Ketika Salafy Dikepung Dari Segala Penjuru…!!

Shahabat …,
Pernahkah kita merenung tentang golongan-golongan yang memusuhi Dakwah Salaf ini..? Pernahkah terbenak difikiran kita kenapa
golongan-golongan Islam, bersepakat memusuhi dakwah yang Haq ini..?

Jawabannya hanya 1: Masing-masing golongan yang memusuhi dakwah yang mulia ini, bukan lantaran murni membela agama islam dan melindungi islam melainkan lantaran adanya kepentingan-kepentingan masing-masing golongan terhadap apa yang telah dilakukan dengan menerapkan metode tashfiyah yakni pemurnian agama yang dilakukan oleh Dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Coba anda lihat diantara golongan dalam Islam yang paling banyak gesekannya adalah terarah kepada Dakwah Salafiyyah, seluruh golongan sangat memusuhi dakwah ini.

Kepungan Pertama
Kita sebutkan dari ketika kita menyebutkan dari segi Aqidah ash Shahihah (Aqidah yang Benar). Ada kelompok yang memiliki kepentingan perihal Aqidah merasa terganggu jika Pemurnian Aqidah Umat Islam harus di murnikan, dikembalikan bagaimana para
shahabat (salaf) memandang aqidah tersebut.

Contoh : Allah Bersemayam diatas Arsy. Di antara kelompok yang ada merasa terganggu dengan statement ini yang jelas-jelas mempunyai nash / dalil yang shahih. Allah Berfirman :

ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯٰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ

“Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” [Al-A’raaf: 54]

Firman Allah al-Aziiz:

ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَٰﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯٰ

“(Yaitu) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaahaa: 5]

Serentak.. orang-orang yang tidak setuju mengatakan : “Salafi Wahhabi menyamakan Allah dengan Makhluknya, kalau bersemayam berarti memiliki tempat… kan. Allahu Akbar”

Padahal, Akal kitalah yang dangkal… jangankan bersemayamnya Allah, bersemayamnya makhluk dengan makhluk saja berbeda-beda apalagi Allah ya akhy… apa disamakan bersemayam nya anda di tempat tidur dengan kerbau di lautan lumpur..? Wallahi {demi Allah}

ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺷَﻲْﺀٌ ۖ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﺍﻟْﺒَﺼِﻴﺮُ

‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ [Asy-Syuuraa: 11]

Lihatlah perkataan Syaikh kita dan juga diklaim sebagai Syaikh mereka yakni Al ‘Allamah Asy Syaikh Abdul Qadir Jaelani –
rahimahullah- jelas dan tegas dalam kitab beliau Al Ghunyah hal 73 : beliau berkata : “WAJIB Hukumnya memutlakan Sifat Istiwa {bersemayamnya Allah di atas Arsy} bagi Allah, tanpa takwil, Dengan meyakini bahwa Dzat Allah memang bersemayam diarsy, bukan dengan makna Duduk dan mumarasah {kebiasaan} sebagaimana yang dilakukan oleh kaum mujasimmah, karamiyyah, Asy’ariyyah dan mu’tazilah”

Seorang Ulama besar dari kalangan Asy-Syafi’iyyah Syaikh Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni berikut.
ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺃَﻛَﺎﺑِﺮِ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ : ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ” ﺃَﻟْﻒُ ﺩَﻟِﻴﻞٍ ” ﺃَﻭْ ﺃَﺯْﻳَﺪُ : ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﺎﻝٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻓَﻮْﻕَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِ . ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻏَﻴْﺮُﻩُ : ﻓِﻴﻪِ ” ﺛَﻠَﺎﺛُﻤِﺎﺋَﺔِ ” ﺩَﻟِﻴﻞٍ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ

“Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan
Allah itu berada di ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya. Dan sebagian mereka lagi mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini. ”[Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 5/121, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.]

