Bid’ah

Oleh : Rizqo Kamil Ibrahim

بدعة في الجغرافية أحدثها فتى حديث السن خامل الذكر لم تكن لتصادف إلا الإغضاء و التكذيب و حسبت من قبيل الخرافات و أباطيل التي كان الدجلون يأتون بأمثالها”

 Bid’ah di dalam geografi yang diprakarsai oleh seorang Pemuda yang tidak  dikenal itu,tidak mendapat anggapan , malahan  tuduhan dusta,membuat khurofah dan kebatilan yang mana hanya “dajjal”(pembohong besar) yang melakukannya disematkan padanya”(Qiroatu arrosyidah li soffie arrobie’ kulliyyatul mua’llimina  al-islamiyyatu,hal: 16)

Itulah sekelumit cerita bersejarah yang dikisahkan oleh kitab ” qiroat ar-rosyiedah” yang berjudul   “إكرستوفر كولمبس” (Christopher Colombus).

Christopher Colombus dalam sejarahnya merupakan sosok yang kontroversial di masanya ,Ia berkeyakinan dapat sampai ke Benua Asia dengan berlayar kearah barat melewati Samudra Atlantik.Bid’ah atau gebrakan dalam dunia pelayaran yang digagas olehnya cukup membuat namanya diperbincangkan.

Di akhir cerita Christoper Colombus berubah dari sosok yang dianggap gila menjadi sosok fenomenal karena Bid’ah ,gebrakan, atau kreasi yang dibuatnya berakhir manis, walaupun tidak mendarat di Asia , Christoper berhasil mendarat di benua entah berantah, yang kini dikenal sebagai “Amerika”.

Dalam cerita ini ada hal menarik yang perlu digaris bawahi, sang pengarang menggunakan kata “bid’ah” dalam cerita di atas yang bermakna” innovation” dalam bahasa inggris dan “Inovasi” atau mungkin gebrakan di dalam bahasa Indonesia.Kemungkinan pertanyaan yang muncul, “bukankah bid’ah hanya berkisar dalam hal – hal yang berhubungan dengan keagamaan saja?”

Bid’ah merupakan kata dalam bahasa Arab,sebagaimana yang telah diketahui bahasa Arab merupakan bahasa yang kaya ma’na , 1 kata bisa mewakili lebih dari 7 makna.Lafadz Bid’ah  dalam literatur Arab baik klasik maupun kontemporer agamis maupun non agamis sering dipakai setidaknya mewakili dua makna ,yaitu : Makna Lugowi (makna asli kata atau secara bahasa) dan Makna Istilah ( makna dalam syari’at Islam).

Kasus kata “bid’ah” ini seperti lafadz “sholat”, “Sholat” secara etimologi berarti : “Doa” (lihat : al-mu’jam al-wasiet,hal ; 533,Maktabah al-islamiyyah) sedangkan secara terminologi  :” sholat adalah perkataan dan perbuatan tertentu/khusus yang dibuka/dimulai dengan takbir (takbiratul ihram) diakhiri/ditutup dengan salam. “. Dan kedua makna sholat ini sering ditemukan di berbagai tempat dalam Quran dan Hadist.

Bid’ah Secara bahasa dalam kamus tahdziebu al-lugoh(kamus yang dikarang sekitar abad ke -4)  :

البدعة : كل محدثة

Bid’ah : Setiap hal yang baru (Abi Mansur Muhammad bin ahmad al- azhary,Mu’jamu Tahdziebu al-llugoh ,Tahqieq : Dr. Riyad Zaki Qosim ,(Beirut : Dar al-Ma’rifah ,1422H/2001), hal : 293.)

Sedangkan Imam Syatibie ( Ulama di abad ke 8 hijriah) menyebutkan makna bid’ah secara bahasa adalah :

و أصل مادة ” بدع” للاختراع على غير مثال سابق

Berasal dari akar kata ” بدع” yang memiliki makna dasar : Apa yang diadakan (dibuat( tanpa ada contoh yang mendahului .(Asy-Syatibie,Abu Ishaq,Al-I’tishom Iskandaria : Dar ‘l-Aqidah, hal :25 )

Sebagaimana Firman Allah :

قل ما كنت بدعا من الرسل

Katakanlah : ‘aku bukanlah Bid’an(sesuatu yang baru) diantara rasul – rasul”(Qs Al-ahqaf: 9),maksudnya aku bukanlah Rasul yang pertama diutus ke dunia ini.

Tak ubahnya kitab dan kamus pada abad pertengahan ,kamus dan Buku – buku kontemporer menerangkan makna Bid’ah sebagai sesuatu yang baru baik dalam agama maupun di luar agama.

