di atas terasa ke’subjektifitas’an sang pengkritik akan tidak adilnya rasulu ‘l-llah shalla ‘l-llahu alaihi wa sallam karena ia hanya menimbang dari aspek dirinya layaknya anak yang menuduh akan tidak adilnya sang ayah dalam memberi ‘sangu’ hanya karena sang kakak diberikan lebih,padahal kalau sang adik mau sedikit objektif ,ayah sudah cukup adil, mengingat sang kakak duduk di sma sedangkan sang adik masih mengenakan celana berwarna merah di sekolah.

Kasus perzinahan,pencurian, penganiyayaan, bukanlah hal yang tidak ada di negara Arab Saudi,namun kalau boleh jujur kasus perzinahan ,dan kemunkaran lainnya pun ada di zaman kepemimpinan Rasulu ‘l-llah shalla ‘l-llahu ‘alaihi wa sallam.Negara Surgawi dalam artian nihil kemunkaran  jelas tidak ada,namun keputusan Saudi Arabia dalam menggunakan Al-quran dan Sunnah sebagai dasar negara ,“Two Thumbs Up” bukannya berlebihan jika diberikan kepada Kerajaan Saudi Arabia.

“Manhaju I’tidal Su’udy” itulah judul yang di bawakan oleh Amir Kholid Faishol yang menjabat sebagai Amir Makkah yang berlangsung di “qoah”(aula) Jami’ah Islamiyah Madinah (Islamic University of Madinah) sebulan silam. Acara yang dimulai dengan pembacaan ayat – ayat Al-quran oleh Sheikh Mishari Rashid tersebut dipenuhi oleh para masayikh dan mahasiswa, tak ayal di dalam Aula yang interiornya kurang lebih seperti bioskop ini, terlihat beberapa mahasiswa yang berdiri karena habisnya tempat duduk.

“Manhaju I’tidal Su’udy, I’tidal dalam artian konsisten dengan sikap adil,seimbang “ Tegas amir kholid,lalu lanjutnya “ Dan ini merupakan tafsiran ‘amalie dari firman Allah azza wa jall : “ wa ja’alnaakum ummatan wasaton ,yang mana Rasulu ‘l-llah Shalla ‘l-llahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan “wasat” dengan “al-‘Adlu” atawa adil.Dan saya mensifati Saudi dengan “al-i’tidal” ,karena Kerajaan Saudi Arabia satu –satunya negara di dalam percaturan dunia islam yang membangun negaranya diatas syariat Allah yang termaktub di dalam “al-Kitab wa al-sunnah”.

“ Al-Wast baina al-guluw wa at-atanatthu’  wa baina at-tafriet wa at-taqsier” “seimbang di antara keguluwan,sikap berlebih-lebihan dengan  “tafriet” “remeh”, lalai pula.”, “wast baina al-injiroof  fie al madiyah wa baina al-istigroq fie ar-ruhaaniyah” bersikap Wast diantara kutub yang hanyut dalam materi dengan kutub yang  tenggelam dalam (kebatinan)ruhani.”, “konsisten di tengah diantara kelompok yang menuhankan nabi,dengan kelompok yang mendustakan bahkan membunuhnya “, “wa baina man yusayyidu Aqlahu mutlaqon wahdah wa man yu’tilunahu”, “Seimbang diantara khalayak yang menuhankan akalnya secara mutlaq dengan kelompok yang memberangus akal”.begitulah  beberapa bentuk Ketawasutan,keadilan atawa keseimbangan dalam manhaj Islam yang dipaparkan oleh Amier Kholid bin Faisol yang mana hal ini terus diserap oleh  kerajaan saudi dalam kehidupan beragama dan bernegara.

“Wasat “ atawa bersikap tengah kerap kali diinterpretasikan secara rigid nan literal oleh beberapa kalangan, sehingga bermakna berdiri di tengah dalam segala hal dan kesempatan. Akibatnya tidak jarang ada yang berdiri di tengah tengah haq dan kebatilan.padahal sikap Tengah menjadi indah jika berposisi diantara dua kebatilan bukan berdiri diantara haq dan batil yang malah menimbulkan kebatilan yang baru dan mengaburkan kebenaran.

Contoh kasus bersikap tengah baina haq wa ‘l-batil ,yaitu di masa dimana ahlu ‘l- sunnah yang berusaha mempertahankan tradisi nabi dan para sahabat dalam mengistbat sifat tuhan bersinggungan dengan mu’tazilah yang menafikan sifat tuhan,lantas datanglah tokoh yang mencoba berdiri di tengah tengah haq (Ahlu sunnah) dan Batil( mu’tazilah) dan hasilnya kebenaran menjadi kabur dan juga menimbulkan  kelompok batil yang baru.