Menetapkan Bersemayamnya Allah adalah aqidah yang besar dan merupakan pokok dari Iman kepada Asma’ wa shifat, menetapkannya adalah kewajiban..!! Namun menanyakan bagaimana Bersemayamnya Allah adalah HARAM, Karena daya nalar kita, akal fikiran kita adalah dangkal untuk menembus ilmunya Allah.

Oleh karena itu banyak orang mengatakan Salafi menyamakan Allah dengan makhluknya, kita katakan  “yang menyamakan itu siapa..? bukankah anda sendiri yang menyimpulkan bahwa bersemayamnya Allah itu sama dengan bersemayamnya anda ditempat tidur..?
bukankah anda sendiri yang bilang Allah sama dengan makhluknya karena sama-sama bersemayam..? wallahi ilmu Allah agung, bersemayamnya Allah tidak serupa dengan makhluk inilah keyakinan kami sebagaimana anda tidak mau disamakan bersemayamnya anda atau duduknya anda atau tidurnya anda disamakan dengan tidurnya kera..!!  ya jelas tidak mau anda dan kera beda jenis, inilah Makhluq dan makhluq saja berbeda tata cara nya apalagi Rabbul ‘Alamin”

Ketika Imam Malik (wafat th. 179 H) rahimahullah ditanya tentang istiwa’ Allah, maka beliau menjawab:
َﺍْﻹِﺳْﺘِﻮَﺍﺀُ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَﺠْﻬُﻮْﻝٍ، ﻭَﺍﻟْﻜَﻴْﻒُ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَﻌْﻘُﻮْﻝٍ، ﻭَﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥُ ﺑِﻪِ ﻭَﺍﺟِﺐٌ، ﻭَﺍﻟﺴُّﺆَﺍﻝُ ﻋَﻨْﻪُ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ، ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺭَﺍﻙَ ﺇِﻻَّ ﺿَﺎﻻًّ .

“Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu kecuali dalam kesesatan.”[Syarhus Sunnah lil Imaam al- Baghawi (I/171)]

Inilah yang menjadikan dakwah salafiyyah menjadi musuh bagi orang-orang atau kelompok yang tidak mau diluruskan pemahamannya dengan pemahaman yang benar dengan berbagai kepentingan didalamnya.

Kepungan Kedua

SALAFY DIKEPUNG OLEH KELOMPOK PRO AMALAN BID’AH. LALU BAGAIMANA NASH MENJAWABNYA..?

Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Maka Konsekwensi dari Ibadah adalah setiap yang dicintai, diridhai oleh Allah azza wa jalla dengan Ikhlas serta Ittiba’ [mengikuti] kepada Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, maka itu adalah Ibadah.

Shahabat…
Siapapun ingin semua amalnya diterima oleh Allah Ta’ala. Akan tetapi tidak semua orang mesti diterima amalnya, karena kenyataannya di antara mereka ada yang tidak memperhatikan amalannya, mereka beramal semaunya sendiri. Ketika ditanya:
“Mengapa kamu melakukan ini?” dia menjawab: “Nggak apa-apa, yang penting niatnya.”

Maka dari itu setiap yang tidak dicintai dan tidak diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla terlebih Rasulullah sama sekali tidak memerintahkannya maka suatu ibadah adalah terikat, tanpa Ittiba’ kepada Rasulullah maka janganlah anda anggap itu ibadah, melainkan hal tersebut adalah amalan yang tiada asal usulnya.

Kalau Sekiranya Hadits yang tidak jelas asal usulnya, maka bisa dikatakan hadits tersebut palsu, kalau sekiranya nasab (keturunan)
seseorang tidak jelas asal usulnya niscaya turunlah derajatnya dimata manusia… Begitupula Ibadah Kalau sekiranya Allah dan Rasulnya tidak memerintahkan suatu ajaran, maka bagaimana itu dikatakan suatu Ibadah..? Maka setiap amalan tersebut harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“Barangsiapa mengada-adakan dalam perkara (agama) kami ini apa-apa yang bukan darinya maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhariy no.2550 dan Muslim no.1718 dari ‘A`isyah)

Dan dalam riwayat lain milik Al-Imam Muslim:

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami padanya maka amalan tersebut tertolak (yaitu tidak diterima oleh Allah).”