Disebutkan di dalam kamus “as-shiha fie al-llugot wa ‘l-‘ulum”,setelah mengartikan bid’ah sebagai hal baru dalam agama,Bid’ah juga diartikan sebagai Mode dan juga Fashion.(lihat : mar’asyila,nadim,As-Shihah fie Al-Llugoh wa al-‘Ulum  ,Beirut : Dar ‘l-Hadoroti .Hal : 76)

Dalam kamus Arab – Inggris Ilyas, Bid’ah diartikan sebagai “Novelty” dan “Innovation” yang mana dalam bahasa Indonesia “Novelty” berarti sesuatu yang baru dan Innovation berarti “Inovasi”.(lihat : Anthony Elias,qomus ilyas al-‘asr ‘araby – injilizie,hal : 53,kairo : syirkatu dar ‘l-ilyas al-‘asriyyah)

Contohnya Seperti cerita Colombus diatas di mana “bid’ah” bermakna Inovasi.contoh yang lain di Dalam Buku yang berjudul العولمة الديناميكية الداخلية”“(Al-aulamah Dinamiikiyyah ad-dakhiliyyah”) yang merupakan saduran dari buku “Globalization The Internal of dynamic” (2001)yang dikarang oleh Bol Kirk bird dan Karen Ward ,termaktub di salah satu halamannya :

باتت الفرق سمة للوضع التنظيمي منذ أن تبنى اليابانيون بدعة دوائر الجودة الثمانينيات.

) Bol Kirkbird wa Karen Ward, Al-‘Aulamah Dinamiikiyyah ad dakhiliyyah ,Ta’rieb😀.Hisyam Ad-Dujjanie,Maktabatu Al-Obaikaan)

Jika kita merujuk ke buku Aslinya tertulis : “Teams have been a feature of the organizational landscape since the fashion for quality was adopted from the Japanese  in the 1980s.“(Bol Kikbird and Karen Ward,Globalization the internal of dynamic(2001) ,Jhon willey and  Sons.Ltd ,Hal : 223,). Dalam kalimat ini The Fashion di sadur menjadi Bid’ah dalam buku edisi bahasa Arabnya.

Diatas adalah makna Bid’ah secara etimologi dan contoh pemakaiannya . Sedangkan Makna Bid’ah secara Terminologi atau Istilah Syari’at adalah :

عبارة عن طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه

Suatu Istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat –dibuat  ( tanpa ada dalil) Yang  menyerupai  syari’at, yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah beribadah kepada Allah,(Abu Ishaq Asy-Syatibie,Al-I’tishom. Iskandaria : Dar ‘l-‘aqidah hal : 26)

Dan Hadist  Rasulu ‘l-llah shalla ‘l-llahu ‘alaihi wa sallama yang terkenal “Kullu Bid’atin Dolalatin” ,“Setiap Kebid’ahan adalah sesat”(HR.Abu Daud), merupakan contoh pemakaian lafadz bid’ah dalam artian syari’at atau secara Istilah.

Melihat kenyataan ini dalam artian Bid’ah dalam literatur klasik maupun kontemporer bermakna ganda, maka tidak heran jika ada beberapa ulama, layaknya Ibnu Rajab Al-hanbalie (ulama abad 8 Hijriah) yang memahami perkataan ‘Umar bin Khattab Radiyallahu ‘anh “Ni’mati al-bid’ah hadzihi” (ini adalah sebaik baik bid’ah) sebagai `Bid’ah Lugowiyyah atau Bid’ah secara bahasa(Etimologi).Bahkan perkataan ‘umar ini bisa digolongkan sebagai contoh kata Bid’ah secara bahasa dalam sastra klasik.

Perkataan “ni’matil bid’ah hadzihi” ini diucapkan oleh ‘Umar di kala menggabungkan ummat tuk  Shalat Tarawih Berjamaah yang dipimpin satu Imam.karena sebelumnya ummat pada saat itu mempunyai jamaah sendiri sendiri.Jika Bid’ah dalam kalimat ini dimaknai secara bahasa, maka yang dimaksud bid’ah bukan Sholat Tarawihnya melainkan penggabungan jamaah dengan satu tempat dan satu imam,disebut Bid’ah karena rasulullah shalla ‘l-llahu ‘alaihi wasallam dan abu bakr assiddieq Radiyallahu anh tidak pernah menggabungkan jamaah menjadi satu jamaah saja,maka hal ini merupakan sesuatu yang baru.

Banyak ulama bersandar pada ucapan ‘Umar bin Khattab “ni’mati albid’ah hadzihi”  dalam  membagi bid’ah menjadi dua bagian, salah satunya Imam Syafi’ie.sebagaimana perkataan Beliau : “Bid’ah itu ada dua : bid’ah Mahmudah (terpuji) dan bid’ah Madzmumah (tercela)“(Ibnu rajab Al-hanbalie,Jamiul ulum wal hikam. KSA : Dar Ibnu Al-jauzie , hal : 503)Bid’ah Mahmudah inilah yang sering dikenal sebagai “bid’ah Hasanah”.