Selain Wast yang diartikan secara literal gejala “Akulah Yang Wasat”,”akulah sang moderat” lebih sering terjadi.”wast” ,dalam artian melihat segala sesuatu dengan kacamata bening,yang hasilnya: putih adalah putih dan hitam adalah hitam atau ”Objektif” lebih tepatnya.Nah apesnya, jika pengikraran diri “Akulah yang Wast” dilakukan oleh kubu “mutasyaddied”(keras) atau yang “Mutasahil”(bermudah mudah).

‘Tsaub’ putih akan tetap terlihat “biru”,meskipun berkali kali ditekankah bahwa warna ‘tsaub’ adalah putih,karena yang melihat merasa bahwa kacamatanya bening, padahal berwarna biru.ketika kaum yang kasar dalam memahami agama merasa telah memakai kacamata ketawasutan ,bening, maka yang sedari dulu berada pada porsinya akan terlihat sebagai Mutasahil ,bermudah mudah dalam agama.Begitu juga sebaliknya, jika para mutasahil dalam beberapa hal dengan perasaannya “akulah sang moderat” maka akan melihat Kaum pertengahan layaknya Mutasyaddied.

Wajibnya memelihara janggut,haramnya musik,isbal dalam pandangan Ulama Arab Saudi kerap dijadikan alasan oleh beberapa kalangan tuk menyematkan kata “tasyaddud” kepada para Ulama tersebut.

Hal ini menarik,karena apa sebenarnya patokan seseorang itu keluar dari garis teritorial “keseimbangan”atau “ketawasutan”?,bukankah tawassut adalah beragama sebagaimana yang alquran dan sunnah perintahkan?,atau kalau dalam scope yang lebih kecil ,masalah hukum misalnya ,tawassut adalah mengharamkan yang diharamkan oleh Allah dan rasulnya, dan menghalalkan apa apa yang dihalalkan oleh allah dan rasulu ‘l-llah shall ‘l-llahu ‘alaihi wa sallam.

Kata “Haram” di pilih oleh Imam Syafi’e rahimahullah dalam masalah memangkas janggut,Isbal,dan Musik.Imam Nawawi yang  dikenal sebagai pengarang Riyadlu l-‘sholihien dalam masalah Janggut menemukan kata sepakat dengan imam madzhabnya,dalam Musik Imam Nawawi menegaskan akan haramnya alat musik seperti Mandolin,simbal.dan seruling.(Mughni al-muhtaj 4/429).Dalam masalah Isbal Imam Nawawi sedikit berbeda dengan seniornya asyafiie ,”makruh” jika tidak disertai rasa sombong menurut imam nawawi rahimahullah.

Tak ubahnya Imam syafiie dan Imam Nawawi rahimahuma ‘llah, Ibnu Hajar al –‘Asqolani dalam magnum opusnya : Fath ‘l-bary (Syarh hadith – hadith shohih bukhari) ditemukan bahwa sang imam mewajibkan memelihara janggut,mengharamkan musik,dan isbal.Ini bisa dilihat ketika Ibnu Hajar mensyarah hadist – hadist tentang janggut,musik,dan isbal. Bahkan dalam Isbal terdapat hadist yang menjelaskan akan sombongnya pelaku ‘isbal’ yaitu  “jauihilah penjuluran Izar  sesungguhnya setiap yang menjulurkannya adalah seseorang yang sombong”, (fath ‘l-bary 13/267).riwayat ini secara tidak langsung meruntuhkan argumen akan haramnya isbal jika disertai rasa sombong saja.

Jika mereka yang kerap menuduh pengaharaman isbal,musik dan wajibnya memelihara janggut sebagai bentuk

tasyaddud dalam beragama , maka konsekuensi logisnya Imam syafiie, Imam Nawawi dan Ibnu Hajar Rahimahumu ‘llah adalah para ulama “mutasyaddidien”.Sepelik itukah? Entahlah tapi yang jelas para Imam diatas baik syafiie,nawawi maupun ibnu hajar adalah ulama yang berusaha seobjektif mungkin dalam menentukan hukum.karena tasyaddud mendapat kecaman keras dari tuhan maupun nabinya shalla ‘l-llahu alaihi wa sallam.

Tuduhan ini tidak lepas dari ketergesa – gesaan dalam menilai sesuatu, dan juga ketergesa-gesaan menilai diri sudah dalam posisi “wasat”. Cukuplah Sabda Rasulu ‘l-llah shalla ‘l-llahu ‘alaihi wa sallam sebagai renungan : “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa.”(HR.Bukhari).

Lantas, Sudah beningkah kacamata kita?

Oleh : Rizqo Kamil Ibrahim, Wihdah sakaniyah 7,Safar, 21  1433 H.

Sumber :

Ibnu Hajar Al-asqolani,Fathu ‘l-bary.Riyadh : DaruToyyibah cet : 1431 H.

‘Abdullah Ramadhan bin Musa,  Ar-roddu ‘ala Qordhowi wa al-Jadie’.Riyadh : dar almoayyad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s