Dengarlah Wasiat Rasulullah : “Aku berwasiat kepada kamu sekalian supaya bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat sekalipun diperintah oleh seorang hamba Habsyi. Barang siapa diantara kalian yang hidup sesudahku, maka akan melihat perselisihan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah dengan gigi geraham, dan berhati-hatilah dengan hal yang baru (dicipta dalam agama) sesungguhnya setiap ciptaan yang baru itu adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah itu sesat”. (Hadis Riwayat Ahmad (1653). At- Tirmizi (2600). Musnad Abu Daud (3991). As-Sunnan Ibn Majah (42).

Juga hendaknya ia memperhatikan perkataan ’Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma:

ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍِ ﺿَﻼَﻟَﺔٌُ ﻭَﺇِﻥْ ﺭَﺁﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺣَﺴَﻨَﺔًَ

”Setiap bid’ah itu adalah sesat walaupun manusia memandangnya sebagai satu kebaikan” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikai
dalam Syarh Ushulil-I’tiqad no. 205 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205 dengan sanad shahih].

MEREKA MENYERANG SALAFY LANTARAN AMALAN MEREKA DIVONIS BID’AH

Ketika dakwah salafiyyah menjelaskan tentang keberadaan Dzat Allah yang bersemayam di atas ‘Arsy, lalu dengan spontan golongan-golongan yang tidak menyetujuinya marah, sedangkan dalil dan nash telah jelas, Ulama pun telah jelas menafsirkannya, namun mereka tetap menanamkan benih permusuhan kepada Dakwah yang diridhoi ini, mungkin diantara mereka muncul
kekhawatiran kiranya Tauhid Umat Ini lurus dari Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ Wa shifat maka Jamaah mereka tidak lagi berbuat sebagaimana mereka berbuat, seperti Meminta kepada Kuburan, Melakukan ibadah yang tidak ada asal usulnya dan perbuatan menyimpang lainya.

Begitupun saat ini, Banyak diantara kelompok-kelompok sesat, tersinggung serta menutup rapat-rapat nash-nash shahih perihal Bid’ah, Kalau sekiranya Nash-nash tentang Bid’ah diangkat di permukaan tentu ada kekhawatiran pada diri-diri mereka yakni khawatir kehilangan Jama’ah, Khawatir tidak ada lagi objekan acara-acara, dan seterusnya, oleh karena itu mereka dengan Hawa dan Nafsunya membela setengah mati amalan-amalan Bid’ah yang notabennya jelas-jelas Rasulullah dan para shahabatnya tidak pernah mengamalkan amalan –amalan tersebut.

Berangkat dari sinilah dakwah salafiyyah, yang mereka anggap dakwah SAWAH {SALAFI WAHHABI}, dimusuhi sedangkan Nash telah jelas berlepas diri dari mereka akan tetapi merekalah yang menyelisihi Nash.

Kepungan Ketiga
Ketaatan kepada pemerintah adalah salah satu dari ushul aqidah Ahlis Sunnah wal Jamaah, yang jika diselisihi maka akan mengeluarkan pelakunya dari ahlussunnah. Sebagaimana para Ulama salaf mewajibkan untuk ta’at kepada penguasa yang mana mereka menyebutkan permasalahan ini dalam kitab-kitab aqidah ahlussunnah yang mereka tulis.

Lalu Datang lah sekelompok yang menuduh Dakwah Salafiyyah dengan tuduhan bahwa Dakwah Salafiyyah sebagai penjilat pemerintah, Tunduk kepada thaghut, dan berbagai perkataan miring lainya yang tentunya Dakwah Salafiyyah sangat berlepas diri dari apa-apa yang mereka tuduhkan.

