Tontonan yang Bukan Tuntunan

Niat nonton berita terkini Tanah Air di stasiun berita Indonesia, eh, malah nyangkut di sebuah stasiun televisi swasta lainnya. Nggak sengaja, karena curiosity, akhirnya saya nonton acara tersebut dulu beberap menit. Hasilnya; tontonan yang berpotensi menjadi tuntunan masyarakat Indonesia seperti inilah yang mengantarkan negeri Nusantara selalu dirundung musibah dan bencana.

Awal kali tayangan yang muncul di layar dan terekam mata saat menontonnya; beberapa iklan minuman mineral, energi, dan obat sirup. Saya amati, tidak sengaja tetapi terpikirkan, ternyata dari ketiga iklan tersebut menampilkan bentuk tontonan sampah yang layak digugat. Bukan untuk menggugat ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) atau lembaga institusional negara lainnya, tetapi saya ingin “menggugat” awareness orang tua dan pihak-pihak pendidik muslim.

Anda tahu? Bahwa yang saya tonton dari iklan selintas tersebut membuat saya geram sekaligus sedih. Geram, karena begitu meluasnya tontonan yang semestinya tidak tersebar begitu mudahnya sehingga berpotensi menjadi tuntunan bagi masyarakat yang awam agamanya. Sedih, karena alternatif tontonan yang patut jadi tuntunan masih minim lagi kurang diketahui luas oleh masyarakat umum.(1)

Mengapa terkumpul dua sikap hati di atas pada diri saya di atas? Karena, ketiga tayangan iklan dari minuman hingga obat sirup tersebut, yang saya tonton saat itu, sadar atau tidak sadar turut berperan menggiring masyarakat agar meniru perbuatan yang menyelisihi sunnah dalam agama Islam.(2) Kok bisa?

Ya, di antaranya praktek bintang iklan yang menenggak minuman atau obat sirup dengan menggunakan tangan kiri. Padahal, bagi seorang muslim yang aware dengan sunnah-nya, dipastikan tidak akan mempratekkan makan dan minum dengan tangan kiri.(3)

Barangkali, ada yang menyanggah, bahwa itu sekedar tontonan iklan, sehingga tidak perlu berlebihan meresponnya, apalagi kekuatiran imitasi atas perbuatan sang bintang iklan. Lagi pula, yang ingin dijual adalah produk yang diiklan-kan, bukan gaya mengkonsumsinya. Sesederhana ini kah?

Awal bulan Juni depan, ada suatu konser musik penyanyi wanita yang sudah dinyatakan tidak akan diizinkan oleh pihak berwenang di Jakarta. Suara pro-kontra bermunculan. Bagi seorang liberalis atau masyarakat yang beragama sebatas kulitnya saja, menganggap pelarangan tersebut mengada-ada bahkan ada sindiran kepada pihak-pihak yang tidak setuju dengan konser tersebut dijuluki sebagai ‘sok moralis.’ Mereka juga menganggap bahwa semestinya yang dilihat adalah sisi kreativitas sang penyanyi, kerja kerasnya, dan seterusnya.

Inilah yang membedakan, worldview yang bersumber dari seorang muslim abal-abal dengan yang kaffah (menyeluruh). Yang satu melihat agama terbatas ritual-ibadah tetapi mengacuhkan pengaruh eksternal yang merusak stabilitas iman dan Islamnya. Sehingga, tercampurlah antara yang haqq dan bathil, padahal ini tidak mungkin bersatu pada diri seorang mukmin(4). Tapi yang benar, berislam secara totalitas (kaaffah), bahwa apapun yang menyelisihi sunnah agama Islam, hendaknya dihindarkan jauh-jauh. Jikapun tidak terjatuh kepada keharaman, at least, pintu syubhat terbuka lebar.(5)

Praktik meminum dengan tangan kiri yang diiklankan –sengaja diskenario karena kejahilan sutradara atau tidak– untuk sebuah iklan produk, hingga westernisasi dengan rumusnya 3 F (Fun Fashion Food) sudah terasa benar pengaruhnya di kalangan umat Islam. Disadari atau tidak, dengan seringnya ditonton, maka proses deislamisasi telah dan akan terus terjadi hingga akhir kiamat kelak, sebagai manifestasi pertempuran tiada henti antara haqq dan bathil. (6)

Dan, yang membuat saya lebih kuatir tentang nasib bangsa Indonesia, bukan sekedar karena tontonan iklan di atas. Tetapi, acara inti sebenarnya yang 60 menit dengan selingan iklan sampah yang beberapa detik saja. Tahukah acara apa yang saya maksud? Ya, acara yang mengambil lokasi di sebuah tempat di alas di daerah Jawa Tengah, shooting jam 2 dini hari, dengan narasi cerita tempat tersebut sebagai lokasi lahirnya “wewe gembel.” Subhanallah!