Pembagaian ini diikuti oleh beberapa ulama-ulama Syafii’iyyah sebut saja Imam Nawawi,Ibnu Hajar Al-‘Asqolani,Imam Suyuthi rahimahumullah, bahkan ‘izzuddien ‘abdu As-salam membagi bid’ah  menjadi wajib, muharrom, mandubah, makruhah dan mubah.

Pembagian Bid’ah menjadi dua bagian ini merupakan pembagian bid’ah dalam artian etimologi (bahasa), karena secara syari’at semua bid’ah sesat.Ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar dalam magnum opusnya fathul Bari : ” bid’ah  dalam pengertian Syari’at merupakan hal yang tercela lain halnya dalam pengertian secara Bahasa,sejatinya hal-hal yang bersifat baru yang belum ada contohnya  disebut Bid’ah baik itu terpuji maupun tercela(Ibnu Hajar,Fathu Al-Bary(13/316) dinukil dari : Habib ‘Alawi bin Abdul Qodir As-Seggaaf ,Kullu Bid’atin Dolalatin,Saudi : dar As-saniyah, hal : 16, )

Ini bisa dilihat dari contoh- contoh “bid’ah Hasanah” yang kerap ditawarkan oleh para ulama, layaknya Membangun sekolah,membuat karangan-karangan pada ilmu-ilmu syariat tertentu layaknya ilmu fiqh,tauhid, mengumpulkan Al-quran menjadi satu mushaf,memberikan titik pada Al-quran, dan shalat tarawih.

contoh contoh diatas dilihat secara seksama ternyata berkisar pada hal –hal yang tidak bersifat ritual.dalam artian bukan hal hal yang dikerjakan dalam waktu tertentu,dengan tata cara tertentu,dzikir-dzikir khusus dan sebagainya .karena bebas dari sifat ritus maka masuk dalam kategori bid’ah lugowiyah , sedangkan sholat terawih yang bersifat ritual di atas dijadikan contoh karena memang pernah dilakukan oleh Rasulu ‘llah Shalla ‘llahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan Dalam hal-hal yang berkaitan dengan ritual, yang tidak temukan tuntunannya dalam al-quran ditambah rasulullah shalla llahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah mengerjakanya maka para rosikhuna (ahlul ‘ilmi) yang membagi  bid’ah menjadi beberapa bagian,menggolongkan perbutan ini kedalam bid’ah madzmumah(tercela) atau meminjam istilah imam suyuthi : “bid’ah mustaqbahah”(bid’ah yang buruk).

Imam Syafii’e rahimahullah misalkan, beliau melarang dzikir setelah sholat dengan suara keras dan hanya membolehkan tuk imam dengan tujuan pembelajaran bacaan dzikir setelah sholat(lihat : Imam Asy-Syafiie’,Al-umm.Beirut : Dar ‘l-kutub Al-‘Ilmiyyah, Jilid : 1 ,Hal : 242).

Begitu pula imam ‘izzzuddien ibn ‘abdis salam rahimahullah(ulama abad ke 7)ulama yang membagi bid’ah menjadi lima ini mempunyai karangan yang menjelaskan akan tercelanya bid’ah sholat Raghaib((lihat : Habib ‘alawi bin abdul qodir as-ssegaaf, kullu bid’atin dolalah ,KSA : dorar as-saniyah.Hal : 24)

Jalaluddien As-Suyuthi seorang ulama abad ke 9 menemukan kata sepakat dengan kedua seniornya di atas ,dalam karyanya “Al-amru bil ittiba’ wa annahyu ‘anil ibtida'” setelah menyebutkan adanya Bid’ah Hasanah (hal : 26 -27) ,di halaman berikutnya beliau menggolongkan Sholat raghaib (Hal : 65), Berdoa di kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Hal :41-43) dan ritual-ritual lain yang tidak berdasar sebagai Bid’ah mustaqbahah ( Buruk).(lihat : Jalaluddien As-suyuthi,al-Amru bil Ittiba’ wa An-Nahyu ‘anil Ibtida’,al-Qohiroh : Dar ‘l-Istiqomah ).

Bahkan sayyidina ‘Umar Bin Khattab radiyallahu ‘anh yang diklaim sebagai pencetus bid’ah hasanah, diriwayatkan pernah mencambuk orang – orang yang melakukan dzikir berjamaah pada masanya.Karena Dzikir Berjamaah merupakan ritual yang baru.(Diriwayatkan oleh Mu’aiwiiyyah bin Hisyam dia berkata : Haddatsana Sufyan ‘an Sa’ied Al-Jarierie ‘an abie ‘Ustman,dan sanadnya shohih Lihat : Ahmad bin Muhamma  bin As-Sodiq An-Najar, Fadlu al-maqol fie wujuub Ittibaau’ s-salaf Al-kirom, Al-Madinah Al-Munawaroh : Daru An-Nasiehah. Hal : 58)

Wallahu a’lam bil showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s