Kelompok tersebut adalah Kelompok yang berpemahaman dengan Khawarij dimana Puncak Permusuhan kelompok antek-antek Khawarij Modern kepada dakwah salafiyyah dengan mengkafirkan Ulama-Ulama Saudi Arabia dan Kerajaan Saudi Arabia, serta halal darahnya sampai pada pucuk pengeboman diberbagai wilayah Saudi Arabia hingga sekarang orang-orang berpemahaman seperti ini terus mucul untuk menteror kaum muslimin.

Sedangkan Islam adalah Agama yang sempurna sampai buang Hajat pun telah diatur, lalu apakah dalam hal kepemimpinan/kekuasaan Islam luput mengaturnya..?

Jawab:  Mustahil Islam luput mengaturnya. Lihatlah dalil –dalil dari Al Qur’an dan Hadits : Allah Ta’ala berfirman:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍْ ﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍْ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍْ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻭَﺃُﻭْﻟِﻲ ﺍﻷَﻣْﺮِ ﻣِﻨﻜُﻢْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (penguasa) di antara kalian.” (QS. An-Nisa`: 59)

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu ‘anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ﻭَﻣَﻦْ ﺑَﺎﻳَﻊَ ﺇِﻣَﺎﻣًﺎ ﻓَﺄَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺻَﻔْﻘَﺔَ ﻳَﺪِﻩِ ﻭَﺛَﻤَﺮَﺓَ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻓَﻠْﻴُﻄِﻌْﻪُ ﺇِﻥْ ﺍﺳْﺘَﻄَﺎﻉَ ﻓَﺈِﻥْ ﺟَﺎﺀَ ﺁﺧَﺮُ ﻳُﻨَﺎﺯِﻋُﻪُ ﻓَﺎﺿْﺮِﺑُﻮﺍ ﻋُﻨُﻖَ ﺍﻟْﺂﺧَﺮِ

“Dan barangsiapa yang berbaiat kepada seorang pemimpin (penguasa) lalu bersalaman dengannya (sebagai tanda baiat) dan  menyerahkan ketundukannya, maka hendaklah dia mematuhi pemimpin itu semampunya. Jika ada yang lain datang untuk mengganggu pemimpinya (memberontak), penggallah leher yang datang tersebut.” (HR. Muslim no. 1844)

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊُ ﻭَﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺃَﺣَﺐَّ ﻭَﻛَﺮِﻩَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳُﺆْﻣَﺮَ ﺑِﻤَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻓَﺈِﻥْ ﺃُﻣِﺮَ ﺑِﻤَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻓَﻠَﺎ ﺳَﻤْﻊَ ﻭَﻟَﺎ ﻃَﺎﻋَﺔَ

“Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa), baik pada sesuatu yang dia suka atau benci. Akan tetapi jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839)

Ali bin Abdillah Al-Madini rahimahullah Beliau berkata, “Tidak halal bagi seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk tinggal semalampun kecuali dalam keadaan dia mempunyai pimpinan, baik pimpinan itu saleh maupun jahat”

Sahl bin Abdillah At-Tasturi. Beliau pernah ditanya, “Kapan seseorang mengetahui kalau dirinya berada di atas
sunnah? Beliau menjawab, “Jika dia mengetahui kalau dalam dirinya adal 10 perkara.” Di antara yang beliau sebutkan
adalah, “Tidak meninggalkan shalat berjamaah di belakang setiap penguasa, penguasa yang curang maupun yang adil.
[Imam Al-Lalaka`i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah]