Lihatlah, betapa masyarakat Indonesia masih saja terjangkiti virus TBC (Takhayul Bid’ah Churafat) yang kronis. Di saat dakwah para ustadz beken di layar-layar kaca negeri kita, yang sedikit saja bertemakan tauhid dan lebih kental entertaiment-nya, tontonan mistis “uji nyali” di tempat-tempat yang dianggap keramat, penuh syetan, perburuan hantu, memanggil arwah, berdialog dengan alam ghaib, menganggap sesuatu atau tempat tertentu memiliki kekuatan, membuat sesajen untuk persembahan makhluk halus, dan seterusnya yang sejenisnya, tampil menjadi tontonan di televisi yang tiada kuasa dihentikan, hatta KPI sekalipun? Dan, ingatkah kita, bahwa murka Allah bukan hanya kepada yang melakukan kedzaliman semata, tetapi meliputi orang yang beriman juga. Dan sebesar-besarnya perbuatan dzalim adalah menyekutukan Allah. Perhatikan firman Allah ta’ala ini: ”Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah, bahwa Allah amat keras siksa-Nya.” (QS al-Anfal: 25). Dan, “Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat kemunkaran, sedangkan mereka tidak mengubahnya, maka datanglah saatnya Allah menjatuhkan siksa-Nya secara umum.” (HR Abu Daud).

Maka, tidak diragukan, selama tontonan seperti ini masih memiliki rating yang tinggi dan menjadi tuntunan, tidak ada jaminan Indonesia akan menjelma baldatun tayyibah wa robbun ghafuur, wallahul must’an. [5/20/12]

======

(1) Sebenarnya, sudah muncul televisi muslim yang sesuai dengan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah, seperti Insan TV yang bisa dinikmati via parabola (lihat caranya di http://www.insantv.com/) atau http://yufid.tv/ yang baru tayang online.

(2) Memahami “sunnah” bukanlah sekedar pengertian fikih yang biasa dimengerti oleh sebagian kaum muslimin, yaitu sebagai perkara “mandub” dan “mustahab”, yaitu segala sesuatu yang diperintahkan dalam bentuk anjuran, bukan dalam bentuk pewajiban. Tetapi “sunnah” dalam hal ini adalah segala sesuatu yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Quran –pen) dan As-Sunnah (hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca penjelasannya definisi “sunnah” secara kofrehensif di http://muslimah.or.id/manhaj/definisi-sunnah.html

(3) Perhatikan sunnah (hadits) nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyerupakan makan dan minum dengan tangan kiri dengan amalan syetan:

لا يَأْكُلْ أَحَدُكُمْ بِشِمَالِهِ وَلا يَشْرَبْ بِشِمَالِهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Janganlah di antara kalian makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya, maka sesungguhnya syetan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (hadits marfu’).

Dalam lafadz lain dari riwayat Muslim di kitab shahih-nya di bab “Adabul Tho’am wa as-Syarab wa Ahkamuhuma” hadits no. 2019, 2020 (3/1598, 1599), disebutkan dengan penekananan sebagai berikut:

لا يأكلن أحدكم بشماله ، ولا يشربن بها ، فإن الشيطان يأكل بشماله ، ويشرب بها

“Jangan sekali-kali di antara kalian makan dengan tangan kirinya, dan jangan sekali-kjali minum dengan tangan kirinya, maka sesungguhnya syetan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.”

Di lafadz lain, disebutkan:

إذا أكل أحدكم فليأكل بيمينه ، وإذا شرب فليشرب بيمينه ، فإن الشيطان يأكل بشماله ، ويشرب بشماله

“Jika di antara kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya, dan jika ingin minum, minumlah dengan tangan kanannya, maka sesungguhyna syetan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.”

Dan di riwayat Muslim lainnya, dari al-LAits dari Abu al-Zubair, dari Jabir, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لا تأكلوا بالشمال ، فإن الشيطان يأكل بالشمال

“Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, maka sesungguhnya syetan makan dengan tangan kiri.”

Masih ada lagi lafadz hadits lainnya yang serupa di atas, yang intinya melarang untuk makan dan minum dengan tangan kiri karena menyerupai syetan, sedangkan umat mukmin musuh syetan dan tidak mungkin mengikuti cara-cara musuhnya dalam segala hal.

Adapun minum dengan berdiri, maka pelarangan dari hadits tentang ini, bukanlah untuk pengharaman, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah minum dengan berdiri. Penjelasannya dapat dibaca di link ini http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=173603

(4) Dapat dibaca di sini http://www.facebook.com/note.php?note_id=218989144885000

(5) Sebagaimana hadits shahih:

عن النعمان بن بشير رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول (إن الحلال بين والحرام بين وبينهما أمور مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس فمن اتقى الشبهات استبرأ لدينه وعرضه ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه ألا وإن لكل ملك حمى ألا وإن حمى الله محارمه ألا وإن في الجسد مضغه إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب) متفق عليه

(6) Hadits Hudzaifah ibnul Yaman yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Hudzaifah mengatakan: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan yang khawatir akan menimpaku. Lalu aku berkata: “Ya Rasulullah, tatkala kami berada dalam kehidupan jahiliyah Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Rasulullah menjawab: “Ya.” Aku berkata lagi: “Apakah setelah kejelekan ini ada kebaikan?” Rasulullah menjawab: “Ya, akan tetapi ada asapnya.” Aku mengatakan: “Apakah asapnya wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu kenal dan kamu ingkari.” Aku berkata: “Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu para da’i yang berada di pintu an-naar. Dan barangsiapa yang memenuhi seruannya, maka mereka akan mencampakkannya ke jurang an-naar tersebut.”

— beberapa teks arab belum sempat diterjemahkan, mengingat waktu yang terbatas,,,,, —

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s