Pengaku-aku

Pada suatu waktu, dua orang pemuda berjalan di tengah hutan belantara penuh pepohonan. Salah satu dari kedua pemuda tersebut melihat bekas telapak kaki binatang buas di atas tanah. Maka dia berkata kepada temannya bahwa dirinya kuatir akan keluar seekor biantang buas datang dan membunuh mereka berdua, sementara mereka tidak memiliki senjata apapun untuk membela diri.

Kemudian berkata kawannya: “Jangan kuatir selama kamu bersama saya, kamu tahu betapa besar keberanianku, kekuatannku dan…..” Belum selesai dia berbicara, terdengar suara beruang datang. Dengan segera dia yang mengaku-ngaku memiliki keberanian dan kekuatan tersebut pergi tunggang langgang meningalkan temanya, berlari menuju sebuah pohon dan memanjat hingga pucuknya menyelematkan dirinya dari beruang.

Sementara rekannya yang ditinggal lari langsung merebahkan tubuhnya ke atas tanah dan menahan nafas. Saat beruang tiba, hewan buas mengelilingi tubuhnya dan menciumi badannya. Ketika tidak didapati nafas, beruang mengira bahwa jasad itu sebuah mayat, maka ditinggalkannya pergi, karena beruang tidak memakan bangkai.

Setelah si beruang tersebut pergi berlalu, rekannya yang tadi pergi lari, turun dari atas pohon. Rekannya medapatinya dalam ketakutan yang sangat. Dia bertanya kepada rekannya apa yang dikatakan si beruang ke telinganya. Maka berkata teman yang kedua: “Beruang tadi sangat bijak, dia telah berbisik kepadaku bahwa seseorang yang memuji tentang dirinya sendiri adalah pembohong dan tidak dapat dipercaya, serta tidak dapat diandalkan.”

 

Teks Aslinya:

المــدّعي

مرّ رجلان في أجمة كثيرة الأشجار, فرأى أحدهما على الأرض آثار أقدام السّباع, فقال لرفيقه: إنّه يخشى أن يخرج عليهما سبع فيقتلهما, وليس معهما سلاح يدافعان به عن نفسيهما. فقال الآخر: “لا تخف مادمت أنا معك, وأنت تعلم مبلغ شجاعتي وقوّتي و….”, وما كاد يتمّ كلامه حتىّ سمعا صوت دبّ آتيا, فترك ذلك المدّعي رفيقه, وجرى نحو شجرة وصعد إلى قمّتها هربا من الدبّ.

 وأمّا الآخر فاستلقى على الأرض وكتم نفسه. ولماّ جاء الدبّ, دار حوله يشمّ بدنه فلم يجد فيه نفسا, فظنّ أنّه ميّت وتركه وانصرف, لأنّه لا يأكل الميّتة.

وبعد أن ذهب الدبّ نزل ذلك المدّعي عن الشّجرة, وأقبل نحو رفيقه وهو في شدّة الخجل, وسأله على سبيل المزاح عمّا قاله الدبّ في أذنيه. فقال الثّاني: “هذا دبّ حكيم. فلقد أخبرني أنّ مادح نفسه كذّاب لا يصدّق, ولا يعتمد عليه.

المطالعة الجزء الثاني مقرر للصف الثالث بكلية المعلمين الإسلامية

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s