Perhatikan wahai orang-orangyang Terpengaruh Khawarij… Siapa yang kalian ikuti kalau sekiranya pendapat para Ulama Ahlussunnah Tidak kalian ta’ati bahkan kalian acuhkan dan kafirkan, sehingga tiada lagi panutan dalam diri-diri kalian sebagaimana nenek moyang kalian yakni KHAWARIJ Pada zaman ‘Ali Bin Abi Thalib, dimana kaum Khawarij berlepas diri dari kepemimpinan Ali dan mengkafirkan Ali Bin Abi Thalib sebagai Thaghut, kemudian mereka lari ke bukit-bukit untuk membuat makar dan satupun diantara kaum khawarij tidak ada para shahabat Nabi didalamnya, artinya mereka adalah orang- orang Juhala yang menentang pemerintahan Ali, sekarangpun demikian dari zaman para ulama salaf s.d zaman ini para ulama berlepas diri dari pemahaman Khawarij.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, lihatlah Khawarij pada zaman Ini.. mereka senantiasa membuat makar, mereka mengkafirkan kaum muslimin, menghalalkan darah kaum muslimin dan penguasanya. Sehingga Bom bunuh diri terhadap fasilitas-fasilitas negara adalah
suatu Jihad mereka yang bathil. Sedangkan setiap orang yang berdosa tidak semua kata kufur, dhalim, fasik atau penafian iman dalam nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah berarti kufur, dhalim atau fasik yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Sedangkan memberi kalimat Kufur pada individu adalah masalah yang berat dan kufur dibagi 2 : Diantaranya ada yang merupakan kufur amali dan ada yang
merupakan kufur i’tiqaadi. Di sinilah letak ketergelinciran kaum Khawarij.

Tentu panjang jika melihat pembahasan tentang Khawarij, namun dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, semoga yang sedikit ini menjadi bermanfaat bagi kita semua. Sebenarnya sangat banyak kepungan-kepungan firqah-firqah sesat dalam islam yang menyerang dakwah Salafiyyah, namun saya menyimpulkan selain kepungan-kepungan lain… memang ada 3 kepungan yang menjadi inti dari kepungan yang ada yakni :

1. Kepungan dalam Hal Aqidah pada bagian 1.
2. Kepungan dalam Hal Ibadah pada bagian 2.
3. Kepungan dalam Hal Mu’amalah pada bagian 3.

Musuh dakwah Salafiyyah memang tak henti-hentinya menabur benih permusuhan, Coba kita lihat saja di Indonesia ini kalau kita perhatikan dari nama-nama kelompoknya maka sebagai berikut :

1. Tradisional Mempunyai kepentingan dalam Aqidah dan Ibadah untuk menyerang Salafy.

2. Harakah Islam {Hizbut Tahrir,IM, dll) mempunyai Kepentingan dalam hal khilafah untuk menyerang Salafy.

3. Jama’ah Tabligh Mempunyai Kepentingan dalam Hal Khuruj untuk menyerang Salafy.

4. Syi’ah (jangan ditanya) agama ini sangat bengis terhadap Salafy, saya menyebutnya kelompok ini adalah suatu agama, bukan  kelompok dalam Islam sebagaimana Penjelasan para Ulama Salaf dan juga para Ulama Indonesia dari Fatwa MUI.

5. Dan berbagai macam firqah-firqah lainya yang sibuk membuat syubhat, menyerang, mengepung dakwah mubarakah ini lantaran dakwah ini adalah Dakwah Tashfiyah (pemurnian).

Maka tinggal bagaimana kitanya, mau diatur oleh Agama atau kita yang mengatur agama.
Wallahu ‘alam.

oOleh: Abu Usaamah Sufyan

2 thoughts on “Ketika Salafy Dikepung Dari Segala Penjuru…!!

  1. assalamu’alaikum… syukron ats penjelasannya.. tdk ad pertentangan antara qt,, hanya saja qt termasuk dari salah satu jama’ah (keharusan utk berjamaah) yang memiliki kecenderungan berdakwah dari sisi yang berbeda…namun tujuannya sama saja “Dan janganlah kamu termasuk orang yang menyekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (Arrum : 31-32)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s